Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Penelitian tentang Keputusan Kehamilan pada Perempuan Terinfeksi HIV

1. Keputusan Kehamilan pada Perempuan Positif HIV: status pengetahuan. MacCarthy S, Rasanathan J, Ferguson L, Gruskin S. Reproductive Health Matters 2012; 20(39): 119-140.

Meski jumlah perempuan yang teinfeksi dan terdampak HIV semakin meningkat, namun perhatian akan kebutuhan, hak, keputusan dan keinginan mereka terkait dengan kehamilan yang dituangkan dalam penelitian, kebijakan maupun program masih terbatas. Kami mengkaji beberapa pustaka untuk mengetahui status pengetahuan dan isu-isu lain yang memerlukan perhatian lanjut. Kami mendapatkan bahwa pilihan kontrasepsi untuk pencegahan kehamilan bagi perempuan positif HIV tidak mencukupi: kondom tidak selalu tersedia atau dapat diterima, dan pilihan lainnya memiliki keterbatasan harga, ketersediaan ataupun efektifitas. Selain itu, sterilisasi paksa terhadap perempuan terinfeksi HIV juga banyak dilaporkan. Kesenjangan pengetahuan terkait dengan efektifitas, keamanan dan praktik-praktik teknologi kontrasepsi juga masih terjadi. Perhatian kepada kesehatan dan keselamatan bayi jauh lebih besar dibandingkan kepada perempuan, baik pada saat sebelum, selama dan setelah kehamilan. Akses ke layanan aborsi aman dan setelah aborsi, yang merupakan hal yang penting bagi perempuan dalam memenuhi hak kesehatan seksual dan reproduksinya, seringkali dibatasi. Lebih lanjut lagi, terbatasnya perhatian pada pekerja seks, pengguna narkotika suntik dan remaja yang positif HIV. Banyaknya tantangan yang dihadapi perempuan positif HIV dalam kaitannya dengan layanan kesehatan seksual dan reproduksi pada akhirnya membentuk keputusan kehamilan. Untuk itu, sangat penting bagi perempuan positif HIV untuk lebih dilibatkan dalam pengembangan dan implementasi penelitian, kebijakan dan program terkait dengan kebutuhan dan hak-hak terhadap kehamilan.

2. Perempuan Positif HIV di Vietnam: keinginan untuk memiliki anak, penggunaan layanan kesehatan seksual dan reproduksi, nasihat dari penyedia layanan. Messersmith LJ, Semrau K, Anh TL, Trang NNN, Hoa DM, Eifler K, Sabin L. Reproductive Health Matters 2012; 20(39S): 27–38.

Di Vietnam, meskipun kemungkinan untuk memiliki kehidupan seksual yang sehat dan membesarkan anak meningkat karena tersedianya terapi antiretroviral dan layanan pencegahan transmisi dari ibu ke anak, progam HIV memberikan perhatian yang sangat minim untuk kesehatan seksual dan reproduksi perempuan yang hidup dengan HIV. Penelitian ini akan meninjau beberapa faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan terkait kebutuhan, hak dan akses layanan kesehatan seksual dan reproduksi untuk perempuan positif HIV di Kota Hai Phong dan Ho Chi Minh. Hampir sebagian dari perempuan menyatakan aktif seksual pada saat penelitian dan 15% menyatakan keinginan untuk memiliki anak atau anak lainnya. Hanya 14% perempuan yang tidak menginginkan anak menggunakan layanan kontrasepsi pada enam bulan terakhir. Lebih dari 40% perempuan menyatakan pernah dinasihati, umumnya oleh tenaga kesehatan dan anggota keluarga, untuk tidak melakukan hubungan seksual, dan lebih dari 13% yang hamil pada saat penelitian menyatakan dinasihati untuk menggugurkan kandungannya. Sama seperti perempuan lainnya, perempuan yang hidup dengan HIV harus mendapatkan informasi tentang hak seksual dan reproduksinya serta harus memiliki akses ke konseling dan layanan medis sehingga mereka mampu membuat keputusan berdasarkan informasi yang lengkap terkait dengan kesehatan reproduksinya. Layanan kesehatan seksual dan reproduksi penting untuk diberikan kepada populasi ini.

3. HIV, kehamilan tidak diinginkan dan aborsi – dimana pendekatan hak asasi manusia? de Bruyn. Reproductive Health Matters 2012; 20(39S): 70–79.

Bidang HIV dan AIDS adalah menangani bagaimana pembatasan hukum dan kebijakan mempengaruhi akses untuk peningkatan dan perawatan kesehatan, misalnya, dalam kaitannya dengan kriminalisasi transmisi HIV, penggunaan narkotika dan pekerja seks. Bekerja untuk memperjuangkan hak reproduksi perempuan yang hidup dengan HIV,, terutama terkait dengan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi, tetap saja tertinggal meskipun isu ini berpotensi untuk mendukung advokasi terhadap akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang komprehensif untuk semua perempuan. Sehingga tulisan ini akan mengkaji aborsi dalam kaitannya dengan hak perempuan dan anak prempuan yang hidup dengan HIV. Pertama-tama, tulisan ini akan menyajikan temuan-temuan terbaru dari penelitian terhadap alasan perempuan positif HIV mencari layanan aborsi dan pengalaman mereka terkait layanan aborsi. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dalam kaitannya dengan hak asasi manusia dan bagaimana hal ini telah ditangani dengan baik ataupun diabaikan dalam kebijakan dan pedoman terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan yang hidup dengan HIV. Kesimpulan memberikan rekomendasi untuk memperluas upaya untuk menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi berbasis hak asasi manusia untuk perempuan yang hidup dengan HIV, termasuk informasi dan layanan terkait aborsi.