Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Simposium dan Workshop untuk Meningkatkan Keberhasilan Terapi HIV AIDS dan Hepatitis

Acara Simposium dan Workshop untuk Meningkatkan Keberhasilan Terapi HIV AIDS dan Hepatitis yang diselenggarakan oleh PT. Kimia Farma pada tanggal 20 Desember 2012 kemarin merupakan puncak rangkaian acara Peringatan Hari AIDS Sedunia yang dilaksanakan di Jakarta. Acara ini dihadiri oleh sekiatr 200 orang yang terdiri dari dokter, akademisi, Odha, apoteker, promkes kemenkes, LSM dan masyarakat umum.

Pada acara tersebut Ibu Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH menyatakan bahwa HIV AIDS dan penyakit Hepatitis memiliki kesamaan penularan dan penyebaran, yaitu melalui cairan tubuh seperti darah, air mani dan ASI. Untuk kasus HIV periode Januari sampai dengan September 2012 terdapat 35.041 kasus HIV. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, namun beliau menyatakan bahwa ini merupakan peningkatan kasus yang baik, karena berarti program yang dijalankan telah berhasil mengajak orang untuk sadar melakukan test sehingga sebagian kasus gunung es terpecahkan. Untuk kasus Hepatitis, dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menyatakan bahwa terdapat sebanyak 9,4% kasus Hepatitis B yang berarti 1 dari 10 penduduk Indonesia pernah terinfeksi Hepatitis B dan prevalensi Hepatitis C sebesar 0.8% dari total penduduk Indonesia.

Pernyataan Menteri Kesehatan ini diperkuat oleh paparan yang dilakukan oleh Prof. Samsuridjal Djauzi dari Pokdisus AIDS RSCM. Beliau menyatakan bahwa di Indonesia ada sekitar 8,4% atau 20 juta orang yang terinfeksi Hepatitis B, 5%-nya menjadi Hepatitis B kronik. Sedangkan untuk Hepatitis C ada sekitar 0,8% dari total penduduk dan 1 juta orang diantaranya menjadi hepatitis C kronik.

Prof. Samsuridjal Djauzi juga menyatakan bahwa salah satu cara pencegahan HIV adalah dengan melakukan treatment ARV bagi orang dengan HIV AIDS (ODHA) untuk menurunkan risiko penularan. Angka Harapan Hidup masyarakat Indonesia sekarang 70 Tahun, dan ODHA pun angka harapan hidupnya bisa mencapai 70 tahun apabila melakukan treatment yang baik dengan ARV. Dari tahun 2006-2008 angka kematian pada ODHA menurun dari 46% menjadi 17% dan menurun sekitar 5% pada 2011. Pada ODHA yang terinfeksi hepatitis C, treatment ARV memang menurunkan angka kematian, tetapi virus hepatitis tetap ada dan tidak mati. Selain itu, menurut Menteri Kesehatan infeksi Hepatitis B dan C tidak mempercepat progresi infeksi HIV, karena orang dengan Hepatitis B dan C belum tentu terinfeksi HIV. Tetapi tidak demikian dengan orang yang terinfeksi HIV, progresi infeksi Hepatitis B dan C akan lebih cepat karena imunitas orang tersebut mengalami penurunan.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Direktorat Jendral P2ML, dr. H.M Subuh, MPPM memaparkan bahwa Kementerian Kesehatan tahun 1997 sudah memulai program imunisasi Hepatitis B pada bayi untuk pencegahan dini. Namun untuk program pengendalian Hepatitis Kementerian Kesehatan baru mulai fokus pada tahun 2010 yang lalu, karenanya angka kesakitan hepatitis yang lebih besar dari HIV masih terkesan diabaikan.

Pencegahan Hepatitis yang dilakukan Kementerian Kesehatan terbagi menjadi 3 kegiatan utama, yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Di mana pada pencegahan primer yang dilakukan adalah mencegah orang sehat menjadi sakit, pencegahan sekunder dengan mencegah yang sakit menjadi lebih parah, dan pencegahan tersier mencegah keparahan dan rehabilitasi kepada orang yang terinfeksi Hepatitis.

Menurut dr. Rino A. Gani dari PB PPHI , pengembangan obat ARV dan obat antivirus Hepatitis mutlak dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. Selain itu, edukasi, sosialisasi mengenai reaktifasi virus Hepatitis B harus lebih digencarkan kepada dokter-dokter karena hal tersebut bisa berakibat fatal bagi penderita jika dilakukan kemoterapi pada pasien yang juga memiliki kanker. Beliau memaparkan bahwa reaktifasi virus Hepatitis ini terjadi bukan karena kankernya melainkan karena paparan kemoterapi. Dalam penatalaksanaannya, 1 minggu sebelum dilakukan kemoterapi pasien harus diberikan antivirus Hepatitis B dan dilanjutkan 1 bulan setelah kemoterapi.

Direktur PT. Kimia Farma, Rusdi Rusman menyatakan bahwa PT. Kimia Farma bersama dengan Kementerian Kesehatan dan Ikatan Apoteker Indonesia telah bekerjasama terkait produksi ARV Lini 1 di Indonesia. Produksi pertama kali ARV di Indonesia dimulai pada tahun 2003 sampai saat ini dan masih terus meningkat permintaannya. Dengan adanya kerjasama pemerintah dengan Kimia Farma, harga ARV dapat ditekan dan terjangkau bagi ODHA yang membutuhkan perawatan. Dalam upaya kesehatan pengendalian masalah Hepatitis di Indonesia, PT. Kimia Farma menyediakan obat Hepatitis dengan harga yang relatif terjangkau.