Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Waduh,, Usia Perokok Semakin Muda!

Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010 Indonesia memiliki jumlah remaja dengan kelompok uisa 10-19 tahun sebesar 43,5 juta jiwa atau sekitar 18 persen dari jumlah penduduk. Dengan arti lain, Indonesia memilik asset terpenting dalam memajukan bangsa. Namun, sayangnya semakin banyak jumlah penduduk semakin kompleks pula permasalahan yang ada. Salah satu hal yang dikhawatirkan bagi para orang tua terhadap anak remaja adalah kecenderungan untuk mencoba hal-hal baru yang tidak jarang membahayakan bagi kesehatan dirinya, yaitu merokok.

Usia Perokok di Indonesia Dulu dan Kini

Tahun 2009 tingkat konsumsi rokok di Indonesia masih menempati peringkat keempat dunia. Namun sejak tahun 2013, meningkat menjadi peringkat ketiga dunia setelah Tiongkok dan India yang memiliki jumlah penduduk yang memang jauh lebih besar daripada Indonesia. Ironisnya, sebagian besar rokok di konsumsi kelompok usia 19 tahun ke bawah. Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan, usia perokok pemula berada dijajaran usia remaja (10-14 tahun) naik dua kali lipat dalam 10 tahun. Jika tahun 2001 hanya 5.9 persen, meningkat menjadi 17,5 persen di tahun 2010. Namun, pada usia perokok pemula dengan usia lebih tua (15-19 tahun) terjadi penurunan dari 58,9 persen menjadi 43,3 persen. Artinya usia perokok pemula menjadi semakin muda, di mana hal tersebut membuat ketergantungan terhadap rokok semakin kuat dan risiko terkena epidemic penyakit akibat tembakau semakin tinggi. Menurut Gamal Albinsaid, CEO Indonesia Medika, industri rokok menjadikan anak muda sebagai target karena merupakan investasi jangka panjang, di mana ketika anak muda loyal maka mereka akan sulit untuk berhenti.

Media Berperan Dalam “Merekrut” Remaja Menjadi Perokok

Mengutip data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2009, di Indonesia lebih dari 80 persen anak usia 13-15 tahun terpapar iklan rokok di televisi, iklan luar ruang, koran, dan majalah. Meski iklan rokok dibatasi, tetapi iklan produk rokok sering kali muncul dalam bentuk lain. Contohnya, industi rokok menjadi sponsor kegiatan anak muda, sepert festival music, olah raga, budaya dan aksi sosial. Industri rokok dinilai mengeksploitasi anak muda Indonesia demi mendapatkan laba, di mana iklan rokok ditampilkan menarik agar masuk dalam alam bawah sadar dan membentuk pola pikir anak muda.Kondisi tersebut kian diperparah dengan kalangan kelas menengah ke bawah yang masih memprioritaskan belanja rokok di atas belanja bahan makanan menyehatkan ataupun pendidikan. Menurut penelitian Abdullah Ahsan, Lembaga Demografi Universitas Indonesia, porsi belanja rokok hanya kalah dengan belanja beras.

Salah Satu Upaya Penanggulangan : Naikkan Harga Rokok!

Menurut Hasbullah Thabrany, Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM-UI, cara paling efektif mengontrol konsumsi rokok ialah dengan menggunakan instrumen fiskal. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menaikkan harga rokok dan merevisi aturan cukai rokok yang membatasi cukai maksimal 57 persen, menjadi minimal 57 persen. Selain itu, juga dengan menaikkan harga rokok hingga dua kali lipat menjadi RP 30.000 per bungkus. Kenaikan harga rokok, diyakini akan menurunkan konsumsi rokok karena mayoritas penduduk berasal dari kalangan ekonomi menegah ke bawah. Harga rokok yang lebih mahal juga diharapkan mampu mengerem kemunculan perokok pemula dikalangan remaja maupun anak-anak.
Selain itu, melalui kenaikan cukai rokok, pemerintah pun mendapatkan tambahan pendapatan untuk keberlanjutan program JKN, iuran pesertta JKN meningkat, dan kualitas layanan kesehatan peserta JKN juga terjaga. Kenaikan cukai rokok menurut Hasbullah tidak akan berdampak besar terhadap pembelian, karena sifat produk rokok yang inelastik. Apabila target pendapatan cukai dinaikkan dua kali lipat, maka pemerintah akan mendapat hampir 300 triliun. Dalam rapat dengar pendapat umum, Anggota Komisi IX DPR, Gatot Sudjito, menyatakan kesepakatannya dengan usulan pengalokasian pendapatan dari cukai rokok untuk JKN. Di satu sisi, langkah tersebut dapat memperkuat program JKN, sedangkan di sisi lain kenaikan cukai rokok juga bisa menjadi bagian dari pengendalian tembakau.