Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Sudahkah Kebutuhan Yodium Anda Tercukupi?

Kesehatan merupakan hak dasar manusia yang harus terpenuhi, di mana salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur derajat kesehatan adalah melalui aspek gizi. Undang-undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya pada Bab VIII tentang Gizi, pasal 141 ayat 1 menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat. Namun, pada kenyataanya masih ditemukan berbagai masalah mengenai kecukupan asupan zat gizi, baik mikronutrisi maupun makronutrisi pada masyarakat, terutama pada anak maupun wanita usia produktif.

Salah satu yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah terkait dengan kurangnya asupan mikronutrisi, berupa yodium, di mana kurangnya zat gizi tersebut dapat mengarah pada Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 diketahui bahwa mayoritas rumah tangga (RT) di Indonesia sudah mengonsumsi garam dengan kandungan cukup yodium (77,1 persen), sedangkan sisanya masih ditemukan rumah tangga yang kurang dalam mengonsumsi garam dengan kandungan yodium (14,8 persen), bahkan tidak mengonsumsi garam dengan kandungan yodium (8,1 persen). Hasil status yodium nasional sebesar 77,1 persen tersebut meningkat dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007 yang baru sebesar 62,3 persen. Namun, adanya peningkatan status yodium nasional di tahun 2013 masih belum dapat mencapai target Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beryodium untuk semua”, yakni minimal sebesar 90 persen RT yang mengonsumsi garam dengan kandungan cukup yodium.

Selain itu, dari hasil Riskesdas 2013 berdasarkan nilai ekskresi yodium dalam urin (EIU) juga diketahui bahwa anak umur 6–12 tahun berisiko kekurangan yodium 14,9 persen. Sedangkan, wanita usia subur (WUS) berusia 15-49 tahun, ibu hamil dan ibu menyusui masing-masing berisiko kekurangan yodium sebesar 22,1 persen, 24,3 persen, dan 24,9 persen. Kurangnya asupan yodium tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, tetapi umumnya kita hanya mengenal penyakit gondokan sebagai penyakit yang diidentikkan dengan kurangnya asupan yodium. Namun, sebenarnya dampak yang ditimbulkan dari kurangnya asupan yodium sangatlah luas, mulai dari keguguran, lahir mati, cacat bawaan, kretin, hingga hipotiroid, sehingga kurangnya asupan zat gizi tersebut dikenal dengan istilah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

Mengenal Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Lebih Lanjut

Yodium adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di air, merupakan zat gizi mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang dapat diakibatkan kekurangan yodium pada tumbuh kembang manusia secara terus menerus (Depkes, 2010). Adapun jumlah kebutuhan yodium setiap harinya untuk mencegah terjadinya defisiensi, tergantung dari umur dan kondisi fisiologi. Ibu hamil dan menyusui memerlukan jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. Angka kecukupan yodium setiap harinya sangatlah kecil, yaitu antara 90 µg-250 µg/hari tergantung dari kelompok umur dan kondisi fisiologisnya, seperti anak usia 0-59 bulan (90 µg/hari), anak usia 6-12 tahun (120 µg/hari), > 12 tahun dan dewasa (150 µg/hari), dan wanita hamil serta menyusui (250 µg/hari) (WHO, 2007).

Indikator yang paling sering digunakan untuk mengukur besarnya masalah GAKY di masyarakat adalah dengan perbesaran kelenjar tiroid, baik dengan palpasi maupun USG, kadar yodium dalam urin dan TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Indikator yang paling banyak digunakan adalah perbesaran kelenjar tiroid dengan metode palpasi karena metode ini merupakan metode yang paling murah dan cukup sensitif. Secara umum masalah yang dihadapi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni ringan, sedang, dan berat. Sebagai contoh dengan menggunakan indikator TGR, bila hasil suatu pengukuran menunjukan hasil < 5 persen, maka masalah yang dihadapi tergolong ringan. `Dengan demikian, semakin tinggi prevalensi GAKY maka semakin berat juga masalah yang dihadapi.

Adapun pengukuran status yodium penduduk yang dilakukan Riskedas 2013 adalah berdasarkan ekskresi iodium dalam urin (EIU), dan juga dilakukan pemeriksaan air sebagai salah satu sumber asupan yodium penduduk selain garam. Pengkategorian EIU dalam Riskesdas 2013, yakni risiko kekurangan (<100 μg/L), cukup (100-199 μg/L), lebih dari cukup (200-299 μg/L) dan risiko kelebihan (≥300 μg/L). Selain itu dilakukan konfirmasi di laboratorium dengan metode titrasi pada garam dari sub-sampel nasional.

Bahaya Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Secara fisik, GAKY dapat menyebabkan pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroid. Di samping itu, pada wanita hamil yang kekurangan yodium akan berisiko terjadi abortus, lahir mati, hingga cacat bawaan pada bayi, seperti gangguan perkembangan saraf, mental dan fisik yang disebut kretin. Semua gangguan tersebut dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya produktivitas kerja pada orang dewasa serta timbulnya berbagai masalah sosial ekonomi masyarakat, sehingga dapat menghambat pembangunan. Dari sejumlah 20 juta penduduk Indonesia yang menderita gondok diperkirakan dapat kehilangan 140 juta angka kecerdasan (IQ points). Dengan demikian, GAKY dapat berdampak besar terhadap kelangsungan hidup maupun kualitas sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek, yaitu aspek perkembangan kecerdasan, aspek perkembangan sosial dan aspek perkembangan ekonomi.

Penyebab Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Hal mendasar penyebab GAKY adalah kandungan yodium dalam tanah yang rendah dan kondisi ini bersifat menetap, karena tidak semua negara mempunyai sumber mineral yodium. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan di mana tanah, air serta tanaman/tumbuhan yang tumbuh di atasnya tidak mengandung unsur yodium. Akibatnya, penduduk yang bertempat tinggal di daerah tersebut akan berisiko mengalami kekurangan yodium. Indonesia merupakan salah satu wilayah yang beruntung mempunyai sumber yodium. Adapun ketidakcukupan asupan yodium dapat disebabkan juga oleh rendahnya kandungan yodium dalam bahan makanan dan atau rendahnya konsumsi garam beryodium.

Penyebab terpenting timbulnya masalah GAKY adalah rendahnya asupan yodium melalui makanan/minuman yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Penyakit ini biasanya terjadi di daerah pegunungan. Walaupun demikian, defisiensi yodium bukan satu-satunya penyebab terjadinya GAKY. Selain berasal dari yodium, GAKY juga dapat disebabkan oleh faktor genetik ataupun karena gangguan metabolisme fungsi tiroid.

Di mana Kita Bisa Mendapatkan Yodium?

Yodium dapat diperoleh dari berbagai jenis bahan makanan, baik bahan makanan nabati maupun hewani. Namun, kandungan yodium dalam bahan makanan sangat bervariasi. Sumber bahan makan yang berasal dari laut merupakan sumber yodium yang terbaik. Ikan yang berasal dari laut mengandung yodium hampir 30 kali lipat lebih besar dibandingkan ikan air tawar. Selain itu, sumber yodium yang berasal dari tanaman lebih banyak terdapat dalam sayuran daun dibandingkan dengan bagian umbi. Bahan makanan yodium dapat juga diperoleh dari garam yang telah difortifikasi dengan yodium.

Upaya Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Penanggulangan masalah GAKY dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa cara yang telah dilakukan antara lain, fortifikasi yodium pada garam, fortifikasi yodium pada air minum, suplementasi yodium pada hewan, suntikan minyak yodium, dan suplementasi kapsul yodium. Penggunaan masing-masing metode sangat bergantung pada tingkat masalah yang ada. Pada daerah dengan masalah GAKY ringan, iodisasi garam dan perbaikan ekonomi sudah mencukupi. Sementara itu, pada wilayah dengan masalah GAKY berat maka harus dilakukan suplementasi kapsul yodium. Adapun penanggulangan jangka panjang dapat dilakukan dengan peningkatan konsumsi garam beryodium, sedangkan penanggulangan jangka pendek dapat dilakukan dengan pemberian kaspsul minyak beryodium.

Daftar bacaan:

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Riset Kesehatan Dasar Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. 2013

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 2014. Rencana Aksi Nasional Kesinambungan Program Penanggulangan GAKY. Diakses pada 10 Februari 2016 dari http://kgm.bappenas.go.id/document/makalah/ 23_makalah.pdf

Kementerian Kesehatan RI. 2010. Glosarium Data & Informasi Kesehatan. Jakarta: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi

Pujonarti, Siti Arifah. 2013. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dalam Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (Cetakan ke-8). Jakarta: Rajawali Press

WHO. 2007. Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring Their Elimination (3rd ed). Geneva, Switzerland: WHO

Rini Septiani & Laily Hanifah