Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Exposure Zat Kimia Berbahaya dalam Pembalut

Produk perawatan area kewanitaan yang paling popular digunakan wanita di Amerika adalah tampon dan pembalut dengan persentase sebesar 70-85%. Sedangkan di Indonesia, setiap bulan, diperkirakan 1,4 miliar pembalut digunakan oleh para perempuan. Berdasarkan hasil riset YLKI, diketahui terdapat 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner yang mengandung zat kimia berbahaya yaitu klorin dengan rentang 5-55ppm. Penelitian serupa pernah dilakukan di tahun 2002 di Amerika terkait dengan paparan dioxin pada empat produk tampon di pasaran dan diperkirakan bahwa estimasi dari paparan zat kimia berbahaya tersebut tidak sebanding dengan paparan yang berasal dari makanan ataupun sumber lainnya. Selain itu, belum ada penelitian yang menunjukkan penyebaran dioxin pada tampon secara in vivo, tetapi tiap menit paparan dioxin dapat terakumulasi dalam tubuh dengan adanya potensi efek akumulasi dari zat tersebut.

Dioxin Dalam Pembalut

Adapun yang dimaksud dioxin adalah sebuah hasil sampingan dari penggunaan klorin pada proses Bleaching (pemutihan) yang digunakan oleh pabrik kertas, termasuk pabrik pembalut wanita, tissue, sanitary pad dan diaper (pembalut/popok untuk anak-anak). Dioxin adalah salah satu dari ratusan zat kimia berbahaya dan beracun yang larut dalam lemak dan sangat stabil di lingkungan, sehingga bakteri di alam pun tidak dapat menguraikannya. Dalam berbagai penelitian pada hewan uji, senyawa dioksin bersifat racun. Dampaknya beragam, termasuk pada sistem reproduksi dan risiko kanker. Dioksin sangat jarang terdapat di alam, sebagian besar dioksin bersumber dari aktivitas manusia, seperti hasil dari pembakaran sampah, hasil samping produk pestisida dan pembakaran dari proses produksi baja. Menurut dr. Wresti Indriatmi, SpKK dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), apabila tubuh terpapar klorin dalam waktu lama, maka risiko yang paling umum adalah iritasi. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pembalut yang digunakan dengan iritasi maupun rash pada area kewanitaan. Dalam satu studi kasus yang telah dilakukan diketahui bahwa pewangi pada pembalut merupakan agen penyebab terjadinya rash pada area kewanitaan. Selain itu, produk pembalut wanita tertentu juga menyebabkan rasa terbakar dan gatal pada area kewanitaan. Oleh karena itu, untuk mengatasi iritasi maupun rash pada area kewanitaan adalah dengan mengganti merek produk yang digunakan dan beralih pada pembalut yang tidak menggunakan pewangi.

Paparan Zat Kimia Berbahaya dan Dampaknya Pada Organ Reproduksi

Jika iritasi yang terjadi akibat penggunaan pembalut yang mengandung zat kimia berbahaya terus dibiarkan maka hal tersebut dapat menjadi luka infeksi, di mana luka kecil pada vagina dapat menjadi pintu masuk ke dalam tubuh yang cepat atau lambat akan menimbulkan dampak negatif. Hal tersebut dapat merugikan jika terdapat eksposur dari zat kimia berbahaya yang akan sangat cepat diserap dan beredar ke seluruh tubuh, karena dinding vagina dipenuhi oleh banyak pembuluh darah maupun pembuluh limfa sehingga memungkinkan untuk mentransfer secara langsung zat kimia ke dalam sistem sirkulasi tubuh. Selain itu, menurut dr. M. Nurhadi Rahman, SpOG, dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dalam jangka panjang dampak paparan klorin yang terkandung dalam pembalut dapat memicu pertumbuhan tidak normal dari jaringan tubuh dalam perut maupun organ reproduksi, termasuk memicu pertumbuhan sel tidak normal pada tubuh. Akan tetapi, pada penelitian yang dilakukan Rachmani pada tahun 2014, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan pembalut dengan kejadian kanker leher Rahim di RSUD Kabupaten Sukoharjo. Namun, menurut dr. Wresti, penggunaan klorin dalam jangka penjang yang dapat memicu kanker. Dengan adanya perbedaan tersebut, maka dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai paparan dioxin terhadap kejadian kanker.

Benarkah Pembalut Yang Beredar Saat Ini Tidak Berbahaya dan
Tersertifikasi?

Menurut Dra Maura Linda Sitanggang, Apt, Ph.D, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, klorin tidak berbahaya jika ditemukan dalam jumlah sedikit, dan hanya beracun jika termakan atau terminum. Adapun pembalut yang saat ini beredar di masyarakat adalah pembalut yang aman digunakan, di mana mengenai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No. 472/1996 terkait dengan pelarangan penggunaan klorin karena bersifat racun dan iritan adalah untuk melarang penggunaan klorin dalam pembuatan obat maupun makanan. Sayangnya, SNI (Standar Nasional Ijndonesia) belum mengatur mengenai keharusan produk-produk tersebut untuk bebas klorin. Oleh karena itu Badan standarisasi Nasional (BSN) akan mengkaji ulang SNI tentang pembalut wanita. Menurut Kepala BSN, Bambang Prasetya, keluarnya standar harus memenuhi empat aspek, yaitu keamanan, keselamatan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. Penyusunan SNI pembalut wanita tahun 2000 mengacu pada standar yang dikeluarkan Jepang pada 24 Mei Tahun 1966, yakni Guide to Quasi Drug and Cosmetic Regulation in Japan, Standard for sanitary napkins dan MHW Notification No.285. Selain itu juga memenuhi peraturan menteri kesehatan Nomor 96/Menkes/Per/VI/1997 tentang Wadah, Pembungkus, Penandaan, serta Periklanan Kosmetika dan Alat Kesehatan. Adapun persyaratan yang diatur SNI 16-6363-2000, meliputi persyaratan bahan kapas serap, kertas serap, katun serat rayon, katun olahan, karboksimetilselulosa, pulpa jonjot, dan kasa. Produksinya harus bersih, tidak mengandung kotoran dan zat asing, tidak menyebakan iritasi atau efek lain yang membahayakan, tidak melepaskan serabut waktu digunakan, tidak berbau, serta lembut. Di samping itu, warna harus putih, kecuali sebagai tanda atau identitas pada sisi yang tak bersentuhan tubuh. Selain itu, keasaman atau kebasaan harus netral terhadap fenolftalein dan metal. Produk tidak berfluoresensi yang menunjukkan ada kontaminasi di sisi yang bersentuhan dengan tubuh. Daya serap tak kurang dari 10 kali bobot pembalut, tak mudah rembes, dan mudah sobek. Negara lain yang juga memiliki standar pembalut wanita, antara lain India dan Amerika. Dalam panduan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) mengenai tampon dan pembalut menstruasi, merekomendasikan agar tampon bebas dari 2,3,7,8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin (TCDD) atau 2,3,7.8-tetrachlorofuran dioxin (TCDF) dan residu pestisida serta herbsida lain. Saat ini di Amerika, ada dua metode yang dipakai untuk memurnikan bubur kayu sebagai bahan pembalut, yakni elemental chlorine-free merupakan pengolahan yang tidak menggunakan gas klorin dan totally chlorine-free bleaching merupakan pengolahan yang menggunakan agen putih selain klorin. Pada metode elemental chlorine-free, secara teori tetap memungkinkan adanya kandungan dioxin (klorin) dalam jumlah yang sangat rendah, sehingga sering kali disebut sebagai dioxin free. Dengan demikian, di Amerika masih terdapat pembalut dengan kandungan dioxin,namun kadarnya sangatlah rendah dan ambang batasnya masih bisa ditoleransi, yakni antara 0,1-1 bagian per triliun. Adapun tips dari dokter kandungan, dr Ifzal Asril, SpOG, mengenai penggunaan pembalut secara aman dan sehat, yang terpenting adalah pembalut yang mudah menyerap. Selain itu, sering mengganti pembalut pada saat datang bulan, dimana uumnya wanita mengganti pembalut hingga 2-3 kali dalam sehari.

Rini Septiani, SKM