Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Dana Penanggulangan AIDS dan Hepatitis

Peran serta masyarakat, baik dalam bentuk pemikiran, aksi nyata, maupun dukungan, amat diperlukan dalam hal penanggulangan HIV AIDS di Indonesia. Pemerintah juga telah menujukkan komitmen yang kuat dalam penanggulangan AIDS. Dalam keterbatasan dana, pemerintah telah menyediakan dana untuk obat antiretroviral dan infeksi oportunistik sekitar 120 miliar setahun.

Dana bantuan luar negeri memang cukup besar dan terutama dialokasikan untuk penyuluhan, pencegahan dan penguatan kapasitas lembaga masyarakat dalam menanggulangi AIDS. Sementara untuk obat AIDS, dana berasal dari pemerintah kita dan jika mengalami kekurangan baru dibantu oleh Global Fund atau lembaga donor lainya. Malaysia menggunakan dana sendiri dalam penganggulangan AIDS, tetapi memanfaatkan bantuan teknis dari luar negeri. Hampir tidak ada negara yang melakukan penganggulangan AIDS sendiri, kita harus bahu-membahu, baik di dalam negeri maupun dalam membangun kerja sama dengan negara atau pihak lain. Pemerintah kita telah memikirkan dampak penurunan bantuan luar negeri dalam upaya penanggulangan AIDS di negara kita.

Kita perlu minengkatkam efesiensi dan mempertajam prioritas. Dana untuk obat ARV, misalnya, harus diprioritaskan karena teman-teman Orang dengan HIV AIDS (ODHA) tidak boleh kehabisan obat ARV. Bahkan, dengan semakin banyaknya orang yang menjalani tes HIV, kemungkinan yang memerlukan obat ARV semakin besar. Mungkin untuk tahun 2013 kita memerlukan obat ARV sekitar 50 persen lebih banyak daripada 2012. Ya, hampir semua negara yang selama ini menerima bantuan luar negeri akan terpengaruh jika bantuan asing dihentikan atau dikurangi.

Jika kita belajar dari Thailand, mereka punya obat ARV program pemerintah dan obat ARV jalur swasta. Sebagian besar rakyat Thailand yang memerlukan obat ARV memperolehnya secara cuma-cuma melalui program HIV dan asuransi nasional. Bagi mereka yang tidak mengikuti program tersebut (bukan warga negara Thailand), dapat membeli obat ARV generik produksi perusahaan farmasi pemerintah Thailand, GPO, atau dapat juga menggunakan obat ARV panten yang mahal. Kita harus menjamin agar obat ARV program pemerintah mencukupi dan mudah diakses masyarakat yang membutuhkan.

Mencegah transmisi (penularan) HIV

Menurut perkiraan para pakar, jika kita berhasil melaksanakan upaya pencegahan, sampai tahun 2020 kita dapat mencegah transmisi HIV pada sekitar 1 juta saudara kita. Ini merupakan usaha mulia karena kita perlu bergandengan tangan meningkatkan keberhasilan upaya pencegahan HIV di negara kita. Peran tokoh masyarakat memang amatlah penting, termasuk tokoh agama. Kita pernah menjadi contoh dan tempat belajar banyak negara dalam program keluarga berencana. Bukan hanya pencapaian keluarga berencana kita dianggap baik, dukungan tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama dalam program keluarga berencana juga dikagumi oleh negara lain.

Mudah-mudahan kita dapat belajar dari program keluarga berencana, bagaimana bisa kita menanggulangi HIV bekerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama di negara kita. Upaya penanggulangan AIDS di negara kita sudah berjalan cukup lama. Hasilnya cukup menggembirakan dan AIDS di negara kita telah turun tajam meski kita juga harus mengakui kenyataan bahwa dalam beberapa hal kita belum mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Transmisi melalu hubungan seksual masih tinggi. Infeksi HIV pada bayi dan anak mulai meningkat sejalan dengan meningkatnya infeksi HIV pada ibu rumah tangga. Kita telah melaksanakan program layanan pencegahan transmisi HIV dari ibu hamil positif HIV ke baginya di beberapa provinsi dengan bantuan luar negeri. Upaya pencegahan ini dapat menurunkan risiko transmisi dari ibu hamil positif HIV yang biasanya sekitar 35 persen menurun tajam sehingga hanya tinggal 2 persen. Agar pencegahan HIV pada ibu hamil dan bayinya dapat berhasil baik, program ini perlu diluaskan secara nasional dan dibiayai oleh pemerintah sehingga kegiatannya tidak tergantung pada bantuan luar negeri.

Penanggulangan Hepatitis dan Beban Biaya Pengobatannya
Upaya pencegahan Hepatitis di Indonesia dimulai dengan menanamkan kesadaran pentingnya masalah ini oleh pemerintah bersama masyarakat. Usaha nyata telah dilakukan Kementerian Kesehatan tahun 1997 dengan memulai program imunisasi Hepatitis B pada bayi kurang dari 1 tahun untuk pencegahan dini.

Pada tahun 2003, ditingkatkan dengan mencakup bayi baru lahir dan kini telah dilaksanakan di seluruh Indonesia serta telah berhasil menurunkan prevalensi hepatitis B pada anak di bawah 4 tahun dari 6,2 persen menjadi 1,4 persen. Namun untuk program pengendalian Hepatitis, Kementerian Kesehatan baru mulai fokus pada tahun 2010 yang lalu, karenanya angka kesakitan Hepatitis yang lebih besar dari HIV masih terkesan diabaikan.

Pencegahan Hepatitis yang dilakukaan Kementerian Kesehatan terbagi menjadi 3 kegiatan utama, yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Dimana pada pencegahan primer yang dilakukan adalah mencegah orang sehat menjadi sakit, pencegahan sekunder dengan mencegah yang telah sakit menjadi lebih sakit, dan pencegahan tersier mencegah keparahan dan rehabilitasi kepada orang yang terinfeksi Hepatitis.

Perlu diketahui bahwa biaya pengobatan Hepatitis B dan C selama ini masih menjadi beban yang besar bagi masyarakat di negara berkembang. Sebagai gambaran, biaya pengobatan Hepatitis B untuk obat oral sekitar Rp 800.000 per bulan, dan dibutuhkan waktu minimal enam bulan. Pengobatan dengan injeksi bahkan memerlukan biaya tiga kali lipat. Padahal peluang sembuh Hepatitis B hanya sekitar 55 persen, sedangkan Hepatitis C sekitar 70 persen.

Ada obat yang tidak bisa dijangkau oleh orang dengan Hepatitis B kronik karena hanya diberikan gratis pada orang dengan HIV positif. Oleh karena nya, diharapkan harga obat untuk orang yang terinfeksi Hepatitis B dan C ini bisa diturunkan, meskipun di RSCM dan RS Kanker Dharmais sebenarnya sudah ada penurunan harga pemeriksaan Hepatitis B dan C. Yaitu, untuk HCV RNA turun dari 2,2 juta menjadi 1,2 juta, HBV DNA turun dari 1,8 juta menjadi 850 ribu dan VL HIV turun dari 850 ribu menjadi 600 ribu.

Tidak hanya itu, sekalipun orang yang terinfeksi Hepatitis banyak terdapat di negara berkembang, namun teknologi dan fasilitas pencegahan serta pengobatan lebih banyak dimiliki oleh negara maju yang justru bukan merupakan daerah endemis Hepatitis B. Perhatian dunia terhadap penyakit tersebut juga masih kurang, walaupun Hepatitis merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat dunia.

Oleh sebab itu dalam menghadapi penyakit Hepatitis ini, pemerintah Indonesia menempatkan pencegahan sebagai upaya terpenting. Baik mencegah terjadinya penyakit, maupun mencegah berkembangnya penyakit dengan cara deteksi dini, agar tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih buruk sehingga menimbulkan penderitaan dan beban sosial-ekonomi keluarga, masyarakat dan negara.

Mudah-mudahan kepedulian AIDS dan Hepatitis di negara kita merupakan cerminan kepedulian masyarakat. Dengan atau tanpa bantuan luar negeri, kita harus dapat melaksanakan upaya penanggulangan AIDS dan Hepatitis di negara kita.

Referensi:
Djauzi, Dr. Samsuridjal. “Dana Penanggulangan AIDS.” Kompas, Minggu 30 Desember 2012, h. 18.
Djauzi, Dr. Smasuridjal. “Seminar Sehari Pengobatan HIV AIDS sebagai strategi untuk melindungi perempuan dan anak Indonesia dari infeksi HIV.” Pokdisus AIDS RSCM, 17 Desember 2012.
http://www.depkes.go.id/hepatitis/index.php/component/content/article/34...