Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Stunting (Pendek) di Indonesia: Masihkah Merupakan Masalah?

Seorang anak dikatakan stunting atau pendek apabila tingginya berada di bawah -2SD dari standar WHO. (Trihono, et.al, 2015). Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia dengan jumlah anak pendek terbanyak. Prevalensi pendek di Indonesia tahun 2013 adalah 37,2% yang berarti dari seluruh anak di Indonesia, sepertiganya pendek. Hal itu sangat memprihatinkan, karena apabila terlahir pendek dan tidak dilakukan perbaikan gizi sama sekali maka sampai besar akan pendek. Dari anak yang dilahirkan tidak pendek pun, apabila tidak diberikan asupan gizi adekuat, maka bisa menjadi pendek. Hal itu terlihat dari studi kohort tumbuh kembang di Bogor yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI (Balitbangkes RI) pada tahun 2010-2013 pada 220 ibu hamil dan anak yang dilahirkannya (Aryastami, 2015). Dari hasil pengukuran pada anak saat mereka berusia 6 bulan, ditemukan 22,4% dari mereka pendek. Tanpa dilakukan intervensi apapun, satu tahun kemudian seluruh anak itu diukur kembali tinggi badannya dan prevalensi pendek meningkat menjadi 27,3%, saat usia 2 tahun meningkat menjadi 36,1% serta menjadi 40,9% pada usia 3 tahun.

Apakah bahaya dari anak pendek?
Anak pendek berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan menurun dan pendapatan rendah sebagai orang dewasa. Anak pendek menghadapi kemungkinan lebih besar untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang pendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Oleh karena itulah, anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa di masa mendatang. Pendek terjadi karena dampak kekurangan gizi kronis selama 1000 hari pertama kehidupan anak. Kerusakan yang terjadi mengakibatkan perkembangan yang tidak bisa diubah (irreversible) jika telah melewati 1000 hari pertama. Dengan demikian, dengan menjamin kecukupan gizi selama 1000 hari pertama, diharapkan pendek dapat dicegah.

Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Menentukan Kelangsungan Hidup Bagi Anak
Mengapa 1000 hari pertama? Seribu hari pertama yang sudah dimulai sejak hamil sampai anak berusia 2 tahun merupakan masa emas dan kritis pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama perkembangan otak. Dengan demikian, apabila masa emas ini terlewatkan, maka sulit untuk mencegah pendek yang terbawa sampai dewasa. Dalam pengaturan asupan zat gizi, sejak konsepsi sampai dengan 20 minggu pertama kehamilan yang dibutuhkan adalah gizi mikro dan protein yang terdiri dari asam folat, zat besi, kalsium, vitamin D, kolin, DHA dan yodium. Sedangkan di atas 20 minggu kehamilan sampai dengan melahirkan dibutuhkan gizi makro (energi/kalori) untuk membangun berat badan potensial.
Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Dalam studi kohort Balitbangkes RI ditemukan bahwa asupan energi pada ibu hamil usia di bawah 20 tahun, saat trimester pertama sebesar 87,5%, trimester kedua 51,8% dan trimester ketiga 47,5%. Angka yang ditemukan itu membuktikan bahwa ternyata ibu hamil justru lebih banyak mengonsumsi gizi makro pada trimester awal kehamilannya. Padahal, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, trimester awal kehamilan sebenarnya lebih membutuhkan asupan mikronutrien dan protein, bukan makronutrien atau karbohidrat. Tiga bulan pertama kehamilan seharusnya tidak terlalu banyak makan karbohidrat tapi lebih mementingkan vitamin, mineral dan protein untuk kepentingan pertumbuhan otak janin yang sebenarnya berjalan sampai trimester 3 (hamil bulan keenam sampai kesembilan). Rencana intervensi asupan gizi harus mengerti metabolisme tubuh bumil dan janin dalam kandungan. Dengan demikian, kenaikan berat badan yang signifikan di awal kehamilan sebenarnya tidak dianjurkan. Namun sepanjang hamil, seorang ibu dengan kurang energi kronis (indeks massa tubuh <18,5) diharapkan mengalami kenaikan berat badan sebanyak 12,5kg untuk mencegah melahirkan bayi pendek Achadi, 2015). Karena salah satu penyebab pendek adalah pertambahan berat badan ibu selama hamil yang masih di bawah standar. Dengan demikian, sangat jelas bahwa kondisi ibu selama hamil sangat berpengaruh pada pertumbuhan janin yang dikandung, yang pada gilirannya mempengaruhi panjang badan bayi yang dilahirkan kelak. Setelah dilahirkan, perbaikan pola makan bayi pendek dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan (Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemkes RI, 2015).

Daftar bacaan:

Achadi, Endang L. 2015. Pembahasan Kajian Kebijakan Pencegahan Stunting. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 8 Desember 2015

Aryastami, K. 2015. Kajian Kebijakan Pencegahan Stunting. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 8 Desember 2015

Ditjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI. 2015 Update Kebijakan Perbaikan Gizi dalam Penanggulangan Masalah Stunting di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 8 Desember 2015

Trihono, Atmarita, Dwi Hapsari Tjandrarini, Anies Irawati, Nur Handayani Utami, Teti Tejayanti, Iin Nurlinawati. 2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Jakarta: Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 2015

Laily Hanifah, M.Kes