Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Resistensi Antibotik dan Pencegahannya

Hasil riset program pengendalian resistensi anti mikroba (PPRA) 2013 di enam rumah sakit yang berada di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali menunjukkan bahwa angka kasus infeksi akibat bakteri kebal pada antibiotik mencapai 50%. Sayangnya, tidak ada laporan kesehatan di Indonesia yang mencatat mengenai angka pasti kematian akibat kasus resistensi bakteri terhadap antibiotik.  Menurut Menteri Kesehatan, data surveilans nasional mengenai infeksi akibat resistensi anti mikroba masih belum tersedia, dikarenakan pencatatan riwayat resistensi anti mikroba pada pasien yang masih minim.  Apabila dibandingkan dengan Thailand, negara yang sudah memiliki fasilitas mikrobiologi dan laporan kesehatan kuman lebih baik, dari jumlah penduduk dengan total sebanyak 70 juta jiwa, diketahui bahwa angka kematian akibat kuman resistensi mencapai 38.000 orang. Indonesia, negara dengan jumlah penduduk yang jauh lebih besar daripada Thailand (240 juta jiwa),memiliki kemungkinan angka kematian akibat kuman resistensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand.

Resistensi antibiotik merupakan kondisi bakteri yang menjadi tidak responsif pada pemberian antibiotik.  Sejumlah kasus kematian akibat sakit jantung, stroke, gagal ginjal, infeksi tulang, dan kanker diduga berawal dari indeksi mikroba yang resisten. Selain itu, konsumsi antibiotik berlebihan bisa berdampak pada ikut terbunuhnya bakteri baik dalam tubuh. Ketika antibiotik secara berlebihan massuk kedalam tubuh, maka yang menjadi efeknya adalah ikut terbunuhnya bakteri baikdalam tubuh, seperti yang ada pada lambung dan vagina.

Menurut dr. Hari Paraton SpOG (K) selaku kepala Komite Pengendalian Resistensi Anitimikroba (KPRA), terjadinya resistensi antibiotik dapat disebabkan oleh banyak hal.  Namun penyebab yang paling sering terjadi adalah konsumsi antibiotik yang tidak bijak dan berlebihan. Ketidakbijakan dalam mengonsumsi obat ini dapat membuat bakteri dalam tubuh menjadi resisten terhadap antibiotik. Hal tersebut mengakibatkan pengobatan dengan antibiotik tidak akan berpengaruh lagi terhadap tubuh sehingga suatu penyakit menjadi sulit sembuh

Berdasarkan ketetapan Peraturan Menkes No.2406/MENKES/PER/XII/2011 tentang pedoman umum penggunaan antibiotik, pemerintah sebenarnya telah membatasi penggunaan antibiotik secara berlebihan. Namun, faktanya masih banyak masyarakat yang tidak sadar akan bahaya resistensi antimikroba terhadap tubuh, karena adanya anggapan mengenai antibiotik yang dapat menyembuhkan segala penyakit. padahal tidak semua penyakitt cocok dnegan antibiotik. Disamping itu, bahkan tidak jarang tenaga kesehatan seperti dokter, apoteker, perawat dan bidan marak ditemui melakukan tindakan pengobatan yang cukup irasional tanpa mengetahui riwayat penyakit dan kondisi pasien.  Keterbatasan pengetahuan tenaga kesehatan dapat menjadi pemicu tindakan tersebut, di mana sebelum memberi antibiotik kepada pasien, tenaga kesehatan perlu memperhatikan gejala klinis dan rekam medis, misalnya apakah penyakit yang diderita karena bakteri atau virus. Hal tersebut dikarenakan sejumlah penyakit akibat virus tidak perlu diberi antibiotik, karena akan hilang dengan sendirinya. Selain itu, perlu dilihat ketahanan tubuh dan usia pasien, letak infeksi, gejala klinis lain, dan uji laboratorium untuk memastikan jenis penyakit.  Oleh karena itu, dibutuhkan pencegahan, pembenahan pola pikir dan pembaruan sistem agar infeksi mikroba resisten itu bisa ditekan. Adapun upaya pencegahan maupun menimalisasi risiko dari bahaya resistensi antibiotik adalah dengan cara mengurangi konsumsi obat antibiotik secara bijaksana, baik dokter maupun pasien dapat berperan untuk mengurangi dampak negatif dari masalah kesehatan ini, adalah sebagai berikutt:

  1. Masyarakat perlu mengetahui bahwa mengonsumsi obat antibiotik harus sesuai resep yang dianjurkan oleh dokter hingga dosisnya habis meskipun gejala-gejala dari penyakit yang diderita telah hilang.
  2. Sebelum memberikan antibiotik pada pasien, dokter harus terlebih dahulu mengetahui terkait beberapa pernyataan pendukung, seperti jenis bakteri yang terdeteksi, jenis antibiotik yang tepat, sistem kekebalan tubuh pasien, hingga bagian tubuh yang terinfeksi.
  3. Pemerintah harus rajin mengenalkan beragam penyakit baru yang tidak diketahui oleh masyarakat melalui pendekatan edukasi baik melalui organisasi maupun pendidikan, sepertihanya pengenalan terhadap bahaya resistensi antibiotik ini.
  4. Hindari mengonsumsi antibiotik untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti flu dan batuk.
  5. Hindari mengonsumsi antibiotik yang diresepkan untuk orang lain karena bisa jadi obat antibiotik tersebut tidak sesuai dengan penyakit yang diderita.

Semoga artikel ini bermanfaat. :)

Oleh Rini Septiani.