Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Anemia: Ancaman terhadap Keberhasilan Pembangunan di Indonesia

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan di suatu negara dapat dilihat melalui nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan akumulasi dari nilai indeks kesehatan, pendidikan dan daya beli yang menunjukkan kualitas hidup masyarakat di suatu negara. IPM Indonesia pada tahun 2014, menempati peringkat ke 110 dari 187 negara dengan nilai indeks 0,684, namun posisi Indonesia jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, yang berada pada peringkat ke-62. Adapun salah satu ujung tombak dalam pembangunan di Indonesia adalah generasi muda, terutama para remaja yang jumlahnya terus meningkat, memiliki peran besar dalam peningkatan IPM Indonesia. Akan tetapi, untuk mencapai hal tersebut, para remaja terus dibayang-bayangi oleh ancaman kesehatan, yakni anemia, yang masih menjadi masalah di Indonesia.

Anemia, masalah yang menghantui generasi muda Indonesia
Menurut WHO, prevalensi anemia di dunia pada tahun 2005 ada sebanyak 24,8 persen dari total penduduk dunia, di mana prevalensi anemia pada remaja putri di Asia Tenggara sekitar 25-40 persen yang bervariasi dari anemia tingkat ringan hingga berat. Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi anemia pada remaja sebesar 21,7 persen. Asupan gizi sangat berkaitan dengan kejadian anemia pada remaja, namun hanya sedikit sekali informasi yang diketahui mengenai asupan pangan remaja. Meskipun asupan kalori dan protein telah tercukupi, tetapi elemen lain seperti besi, kalsium, dan beberapa vitamin ternyata masih kurang. Survei terhadap mahasiswi kedokteran di Perancis, misalnya membuktikan bahwa 16% mahasiswi kehabisan cadangan besi, sementara 75% menderita kekurangan.

Apa penyebab anemia?
Anemia merupakan suatu keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah (Hb) tidak mencukupi untuk kebutuhan fisiologis tubuh. Defisiensi zat besi (Fe) berperan besar dalam terjadinya anemia, di mana hal tersebut menjadi penyebab utama anemia gizi yang umum terjadi di dunia. Namun, penyebab anemia lainnya dapat berupa infeksi kronik, khususnya malaria maupun kecacingan dan defisiensi asam folat. Negara yang memiliki prevalensi anemia lebih besar dari 20 persen, umumnya disebabkan oleh defisiensi zat besi atau kombinasi defisiensi Fe dengan kondisi lainnya, seperti status sosio-ekonomi. Selain itu, anemia defisiensi zat besi yang terjadi pada remaja dapat berupa kelanjutan dari masalah gizi yang dialami ketika masa anak-anak.

Di samping itu, pertumbuhan fisik menyebabkan remaja membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar daripada masa anak-anak. Di tambah lagi pada masa ini, remaja sangat aktif dengan berbagai kegiatan, baik itu kegiatan sekolah maupun olahraga. Kebutuhan zat besi pada remaja laki-laki meningkat karena ekspansi volume darah dan peningkatan konsentrasi hemoglobin (Hb). Setelah dewasa, kebutuhan zat besi menurun. Pada perempuan, kebutuhan yang tinggi terhadap zat besi disebabkan oleh hilangnya zat besi selama menstruasi, di mana setiap bulan, terjadi kehilangan zat besi sekitar 1,3 mg per hari. Hal ini mengakibatkan perempuan lebih rawan terhadap anemia zat besi dibandingkan laki-laki. Selain itu, remaja putri juga lebih mudah terserang anemia karena:
a. Pada umumnya lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani, sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi.
b. Remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasi asupan makanan.
c. Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diekskresi, khususnya melalui feses.

Di sisi lain, genetik juga berperan dalam terjadinya anemia, terjadinya mutasi pada gen TMPRSS6 menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi yang resisten zat besi atau dikenal dengan Iron-Refractory Iron Deficiency Anemia (IRIDA). Gen tersebut seharusnya menyediakan instruksi dalam pembuatan protein matriptase-2, di mana protein tersebut memiliki peran penting dalam mengatur hepcidin yang menjadi kunci dalam homeostasis zat besi dalam tubuh. Namun, karena adanya mutasi pada gen tersebut maka berdampak pada keberadaan matriptase-2 dan besi dalam darah. IRIDA tersebut merupakan kelainan yang diturunkan, di mana kelainan yang terjadi berupa lemahnya sistem keseimbangan besi, baik dalam proses penyerapan maupun pemanfaatan besi dalam tubuh.

Dampak anemia terhadap generasi muda Indonesia
Dampak negatif kekurangan mineral sering kali tidak terlihat sebelum mereka mencapai usia dewasa. Akibat yang ditimbulkan oleh anemia adalah penurunan performa kerja pada saat usia dewasa. Perempuan penderita anemia kurang produktif bekerja dibandingkan dengan perempuan yang tidak anemia, karena perempuan penderita anemia mengalami penurunan kapasitas transportasi oksigen dan terganggunya fungsi otot yang dikaitkan dengan defisit zat besi. Di samping itu, pada remaja putri anemia akan mengakibatkan terhambatnya perkembangan motorik, mental dan kecerdasan, menurunnya prestasi belajar dan tingkat kebugaran, tidak tercapainya tinggi badan maksimal, kontribusi negatif pada masa kehamilan kelak, yang menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kesakitan dan kematian pada ibu dan anak.

Anemia dapat dicegah dan diobati!
Anemia defisiensi zat besi dapat dicegah dengan memelihara keseimbangan antara asupan zat besi dengan kebutuhan dan kehilangan zat besi. Jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan ini bervariasi antara satu perempuan dengan perempuan lainnya, tergantung pada riwayat reproduksi dan jumlah kehilangan darah selama menstruasi. Peningkatan konsumsi zat besi untuk memenuhi kebutuhan zat besi dilakukan melalui peningkatan konsumsi makanan yang mengandung heme iron, bersifat mempercepat (enhancer) non-heme iron, dan meminimalkan konsumsi makanan yang mengandung penghambat absorpsi zat besi (inhibitor). Jika dibutuhkan, zat besi tidak cukup terpenuhi dari diet makanan, dapat ditambahkan dengan suplemen zat besi terutama bagi ibu hamil dan masa nifas.

Suplementasi zat besi adalah salah satu strategi untuk meningkatkan intake zat besi, di mana hal tersebut dapat berhasil jika individu mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor yang mendukung rendahnya tingkat kepatuhan (compliance) tersebut, seperti individu sulit mengingat aturan minum tiap hari, membeli suplemen secara teratur dan efek samping yang tidak nyaman dari zat besi, contohnya gangguan lambung. Bentuk strategi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan adalah melalui pendidikan tentang pentingnya suplementasi zat besi dan efek samping minum za besi. Di sisi lain, pendidikan mengenai cara makan yang sehat maupun pemenuhan asupan gizi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan maupun perkembangan perempuan dalam setiap daur hidupnya sangat perlu dilakukan.

Fortifikasi produk-produk sereal juga merupakan salah satu strategi pengingkatan konsumsi zat besi di masyarakat yang relatif tidak menelan biaya besar. Di Amerika Serikat, fortifikasi tepung terigu dengan zat besi berkonstribusi cukup tinggi terhadap asupan 19 persen dan 14 persen zat besi. Di samping itu, skrining juga diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok perempuan yang harus diobati dalam mengurangi morbiditas anemia. CDC menyarankan bahwa hal tersebut dilakukan pada remaja putrid dan perempuan dewasa yang tidak hamil tiap 5-10 tahun melalui uji kesehatan, walaupun tidak ada faktor risiko anemia yang ditemui. Namun, jika disertai dengan adanya faktor risiko anemia, maka skrining harus dilakukan tiap tahun.
Dalam pengobatan anemia, penderita anemia harus mengonsumsi 60-120 mg Fe per hari dan meningkatkan asupan makanan sumber zat besi. Selanjutnya dilakukan screening ulang, di mana jika hasil yang ditunjukkan adanya peningkatan konsentrasi Hb minimal 1g/dl atau hematokrit minimal 3 persen, maka pengobatan harus dilanjutkan hingga tiga bulan. Selain itu, treatment yang dapat dilakukan dalam mengatasi IRIDA saat ini adalah melalui pemberian besi secara suntik, karena pemberian terapi besi secara oral tidak memberikan respon terhadap pasien IRIDA.

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa penyebab anemia tidak hanya mengenai masalah perilaku konsumsi, kondisi tubuh, ataupun infeksi penyakit saja, melainkan genetik juga turut berperan melalui mutasi yang terjadi pada gen TMPRSS6. Walaupun demikian, kita harus memperhatikan berbagai faktor risiko anemia yang ada di sekeliling remaja untuk dilakukan intervensi dan mengkampanyekan upaya pencegahan anemia. Dengan demikian, kita dapat menyelamatkan generasi muda bangsa yang sehat dan produktif, sehingga dapat melanjutkan pembangunan Indonesia.

Daftar bacaan:
Arisman. (2010). Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi (Ed.2). Jakarta: EGC

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM-UI. (2013). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rajawali Press

Heeney, M.M., dan Karin E. F. (2014). Iron-Refractory Iron Deficiency Anemia (IRIDA). Hematol Oncol Clin N Am tersedia di http://dx.doi.org/10.1016/j.hoc.2014.04.009

Falco, L.D., et al. (2013). Iron Refractory Iron Deficiency Anemia. haematologica, 98(6): 845

Sandoval, C., Somasundaram J., Alvin N. E. (2004). Trends in Diagnosis and Management of Iron Deficiency During Infancy and Early Childhood. Hematol Oncol Clin N Am, 18: 1423– 1438

Rini Septiani & Laily Hanifah