Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Kini Tak Perlu Khawatir Untuk Deteksi Dini Kanker Serviks!

Deteksi dini kanker serviks perlu dikampanyekan karena penyakit tersebut menjadi pembunuh utama bagi perempuan. Yayasan kanker Indonesia menyebutkan bahwa pada tahun 2012, terdapat 41 kasus kanker serviks baru di Indonesia tiap harinya. Sekitar 73 persen kasus kanker serviks tersebut berada di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam fase yang sudah lanjut. Sedangkan berdasarkan hasil Riskesdas 2013, diketahui bahwa kanker serviks sebanyak 455 kasus (35%) menempati urutan kedua kejadian kanker tertinggi di Indonesia setelah kanker payudara 594 kasus (46,6%) dibandingkan dengan kanker jenis lainnya. Kesadaran perempuan untuk melakukan inspeksi visual dengan asam asetat dan pap smear sebagai metode deteksi dini kanker leher rahim atau serviks masih rendah. Padahal, pembiayaan upaya deteksi tersebut telah ditanggung dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma Buana, Adi Sasongko, rendahnya pengetahuan masyarakat, termasuk kelompok terdidik dan ekonomi menengah atas, dipicu oleh kurang masifnya kampanye mengenai kanker serviks dan pencegahannya. Selain itu, ketakutan menghadapi penyakit tersebut sering kali membuat perempuan yang paham pentingnya deteksi dini, tidak melakukan pemeriksaan. Padahal, kanker serviks dapat dicegah melalui deteksi dini dan vaksin.

IVA dan “Pap smear” Ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional

Faktor biaya deteksi dini seharusnya tidak lagi menjadi masalah, karena pembiayaan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) dan pap smear telah ditanggung JKN. Tarif IVA sekitar puluhan ribu rupiah dan pap smear antara puluhan ribu dan ratusan ribu rupiah. Adapun cakupan pembiayaan yang ditanggung JKN tersebut meliputi tindakan lanjutan krioterapi, jika ditemukan lesi pertanda prakanker. Saat masih berupa lesi prakanker, tindakan bisa dengan operasi tanpa merusak rahim. Namun, jika telah memasuki fase kanker stadium amat awal sekalipun, maka tindakan yang dilakukan biasanya dapat merusak rahim. Upaya deteksi dini sebaiknya dilakukan setahun sekali, karena kanker serviks merupakan penyakit yang tidak muncul tiba-tiba, tetapi terjadi secara bertahap. Deteksi dini kanker serviks melalui IVA bisa dilakukan oleh bidan dengan menyemprotkan asam asetat dengan kadar 3-5 persen ke organ genitalia perempuan. Jika muncul warna putih di mulut rahim, maka hal tersebut adalah lesi yang menunjukkan perubahan sifat sel di leher rahim akibat terinfeksi Human Papilloma Virus (HPV) atau ada dysplasia (pertumbuhan sel tak normal). Sementara itu, pap smear yang hasilnya lebih akurat dilakukan dengan mengambil sampel dari mulut rahim menggunakan alat khusus. Oleh karenanya, pap smear hanya dilakukan pada perempuan yang sudah berhubungan seksual atau menikah. Selain itu, tindakan pencegahan kanker serviks lainnya adalah melalui vaksinasi HPV. Vaksinasi tersebut hanya dapat melindungi 90 persen dari kanker serviks, karena perlindungan tersebut baru mampu melindungi dari virus HPV serotipe tertentu. Oleh karena itu, vaksinasi harus dilengkapi dengan deteksi dini. Secara umum, biaya deteksi dini dan vaksinasi kanker serviks tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan upaya pengobatan yang dilakukan jika terkena kanker serviks.