Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Ereksi dan Disfungsi Ereksi

Ereksi berasal dari bahasa latin erigere yang artinya tegak lurus, tidak bengkok ke depan maupun ke bawah. Keras dan berdiri. Jadi organ yang mengembang tapi tidak mengeras tidak bisa dikategorikan ereksi sepenuhnya.

Ereksi membutuhkan sistem saraf yang sehat. Saat ada dorongan seksual, saraf melepaskan neurotransmitter yang memaksa menenangkan dinding otot pada arteri kecil. Setelah arteri kecil ini rileks, resistensinya pun hilang. Maka dimulailah pemompaan darah ekstra ke dalam pembuluh darah di dalam penis.

Saat penis dalam keadaan rileks, darah masuk dalam tekanan yang rendah untuk memelihara organ. Namun saat ada dorongan seksual, darah dipompa 26 kali lebih banyak dan dalam tekanan yang lebih besar daripada kondisi normal, yaitu 4 sendok teh per menit. Tekanan darah pada saat ereksi ini sama dengan tekanan darah di dalam tubuh.

Ereksi bersifat terbatas dengan sendirinya, karena ada satu titik di mana pembengkakan jaringan akan terhenti dan jaringan ereksi pun akan mengerut kembali menjadi kecil dan lemas.

Pemicu terjadinya ereksi adalah sistem saraf yang pusatnya ada di dalam otak dan sumsum tulang belakang bagian bawah. Jika suplai saraf ini rusak, sinyal untuk melepas zat kimia penenang saat dorongan seksual muncul tidak akan terhantarkan sehingga penis tidak bisa berereksi.

Beberapa jenis ereksi berdasarkan pemicunya:
1. Ereksi psychogenic, yaitu ereksi yang timbul dari proses psikologis atau emosional. Ereksi ini datang dari pusat cortical di dalam otak. Ada enam variable yang menstimulasi otak untuk merangsang ereksi, antara lain indera pendengaran, indera penciuman, indera perasa, indah peraba, secara imajinatif (fantasi seksual, memori), dan indera penglihatan.
2. Ereksi reflexogenic (yang dihasilkan dari reaksi refleks) adalah refleks sederhana sebagai respon terhadap sentuhan.
3. Ereksi spontan yang tidak direncanakan oleh alam sadar dan terjadi saat sedang tidur.

Ereksi psychogenic dan reflexogenic bisa terjadi secara terpisah maupun bersama-sama, tapi pada umumnya terjadi bersamaan. Seiring pertambahan usia, ereksi psychogenic akan lebih jarang terjadi.

Disfungsi Ereksi (Impotensi)
Impotensi atau disfungsi ereksi adalah disfungsi seksual yang ditandai oleh ketidakmampuan untuk berereksi atau mempertahankan ereksi pada penis selama melakukan kegiatan seks. Bahasa Latin “impotentia coeundi” berarti ketidakmampuan sederhana untuk memasukkan penis ke dalam vagina. Menurut WHO, disfungsi ereksi adalah keadaan dimana ereksi tidak bisa dicapai atau dipertahankan sampai koitus selesai selama 3 bulan. Beberapa pria masih bisa berereksi tapi tidak bisa mempertahankannya.

Pengklasifikasian kondisi disfungsi ereksi dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Disfungsi ereksi ringan
Adalah keadaan di mana ereksi penis terganggu sesekali sehingga tidak mampu melakukan koitus sampai ejakulasi. Bila ereksi masih cukup sering berhasil, maka sebagian besar penderita tidak pergi ke dokter, mereka menunggu sampai 3 bulan bahkan lebih dan biasanya gangguan ereksi akan memburuk.
2. Disfungsi ereksi sedang
Adalah kondisi di antara ringan dan berat. Kondisi ini sangat bervariasi, misalnya disfungsi ereksi ringan ditambah dengan faktor lingkungan atau gaya hidup yang tidak sehat.
3. Disfungsi ereksi berat
Sebagian beasr kondisi disfungsi ereksi yang termasuk berat adalah jika telah berlangsung selama 6 bulan atau lebih dalam keadaan-keadaan berikut:
a. Ereksi tidak bisa dicapai ketika bercumbu sehingga penetrasi tidak bisa dilakukan.
b. Ereksi pada waktu subuh atau pagi hari tidak terjadi lagi.
c. Bila koitus selalu gagal, meskipun telah menerima rangsangan yang pada waktu-waktu sebelumnya bisa menimbulkan ereksi
d. Penis sering terlihat semakin mengecil atau berkerut.

Ada beberapa hal yang secara fisik dan psikologis mempengaruhi kemampuan seseorang hingga dia tidak mampu berereksi, antara lain?
1. Obat-obatan, misalnya obat anti-depresan. Narkoba seperti marijuana, kokain, dan amphetamine bisa mempengaruhi sistem saraf pusat dan harus dihindari.
2. Penyakit neurogenik, antara lain cedera saraf tulang belakang dan cedera otak, penyakit saraf seperti Parkonson, Alzheimer, multiple sclerosis dan stroke.
3. Penyakit Cavernosal atau penyakit Peyronie, yaitu terdapatnya jaringan parut yang tidak normal atau plak pada penis. Biasanya jaringan ini semakin mengeras pada salah satu sisi sehingga penis akan bengkok saat ereksi dan terasa nyeri. Plak ini bisa menghalangi aliran darah masuk ke penis atau di dalam penis itu sendiri. Penyakit Peyronie menyebabkan penderitanya urung melakukan hubungan seksual dan sering juga mengalami stress dan kelainan ansietas (gelisah) lainnya.
4. Bedah (terapi radiasi, operasi usus besar, prostat, kandung kemih atau rectum) yang dapat merusak saraf dan pembuluh darah yang terlibat dalam proses ereksi.
5. Gagal ginjal dan penyakit diabetes mellitus.
6. Gaya hidup. Merokok adalah penyebab utama disfungsi ereksi, karena tar, nikotin, karbon monoksida dan polutan lain yang terkandung di dalam rokok bisa mengakibatkan terjadinya penyempitan arteri. Konsumsi alkohol yang berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama juga akan memperberat kerja arteri dan merusak sistem saraf.
7. Penuaan. Pada usia 40 tahun, 80% impotensi disebabkan oleh masalah psikologis dan 20% disebabkan oleh masalah fisik. Sedangkan pada usia 80 tahunan, 80% impoten disebabkan oleh masalah fisik dan 20% disebabkan oleh masalah psikologi.
8. Penyebab psikologis seperti kecemasan, kegelisahan, gangguan mental, masalah psikologis dan perasaan-perasaan negatif

Berikut Ini Beberapa Tips untuk Menghindari Impotensi
1. Jaga kondisi tubuh dengan tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, berhenti merokok dan menghindari alkohol
2. Berolahraga yang teratur dan secukupnya
3. Kurangi asupan lemak
4. Jika kelebihan berat badan, kurangi hingga berat badan sesuai dengan berat badan ideal anda
5. Cermati obat yang dikonsumsi untuk mengatasi masalah kesehatan yang lainnya, konsultasikan dengan dokter mengenai efek samping obat tersebut.

Referensi:
Verawati, Sri Noor dan Liswidyawati Rahayu S.SI. 2011. “Merawat dan Mejaga Kesehatan Seksual Pria: Tanya Jawab Seputar Kesehatan Seksual Pria”. Jakarta: Grafindo