Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Mengenal Masa Subur

Ovulasi umumnya terjadi 14 hari sebelum masuk tanggal menstruasi periode berikutnya. Dengan kata lain, perempuan yang memiliki siklus menstruasi 28 hari akan mengalami ovulasi pada hari ke empat belas, terhitung sejak hari pertama haid. Sementara masa subur adalah 2-3 hari menjelang dan setelah ovulasi.
Untuk pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, idealnya melakukan hubungan seksual di masa subur itu. Sebaliknya, pasangan dapat menghindari tanggal tersebut jika ingin menunda kehamilan. Akan tetapi, selama pasangan rutin berhubungan setiap 2-3 hari sekali, maka salah satu tanggal di masa subur itu akan tertanggap pula.
Masa subur adalah fase ketika terjadi perubahan-perubahan penting pada tubuh perempuan, khususnya pada organ reproduksi. Tubuh perempuan membuat persiapan untuk proses pembentukan dan penempelan embrio.
Perubahan pertama adalah penebalan selaput lendir (endometrium) pada rahim hingga sekitar 8 mm. Penebalan ini bertujuan untuk memudahkan proses penempelan embrio pada dinding rahim. Selain itu, kedua indung telur (ovarium) alias kelenjar berbentuk oval yang menjadi tempat ovulasi pun berangsur membesar.

Nyeri Ovulasi
Pernah merasa nyeri di bagian perut padahal jadwal haid belum dekat? Sebanyak 20% perempuan memang mengalami nyeri perut bagian bawah, baik di sebelah kanan maupun kiri. Gejala yang terjadi ketika memasuki masa subur dan biasa disebut nyeri ovulasi. Ini disebabkan rangsangan dari selaput perut bagian dalam akibat darah atau cairan folikel yang pecah.

Bukan Keputihan
Ciri masa subur lainnya dapat dilihat dari jumlah lendir serviks yang bertambah banyak. Cairan berwarna bening, tidak berbau, dan berbentuk elastis ini seringkali disalahartikan sebagai keputihan, padahal ia hadir jauh sebelum fase haid dimulai, yaitu dua minggu sebelum haid. Lagi pula, kondisi organ reproduksi perempuan justru kering tanpa lendir ketika sedang haid.
Lendir seviks bisa bertambah banyak karena mulut rahim menjadi lebih terbuka pada masa subur. Sementara di luar masa subur, lendir tersebut mengental dan membentuk sumbat sebingga sperma maupun kotoran tidak dapat memasuki rahim. Gumpalan/sumbat tersebut menjadi encer ketika masa subur, dengan tujuan memberikan jalan masuk bagi sperma.

Perubahan Suhu Tubuh
Sebelum memasuki masa subur, rata-rata suhu basa badan (SBB) adalah 36-36,5 derajat Celcius. Namun menjelang ovulasi, umumnya terjadi peningkatan suhu badan hingga mencapai 37-37,5 derajat Celcius. Penghitungan ini merupakan salah satu cara mengetahui masa subur melalui suhu dasar tubuh yang diukur saat aktivitas dan tingkat stress minimal.

Faktor Penentu Kesuburan
1. Asupan nutrisi
Tidak ada jenis makanan yang secara khusus dapat membantu kesuburan. Untuk itu, dianjurkan mengkonsumsi sayuran dan buah dari lima warna yang berbeda dalam sehari yang mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. Gaya Hidup
Biasakan olahraga dan pola hidup sehat seperti menjauhi rokok, obat-obatan terlarang juga alkohol. Faktor pekerjaan pun bisa memengaruhi kesuburan, misalnya, kebiasaan mengendarai motor jarak jauh atau kerja di lingkungan panas seperti pabrik pengolahan besi dapat mempengaruhi kualitas sprema.
3. Usia
Usia diatas 35 tahun, kemungkinan kualitas sel telur menurun menjadi lebih besar. Karena cadangan indung telur akan semakin berkurang seiring dengan semakin meningkatnya usia perempuan.
4. Kesehatan
Perempuan yang obesitas, kesuburannya berisiko terganggu karena insulin berlebih membuat sel telur tidak diproduksi dengan baik. Kasus varises testis yang membuat sperma mati atau adanya infeksi saluran kencing yang menghambat sperma juga dapat mempengaruhi kesuburan.

Kapan Harus Periksa?
Pemeriksaan kesuburan harus mengikutsertakan suami dan istri. Suami akan diperiksa kesehatan sel spermanya, sementara pada istri akan dilakukan pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG), Ultasonografi (USG) dan hormon. HSG diperlukan untuk mengetahui kondisi rahim dan saluran telur menggunakan sinar X (rontgen). Sementara USG diperlukan untuk memantau perkembangan folikel dan ketebalan selaput lendir rahim, serta mendeteksi kelainan pada rahim, indung telur dan saluran telur. Pemeriksaan hormon dilakukan untuk menentukan kesehatan kesuburan, yaitu pemeriksaan hormon LH, progesterone, FSH dan estrogen.
Ada klasifikasi yang dibuat berdasarkan usia untuk menentukan kapan saatnya pasangan suami istri menemui dokter dan memeriksakan organ reproduksinya.
1. Usia di bawah 35 tahun
Kunjungi dokter jika anda dan pasangan telah berupaya memiliki buah hati namun tidak kunjung berhasil setelah satu tahun.
2. Usia 35-40 tahun
Kunjungi dokter jika anda dan pasangan telah berupaya memiliki buah hati namun tidak kunjung berhasil setelah enam bulan.
3. Usia 40 tahun ke atas
Kunjungi dokter saat anda dan pasangan memutuskan untuk memiliki anak.
Referensi:
“A-Z Sexploration: Tandai Masa Subur Anda!” Nova, No. 1287/XXV, 22-28 Oktober 2012, h. 44-45.