Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Ketidaksuburan vs Kemandulan dari Kacamata Kesehatan Pria

Selama ini masyarakat sering menyamakan antara ketidaksuburan dan kemandulan, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Ketidaksuburan atau infertilitas adalah ketidakmampuan sementara untuk memiliki anak. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah ketidakmampuan permanen untuk memiliki anak. Ketidaksuburan dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Ketidaksuburan primer, yaitu kondisi saat pasangan suami-isteri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual rutin, sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.
  2. Ketidaksuburan sekunder, yaitu bilamana pasangan suami isteri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi kemudian belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk apapun.

Pasangan suami-isteri dikatakan tidak subur jika dengan frekuensi berhubungan minimal 2-3 kali setiap minggu selama 1 tahun, isteri belum juga mengalami kehamilan, selain itu, apabila isteri maupun suami tidak pernah menggunakan alat atau metode kontrasepsi, baik kondom, obat-obatan, maupun alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.

Dalam pandangan umum masyarakat, sampai saat ini, ketika pasangan suami-isteri sulit memiliki keturunan, maka yang memiliki masalah kemungkinan adalah pihak dari perempuan atau isteri. Pada kenyataannya, pasangan pria atau suami justru bertanggungjawab secara langsung atas terjadinya penundaan pembuahan dalam setidaknya 40% kasus yang terjadi. Selain itu, pria juga merupakan kontributor kemandulan yang signifikan, yaitu sekitar 60%. Kasus ketidaksuburan pada pria memang mengalami peningkatan, salah satu penyebabnya adalah panas yang berlebih di sekitar area organ seksual. Celana yang ketat akan meningkatkan suhu pada pangkal paha yang akan mengganggu produksi sperma yang sehat. Selain itu, paparan racun lingkungan juga turut menjadi faktor perusak proses produksi sperma, termasuk di dalamnya asap rokok, minuman keras, pembuangan asap kendaraan bermotor, radiasi, paparan sinar X, dan polutan lainnya.

Faktor lingkungan luar yang biasanya mempengaruhi produksi sperma antara lain penggunaan tembakau dan alkohol, penyakit yang disebabkan oleh virus seperti flu atau pilek, luka fisik, suhu tubuh, frekuensi berhubungan, beberapa macam obat, konsumsi narkoba, tersumbatnya saluran vas deferens, kanker testis, infeksi dan trauma. Penelitian terbaru mengatakan bahwa pria dengan tingkat stress rendah memiliki jumlah sperma yang lebih tinggi daripada pria dengan tingkatan stress tinggi.

Untuk menghindari masalah ketidaksuburan, bisa dengan beberapa tips di bawah ini:

  1. Paparan panas langsung maupun tidak langsung terhadap area pangkal paha.
  2. Untuk pria pekerja yang bekerja dengan posisi duduk terus-menerus disarankan untuk bangun dan melakukan gerakan-gerakan tubuh setiap 30-60 menit sekali.
  3. Hindari celana dalam yang terbuat dari bahan sintetis yang lengket di kulit dan tidak menyerap keringat, celana jeans ketat dan atau celana yang ketat.
  4. Jika merasa kelebihan berat badan, maka usahakan untuk dapat menurunkannya. Kelebihan lemak pada area pantat, paha dalam dan perut bagian bawah bisa meningkatkan suhu pada pangkal paha.
  5. Hindari konsumsi kafein yang berlebihan.
  6. Istirahat dengan cukup dengan tidur selama 6-8 jam sehari
  7. Olahraga yang teratur
  8. Makan makanan yang sehat
  9. Hindarilah rokok

Referensi: Verawati, Sri Noor dan Liswidyawati Rahayu S.SI. 2011. “Merawat dan Mejaga Kesehatan Seksual Pria: Tanya Jawab Seputar Kesehatan Seksual Pria”. Jakarta: Grafindo. Hal: 60-64.