Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Studi Cross-Sectional: Penentu Partisipasi Pria dalam Pelayanan Kesehatan Reproduksi

Penelitian yang dilakukan oleh Md Shahjahan, Shirin Jahan Mumu ini menyelidiki peran laki-laki dalam beberapa masalah kesehatan reproduksi tertentu, mengkategorikan peran serta laki-laki, termasuk melihat faktor yang mempengaruhi partisipasi laki-laki dalam pelayanan kesehatan reproduksi. Dalam penelitian ini, tim melakukan studi di wilayah perkotaan dan pedesaan dengan melibatkan 615 laki-laki berusia 25-45 tahun.

Program Aksi ICPD telah menetapkan agenda yang menekankan pada tanggung jawab dan partisipasi laki-laki dalam layanan kesehatan reproduksi. Meskipun begitu, pada beberapa negara seperti Bangladesh, layanan kesehatan reproduksi sebagian besar masih berorientasi pada perempuan. Namun, hasil studi terbaru mengungkapkan bahwa laki-laki bisa berfungsi sebagai gatekeeper terhadap akses perempuan pada kesehatan reproduksi.

Konsep kesehatan reproduksi adalah bahwa laki-laki, perempuan dan kaum muda memiliki hak akan informasi dan memiliki akses yang aman, efektif, terjangkau dan dapat diterima di layanan kesehatan reproduksi. Keterlibatan laki-laki dalam pelayanan kesehatan reproduksi merupakan aspek penting dari pelayanan kesehatan reproduksi.  Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara tingkat keterlibatan laki-laki dan variabel demografis untuk mengukur faktor-faktor kontribusi yang berbeda dalam meningkatkan partisipasi laki-laki dalam kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi.

Hasil studi mengungkapkan bahwa ketika laki-laki memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, tingkat partisipasi dalam pelayanan kesehatan reproduksinya lebih besar. Hasil ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan di Nigeria di mana laki-laki tanpa pendidikan formal cenderung lebih memiliki pandangan yang konservatif terhadap kehidupan berkeluarga.

Dari hasil studi ini juga dilihat bahwa laki-laki lebih memiliki waktu luang, pendidikan dan pendapatan dari perempuan, sehingga memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak. Sebesar 66% dari responden membahas hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dengan istrinya dan mencari pelayanan kesehatan reproduksi setelahnya dan 63% dari responden sedang menggunakan kontrasepsi. Selain itu hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa 95% pasangan menikah menyetujui metode keluarga berencana yang menunjukkan bahwa laki-laki memiliki pengetahuan tentang keluarga berencana.

Kesimpulannya, tingkat pendidikan, pendapatan, dan paparan media yang lebih tinggi menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi laki-laki dalam pelayanan kesehatan reproduksi. Maka itu, penting untuk mengembangkan program kesehatan reproduksi yang lebih meningkatkan keterlibatan laki-laki dalam pelayanan kesehatan reproduksi.

MD Shahjahan, Shirin Jahan Mumu. Determinants of male participation in reproductive healthcare services: a cross-sectional study. BioMed Central, Reproductive Health 2013, 10:27.

(http://www.reproductive-health-journal.com/content/pdf/1742-4755-10-27.pdf)