Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Remaja dan Akses Informasi Terhadap Kesehatan Reproduksi

Kesehatan reproduksi tidak terlalu dikenal oleh masyarakat umum. Banyak yang beranggapan bahwa memberikan pendidikan kesehatan reproduksi sama saja seperti memberikan pendidikan seks, yaitu mengajarkan anak untuk tahu mengnai bagaimana melakukan seks. Padahal tidak seperti itu. Kesehatan reproduksi sendiri didefinisikan sebagai keadaan sehat secara fisik, mental, sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi, sehingga benar-benar jelas bahwa memberi informasi tentang kesehatan reproduksi tidak melulu soal seks.

Masih Sedikit Yang Mengenal Informasi Kesehatan Reproduksi

Berdasarkan riset di beberapa wilayah Indonesia (Jakarta, Yogyakarta dan Jawa Timur) diketahui bahwa informasi seksualitas yang kredibel dan ramah remaja mengenai narkoba, infeksi menular seksual, kekerasan saat pacaran, perundungan dan keragaman seksual sulit ditemukan. Hal tersebut juga diperkuat oleh persentase jumlah total penduduk yang bisa mengakses informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas di Indonesia, yakni hanya sebesar 20-25%. Dengan demikian, hal tersebut menunjukkan bahwa akses informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas di Indonesia belum ramah terhadap remaja, di samping penyebaran internet yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Budaya “Tabu” Menghambat Masuknya Informasi Kesehatan Reproduksi

Budaya timur seperti Indonesia, sering menganggap tabu hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Akibatnya banyak anak-anak yang menginjak usia remaja tidak terpapar mengenai informasi kesehatan reproduksi. Padahal pendidikan kesehatan reproduksi penting untuk remaja yang memiliki banyak rasa keingintahuan termasuk rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berbau seksual. Jika tidak dipahami dengan baik, hal itu akan berdampak buruk pada remaja. Hasil riset Ignatius Haryanto, Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan menunjukkan bahwa tingginya rasa ingin tahu remaja terhadap kesehatan reproduksi tinggi, namun informasi mengenai hal tersebut sulit untuk didapatkan karena masih dianggap tabu oleh masyarakat. Menurut Adelia Ismarizha, Koordinator Divisi Edukasi dan Layanan Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), remaja sebenarnya membuka diri terhadap pendidikan reproduksi dan tak segan untuk bercerita mengenai pengalaman mereka.

Hambatan Bagi Efektifnya Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja

Selain budaya tabu, ada juga beberapa hambatan lain dalam memberikan akses informasi kesehatan reproduksi kepada remaja. Salah satunya adalah masalah waktu pelayanan dan adanya stigma. Contoh konkret seperti remaja di Jawa Tengah yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan dan konseling di pelayanan kesehatan dan konseling yang disediakan oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenakan waktu layanan di puskesmas bersamaan dengan jam sekolah, di mana jam operasional puskesmas, yakni pada pukul 08.00-13.00, padahal remaja masih menempuh pendidikan di sekolah pukul 07.00-14.00. Selain itu, stigma negatif sering kali dilekatkan pada remaja yang mengunjungi layanan tersebut, sehingga mereka enggan mengakses layanan tersebut.

Upaya Yang Dilakukan

Adapun upaya penyebaran informasi seksualitas untuk remaja dapat dilakukan melalui berbagai cara maupun media, seperti dialog di radio, artikel di koran dan majalah, serta bosur. Selain itu, bekerja sama dengan pihak sekolah pun menjadi salah satu cara yang baik dalam menyebarkan informasi pada remaja. Namun, masih sedikit sekolah yang memberi pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Padahal, remaja SMP dan SMA membutuhkan informasi mengenai kesehatan reproduksi agar bisa mengendalikan dorongan seksualnya, di mana dalam beberapa forum diskusi kelompok remaja, diketahui bahwa banyak remaja yang sudah aktif seksual dan sebagian kasus akhirnya menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan. Dari Kementerian Kesehatan sendiri menyambut positif pendidikan kesehatan reproduksi yang diberikan sejak dini, sejak anak mengenal organ reproduksinya, dalam bentuk memperkenalkan nama dan fungsi organ tubuhnya tersebut. Hal itu penting agar anak tahu bahwa organ tersebut merupakan milik pribadinya. Sehingga mereka dapat melindungi dirinya dari pelecehan seksual oleh orang lain. Oleh karena itu, beberapa sekolah mengadakan ekstrakurikuler terkait pendidikan seksualitas, baik melalui intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Intrakurikuler diberikan dalam kelas setelah sebelumnya diberikan pelatihan pada guru-guru dengan mata pelajaran terkait agar bisa menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada peserta didik dengan tepat dan menarik. Sedangkan ekstrakurikuler diberikan di luar jam pelajaran dengan melibatkan pendidik dari lembaga lain yang bekerja di bidang kesehatan reproduksi.

Rini Septiani, SKM