Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Memahami Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Mungkin bagi kita istilah Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) terdengar rumit dan bahkan membingungkan. Sebenarnya istilah ini merupakan alih bahasa dari istilah dalam Bahasa Inggris, Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) atau juga Sexual and Reproductive Rights and Health (SRRH). Munculnya istilah ini diawali dari peran penting Konferensi Internasional untuk Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development) tahun 1994 di Kairo, Mesir yeng menghasilkan Program Aksi, serta Konferensi Dunia tentang Perempuan ke-4 tahun 1995 di Beijing, China yang menghasilkan Platform Aksi. Berikut penjelasan beberapa definisi yang membentuk istilah HKSR.

Kesehatan Reproduksi
Progam Aksi ICPD (Bab 7.5) mendefinisikan kesehatan reproduksi sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial yang utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksinya. Jika dielaborasi lebih lanjut maka kesehatan reproduksi merupakan kemampuan pasangan dan individu untuk menentukan kapan, berapa banyak anak yang dimiliki, dan akses ke layanan kesehatan berikut untuk dalam raka menjamin kesehatan reproduksi: layanan keluarga berencana; antenatal; postnatal dan perawatan persalinan; perawatan bayi; pengobatan infeksi menular seksual dan infeksi saluran reproduksi; layanan aborsi aman jika legal dan manajemen komplikasi terkait aborsi; pencegahan dan pengobatan infertilitas; informasi, edukasi dan komunikasi (KIE) tentang seksualitas manusia, kesehatan reproduksi, pengasuhan yang bertanggung jawab dan penghentian praktek-praktek berbahaya; perawatan terhadap kanker saluran reproduksi; dan pengobatan HIV dan AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immunodeficiency Syndrome). Selain itu, juga mencakup layanan kesehatan seksual lainnya seperti pengobatan komplikasi kesehatan reproduksi karena kekerasan berbasis gender, penanganan kondisi kesehatan reoroduksi seperti turunnya rahim dan akses anak muda, transgender dan perempuan tanpa memandang status perkawinannya.

Hak Reproduksi
Program Aksi ICPD (Bab 3) mendefinisikan hak reproduksi sebagai hak pasangan atau individual untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab jumah, jarak, dan waktu memiliki anak, memiliki informasi dan sarana yang memungkin mereka melakukannya dalam rangka mencapai standar kesehatan tertinggi dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksinya tanpa diskriminasi, paksaan dan kekerasan. Lebaih lanjut lagi, definisi ini juga mencakup hak untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab terhadap pengguguran kandungan dan mencakup seluruh pasangan atau individu tanpa memandang identitas gender/seksual dan orientasi seksualnya.

Kesehatan Seksual
Progam Aksi ICPD (Bab 7.36) mendefinsikan kesehatan seksual sebagai pertumbuhan seksual yang sehat, hubungan yang setara dan bertanggung jawab, pemenuhan seksual dan bebas dari kesakitan, penyakit, kecacatan, kekerasan dan praktek-praktek berbahaya lainnya yang terkait dengan seksualitas. Definisi ini juga bisa diperluas mencakup pencegahan praktek pengebirian tidak aman pada transgender laki-laki ke perempuan dan akses perawatan untuk transgender yang menginginkan bedah dan terapi penggantian seks (jenis kelamin). Untuk menjamin tercapai dan terpeliharanya kesehatan seksual maka hak seksual setiap orang harus dihargai, dilindungi dan dipenuhi.
Hak Seksual
Deklarasi ICPD maupun Konferensi Dunia tentang Perempuan tidak mendefinisikan hak seksual secara spesifik, namun hak seksual terelaborasi dalam hak reproduksi. Oleh karena reproduksi (melanjutkan keturunn) manusia pada umumnya memerlukan aktivitas seksual, maka hak seksual memiliki keterkaitan yang kuat dengan hak reproduksi. Menyadari pentingnya penyamaan persepsi terhadap istilah hak seksual maka pada tahun 2002, WHO melakukan konsultasi dengan para ahli untuk mendiskusikan beberapa definisi kerja termasuk, termasuk hak seksual. Berdasarkan konsultasi ini, WHO mendefinisikan hak seksual sebagai hak semua orang untuk terbebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan, untuk:
• mencapai standar kesehatan seksual tertinggi, termasuk layanan kesehatan seksual dan reproduksi;
• Mencari, menerima dan menyampaikan informasi yang berkaitan dengan seksualitas;
• Mendapatkan informasi dan pendidikan seksualitas
• Menghormati integritas tubuh
• Memilih pasangan
• Memutuskan untuk aktif seksual atau tidak
• Melakukan hubungan seksua berdasarkan kesepakatan
• Memutuskan untuk menikah atau tidak menikah
• Memutuskan untuk memiliki atau tidak memiliki dan kapan punya anak
• Memiliki kehidupan seksual yang memuaskan, menyenangkan dan amanan

Referensi:
WHO. (2006). Defining Sexual Health: Report of a Technical Consultation on Sexual Health 28-31 Januari 2002, Genewa.
Murthy, R. K. (2009). Review of Sexual and Reproductive Health and Rights in the Context of Disasters in Asia, Asian Pacific Resource and Research Centre for Women (ARROW).