Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Vitamin A dan Zinc: Sedikit dibutuhkan tetapi penting untuk tubuh!

Anak-anak sangat rentan terhadap berbagai penyakit yang ada di masyarakat. Menurut WHO (2016) sebanyak 5.9 juta anak-anak usia di bawah 5 tahun meninggal dunia di tahun 2015, dimana lebih dari separuh kematian anak yang terjadi terjadi karena kondisi yang dapat dicegah dan diobati dengan mudah. Terdapat beberapa jenis penyakit yang menyebabkan kesakitan maupun kematian pada anak. WHO (2016) menyebutkan bahwa penyebab utama kematian pada anak usia di bawah 5 tahun adalah komplikasi dari kelahiran prematur, pneumonia, asfiksia, diare dan malaria. Di Indonesia pun kesakitan dan kematian anak masih merupakan masalah. Sekitar 150.000 anak di Indonesia meninggal pada tahun 2012. Berdasarkan UNICEF (2013) penemonia dan diare masih menjadi masalah yang sama terhadap kesakitan maupun kematian anak di Indonesia.

Bagaimana dengan asupan vitamin A dan Zinc di Indonesia?

Salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kesakitan maupun kematian anak akibat kedua penyakit tersebut adalah kurangnya asupan zat gizi. Padahal kecukupan asupan zat gizi sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan peningkatan imunitas dalam melawan agen penyebab penyakit. Defisiensi mikronutrien merupakan permasalahan yang serius terhadap kesakitan maupun kematian anak-anak. Zat mikronutrien sangat dibutuhkan oleh tubuh walaupun dalam jumlah yang sedikit. Umumnya zat gizi ini dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari, seperti sayuran hijau maupun buah-buahan. Terdapat beberapa zat mikronutrien yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kesehatan, terutama pada anak, seperti vitamin A dan Zinc. Namun, konsumsi makanan yang mengandung kedua mikronutrien tersebut di Indonesia tergolong masih rendah. Berdasarkan data SDKI 2012 diketahui bahwa hanya 61 persen anak pada kelompok usia 6-59 bulan yang menerima suplementasi vitamin A pada 6 bulan terakhir sebelum survei tersebut dilakukan. Sedangkan prevalensi defisiensi Zinc pada ada anak di Indonesia secara nasional masih belum dapat diketahui. Padahal asupan gizi yang kurang merupakan risiko untuk kejadian dan kematian balita dengan infeksi saluran pernapasan.

Manfaat vitamin A dan Zinc

Vitamin A berfungsi dalam proses penglihatan, pertumbuhan dan pemberian kekebalan sehingga dapat menekan kesakitan dan kematian pada anak (termasuk mencegah anak menderita gizi buruk dan busung lapar). Peran vitamin A dalam kaitannya dengan kekebalan tubuh anak adalah dapat menjaga integritas sel sehingga dapat mencegah terjadinya invasi sel patogen (mencegah infeksi penyakit) (Aritonang & Priharsiwi., 2006). Defisiensi vitamin A dapat meningkatkan keparahan dari infeksi seperti campak dan diare pada anak dan memperlambat proses penyembuhan dari penyakit tersebut. Pada beberapa kasus, defisiensi vitamin A dapat menyebabkan kerusakan mata. Pemberian suplemen vitamin A pada anak tiap 6 bulan merupakan salah satu metode untuk melindungi anak dari defisiensi vitamin A yang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas dan melindungi saluran pernapasan dari infeksi kuman. Oleh karena itu, pemberian vitamin A yang adekuat dapat menjadikan anak cepat sembuh apabila menderita diare dan ISPA karena retinol dalam vitamin A berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B, yaitu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan humoral (Bahiyatun, 2009).

Zinc merupakan zat gizi esensial yang memegang peran penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi respons imun terhadap berbagai penyakit infeksi seperti malaria, diare, dan infeksi saluran napas. World Health Organization (WHO) merekomendasikan Zinc dalam tata laksana diare anak karena suplementasi Zinc terbukti bermanfaat mengurangi durasi dan keparahan episode diare akut dan persisten pada anak dengan memperbaiki kondisi usus saat diare. Defisiensi Zinc dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan, berat bayi lahir rendah, imunitas menurun, sering dan lamanya diare pada anak balita, serta pada tingkat berat dapat mengakibatkan cacat bawaan (neuro behavior) (Herman, 2009). Suplementasi Zinc juga dianggap penting untuk bayi dan anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia) dan terbukti bermanfaat untuk penyembuhan luka bakar. Beberapa penelitian menemukan bahwa suplementasi Zinc selama 6 bulan memberikan dampak yang bermakna terhadap tinggi badan dan berat badan (Agustian, et.al., 2009).
Mengingat pentingnya asupan zat gizi mikronutrisi, seperti vitamin A dan Zinc untuk pertumbuhan maupun perkembangan anak, maka pemenuhan mikronutrisi tersebut harus terpenuhi. Pemenuhan mikronutrisi tersebut dapat terpenuhi dengan mudah melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Vitamin A atau retinol merupakan substansi yang terdapat dalam hati (terutama hati ikan), kuning telur dan produk susu. Vitamin ini termasuk jenis vitamin yang larut dalam lemak. Sedangkan Zinc pada manusia diperoleh hanya dari makanan. Sumber utama Zinc dalam makanan adalah produk hewani dan makanan laut (sea food). Dalam konsumsi makanan mengandung Zinc harus mempertimbangkan konsumsi mikronutrisi lain, karena Zinc mengganggu penyerapan mikronutrisi lain jika dikonsumsi bersamaan, maka sebaiknya Zinc dikonsumsi terpisah dengan mikronutrisi lainnya agar dapat terserap optimal.

Daftar Bacaan:

Agustian, L.,Tiangsa S., dan Ani A. Peran Zinkum terhadap pertumbuhan anak. Sari Pediatri, vol. 11 (4), h. 244-249

Aritonang, I. dan Priharsiwi, E. 2006. Busung Lapar. Yogyakarta: Media Pressindo
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC

Herman, S. 2009. Review on the problem of zinc deficiency, program prevention and its prospect. Media Penelit. dan Pengembang. Kesehat. Vol. XIX, h. 575-583

Kemenkes RI. 2010. Buletin Pneumonia. Jakarta: Kemenkes

Statistics Indonesia (Badan Pusat Statistik—BPS), National Population and Family Planning Board (BKKBN), and Kementerian Kesehatan (Kemenkes—MOH), and ICF International. 2013. Indonesia Demographic and Health Survey 2012. Jakarta, Indonesia: BPS, BKKBN, Kemenkes, and ICF International.
UNICEF. 2013. “Sekitar 35 juta balita masih beresiko jika target angka kematian anak tidak tercapai” Diakses pada 29 Januari 2016 dari http://www.unicef.org/indonesia/id/media_21393.html

WHO. 2016. “Children: reducing mortality” Diakses pada 29 Januari 2016 dari http://www.who.int/entity/mediacentre/factsheets/fs178/en/

Rini Septiani & Laily Hanifah