Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Asam Folat, Dibutuhkan Baik oleh Ibu maupun Anak

Kecukupan terhadap kebutuhan asupan zat gizi sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama wanita tak terkecuali kebutuhan terhadap zat-zat mikronutrisi. Zat gizi tersebut diperlukan dalam tiap fase kehidupan wanita, terutama selama proses kehamilan maupun menyusui. Pada proses tersebut kebutuhan terhadap kecukupan gizi tidak hanya bermanfaat untuk kondisi ibu, melainkan juga untuk pertumbuhan dan perkembangan janin maupun anak yang dilahirkan. Adapun zat mikronutrisi yang diperlukan oleh ibu maupun anak tersebut adalah asam folat.

Apa manfaat dan seberapa banyak asupan asam folat yang kita butuhkan?

Asam folat berfungsi sebagai koenzim untuk transport karbon dari suatu komponen ke komponen lain pada metabolisme asam amino dan sintesis asam nukleat (Sudiarti dan Utari, 2013). Asam folat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan produksi sel-sel darah merah. Kebutuhan wanita hamil akan asam folat mengalami peningkatan sebanyak lima kali lipat daripada kebutuhan wanita tidak hamil (Farrer, 1999). Asam folat mempunyai peran yang sangat penting dalam pencegahan cacat bawaan pada anak. Kebutuhan asam folat berdasarkan AKG adalah sebesar 65µg/hr untuk bayi usia <6 bulan; 80µg/hr untuk anak usia 6-12 bulan; 150-299 µg/hr untuk balita; 400 µg/hr untuk dewasa laki-laki dan wanita. Sedangkan kebutuhan untuk ibu hamil maupun ibu menyusui turut meningkat dibandingkan dari kondisi biasanya, yakni menjadi 600 µg/hr dan 500 µg/hr (Sudiarti dan Utari, 2013).

Apa bahaya kekurangan asam folat?

Kurangnya asupan asam folat dapat meningkatkan risiko melahirkan anak dengan cacat bawaan berupa Neural Tube Defect (NTD) (WHO, 2015). Menurut Prof Dr dr Moch Istiadjid Eddy Santoso SpS SpBS, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Neural Tube Defect (NTD) adalah cacat bawaan yang timbul akibat tidak sempurnanya penutupan neural tube (tabung saraf) selama pertumbuhan embrional (Prasetya, 2007). Pada umumnya NTD disertai cacat bawaan lain dan tidak sempurnanya sistem organ, seperti paralisis kedua tungkai, disfungsi usus dan kandung kemih, ketidakmampuan belajar serta gangguan psikososial. Selain itu juga dapat menyebabkan gangguan pematangan inti eritrosit, sehingga muncul sel darah merah dengan bentuk dan ukuran abnormal yang disebut sebagai nemia megaloblastik (Darwanty dan Antini, 2012). Dengan mengonsumsi makanan kaya akan asam folat, maka akan berpengaruh juga terhadap tumbuh kembang anak dalam kandungan maupun kesehatan dan kecerdasan anak ketika ia tumbuh besar.

Asam folat yang diberikan sebelum terjadi kehamilan seringkali dikaitkan dengan penurunan risiko terjadinya kelainan kongenital, berupa Neural Tube Defect (NTD). Akan tetapi, pemberian setelah terjadinya kehamilan tidak banyak membantu karena pembentukan sistem persyarafan terjadi sekitar 8 minggu usia awal kehamilan. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa pemberian asam folat pada masa perikonsepsi (sebelum dan sesaat setelah terjadinya konsepsi) dapat menurunkan risiko terjadinya NTD sebesar 70 persen. Sementara itu, walaupun kaitan antara defisiensi asam folat dengan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan BBLR belum jelas, berbagai penelitian menunjukkan bahwa suplementasi asam folat dapat meningkatkan berat badan bayi dan usia gestasi (Achadi, 2013).

Bahan makanan yang kaya kandungan asam folat

Untuk memenuhi kebutuhan asupan asam folat tidaklah sulit, karena banyak bahan makanan di sekitar kita yang kaya akan kandungan asam folat, di antaranya adalah ragi, hati, ginjal, sayur-sayuran berwarna hijau, kembang kol dan brokoli. Dalam jumlah cukup juga terdapat dalam makanan yang terbuat dari susu, daging merah, ikan, dan sedikit dalam buah-buahan. Walaupun banyak bahan makanan yang mengandung folat, tetapi karena sifatnya tidak tahan panas dan larut dalam air, maka seringkali kandungan folat dalam bahan-bahan makanan tersebut rusak selama proses pemasakan. Dengan demikian, kita harus memperhatikan cara pengolahan bahan makanan yang akan kita konsumsi agar kandungan gizi di dalamnya tetap terjaga dan dapat memberi manfaat untuk tubuh.

Upaya dalam mengatasi defisiensi asam folat

Berdasarkan Permenkes RI No.88 Tahun 2014 untuk mengatasi defisensi folat, maka dilakukan pemberian tablet tambah darah pada Wanita Usia Subur (WUS) dan Ibu hamil dengan komposisi besi 60mg dan asam folat 0,400mg. Adanya penggabungan komposisi tablet tambah darah antara besi dan asam folat dilakukan sebagai salah satu upaya penting yang dilakukan pemerintah dalam upaya pencegahan dan penanggulangan anemia, baik akibat kekurangan asam folat maupun zat besi.

Daftar bacaan:
Achadi, Endang L. 2013. Gizi dan Kesehatan Masyarakat (Ed.Revisi) (Cet. Ke-8). Jakarta: Rajawali Press
CDC. 2015. “Folic Acid: Recommendation” diakses pada 15 Februari dari http://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/recommendations.html

Darwanty, Jundra dan Ari Antini. 2012. Kontribusi Asam Folat dan Kadar Haemoglobin pada Ibu Hamil Terhadap Pertumbuhan Otak Janin di Kabupaten Karawang tahun 2011. Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol. 3 (2), h. 82 – 90

Farrer, Helen. Perawatan maternitas. 1999. Alih bahasa Andry Hartono. Editor edisi bahasa Indonesia Yasmin Asih. Jakarta: EGC
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.88 Tahun 2014 Tentang Standar Tablet Tambah Darah Bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil
Prasetya. 2007. “Prof Istiadjid: Asam Folat untuk Mencegah Cacat Bawaan” diakses pada 15 Februari dari http://prasetya.ub.ac.id/berita/Prof-Istiadjid-Asam-Folat-untuk-Mencegah...
Sudiarti, Trini dan Diah Mulyawati Utari. 2013. Kecukupan Energi dan Zat Gizi dalam Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (Cetakan ke-8). Jakarta: Rajawali Press
WHO. 2015. “Fact sheet No. 370: Congenital anomalies Congenital anomalies” diakses pada 13 Februari dari http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs370/en/

Rini Septiani & Laily Hanifah