Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Perkembangan Panca Indera Sang Buah Hati Usia 0 – 18 Bulan

Anak memiliki suatu ciri yang khas, yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak di dalam kandungan sampai pada usia remaja. Perkembangan pada anak adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Usia 0 -18 bulan adalah usia yang penting dalam perkembangan panca indera pada bayi Tabel berikut dapat membantu memahami setiap tahapan kemampuan panca indera buah hati anda.

Usia 0-3 Bulan

Jarak pandang bayi pada usia ini terbatas hanya mencapai 30 cm. Jarak ini adalah jarak yang cukup untuk mengenai wajah ibu saat menyusui. Pada usia 6 minggu kemampuannya akan mulai bertambah untuk melihat objek benda yang dipindahkan.

Untuk kemampuan pendengaran, sampai usia 2 bulan, bayi masih belum mampu fokus terhadap sumber suara. Setelah 2 bulan, baru bayi dapat merespon suara-suara yang ada di sekitarnya.

Sesaat setelah dilahirkan, bayi sudah dapat merasakan perubahan suhu, yaitu suhu ketika menyusu di payudara ibu dan saat mulai dikenakan pakaian. Karena itu, sentuhan pada usia ini sangat penting karena melalui sentuhan bayi dapat belajar tentang lingkungan barunya.

Kemampuan pengecap bayi sudah ada sejak sesaat setelah dilahirkan. Pemberian ASI pada saat dilahirkan mengajarkan kepada bayi rasa manis yang ada di dalam ASI. Dan dalam minggu pertama setelah kelahiran, bayi sudah mampu mencium bau ibunya yang khas.

Usia 3-6 Bulan

Sampai usia 3 bulan bayi belum mampu memfokuskan penglihatannya pada satu objek namun sudah bisa mengenali wajah orang-orang di sekitarnya, khususnya ibu dan ayahnya. Namun masih terbatas pada warna hitam dan putih.

Kemampuan pendengarannya sudah mulai focus. Bayi mulai mencari sumber suara, untuk itu mainan yang bisa mengeluarkan suara bagus untuk menjadi stimulan dalam merangsang pendengarannya. Pada usia 4 bulan, koordinasi tangan dan mata bayi mulai berkembang. Bayi mulai berusaha meraih benda yang ada di dekatnya.

Pada usia ini bayi hanya mampu mengecap rasa dari ASI saja yang dipengaruhi dari makanan yang dikonsumsi ibu. Pada usia ini bayi mulai mengenali bau dari orang-orang yang sering berada di dekatnya selain bau ibu.

Usia 6-10 Bulan

Pada rentang usia ini, bayi sudah mampu melihat benda dengan warna yang lebih kompleks. Bayi juga sudah mulai memahami suara ibu, sudah mengenal apabila namanya dipanggil dan mulai mengeluarkan kata-kata seperti ma-ma, da-da, ta-ta.

Kemampuan geraknya semakin aktif dengan mengeksplorasi tekstur permukaan benda-benda yang ada di sekitarnya. Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI. Dengan demikian, secara alamiah bayi akan mulai mengenal rasa manis terlebih dahulu dari rasa gurih atau asin. Selain itu, pada usia ini kemampuan penciuman bagi sudah lebih berkembang dengan mulai dapat mencium aneka aroma.

Usia 10-15 Bulan

Pada usia ini kemampuan penglihatan bayi sudah lebih berkembang, ia mampu melihat benda yang bergerak dengan cepat. Indera pendengarannya sudah mampu mengenal suara dengan lebih baik dan sudah mampu membedakan suara Ibu, Ayah atau orang lain di sekitarnya.

Indera pengecap pada usia ini sudah berkembang lebih banyak, bayi sudah mulai mengenal rasa gurih pada makanan. Pada usia ini juga bayi sudah mampu membedakan bau yang sedap dan tidak sedap, lalu mampu merespon bau yang tidak sedap dengan menjauhinya

Usia 15-18 Bulan

Pada usia ini, kemampuan penglihatan bayi sudah berkembang setajam orang dewasa. Kemampuan mengenali suara juga sudah berkembang dengan mampu mengenali suara yang berbeda-beda dan mulai memahami percakapan yang pendek.

Kemampuan merasakan dan membedakan tekstur benda sudah jauh lebih baik. Setelah usia 12 bulan, bayi sudah mulai merasakan rasa gurih, pahit dan asam, maka itu, bayi usia 12 tahun mulai memilih menerima makanan yang diberikan.

Kemampuan membedakan bau sedap dan tidak sedap sudah lebih baik dengan memberikan respon melalui perkataan suka atau tidak suka terhadap bau yang dihirupnya.

Disadur dari Majalah Ayahbunda No. 21, 15-20 Oktober 2012, Halaman 60-63