Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku terhadap Praktik Sunat Perempuan

Secara internasional sunat perempuan dikenal dengan istilah Female Genital Cutting (FGC) atau Female Genital Mutilation (FGM). Genital cutting adalah pemotongan alat kelamin sedangkan genital mutilation identik dengan perusakan alat kelamin.

Tindakan Female Genital Mutilation (FGM) atau sunat perempuan dipromosikan dapat meningkatkan kesehatan perempuan serta anak yang dilahirkannya, dikatakan bahwa perempuan yang disunat akan lebih subur dan mudah melahirkan. Pendapat ini merupakan mitos yang dipercaya masyarakat dan tidak memiliki bukti medis.

Sunat perempuan, khususnya di Indonesia masih banyak dilakukan sebagai bagian dari tradisi dan budaya. Komnas Perempuan berkesimpulan bahwa praktik sunat perempuan yang melukai bagian dari alat kelamin perempuan sekecil apapun adalah sebuah tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Sunat pada perempuan dapat mengakibatkan nyeri, pendarahan, perlukaan disekitar jaringan vagina, syok akibat kesakitan, tetanus dan infeksi. Dampak jangka panjang dari sunat perempuan yaitu rasa sakit yang berkepanjangan pada saat berhubungan seksual, disfungsi seksual, disfungsi haid, terjadinya parut mengeras yang mengakibatkan abses, kista dermoid, dan keloid.

Artikel di bawah ini akan membahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan sunat perempuan masih dilakukan walaupun telah ada larangan dalam pelaksanaannya yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO).

Pengetahuan dan Sikap terhadap Sunat Perempuan di kalangan Bidan di Sudan Timur

Prevalensi sunat perempuan di Sudan Timur tergolong sangat tinggi, berkisar antara 87%-100% (Obster Gynecol Surv, 2004). Walapun hukum negara Sudan Timur melarang dilakukannya sunat perempuan, namun sampai saat ini tidak ada upaya nyata yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan praktik sunat perempuan yang dilakukan para bidan ini. Pengetahuan bidan terhadap sunat perempuan yang masih rendah menjadi salah satu faktor masih tingginya prevalensi sunat perempuan diatas.

Berdasarkan ”Knowledge and Attitudes of Female Genital Mutilation among Midwives in Eastern Sudan” oleh Abdel Aziem A Ali, 76,4 persn dari bidan merasa bahwa tindakan sunat perempuan tidak berbahaya dan hanya 19,1 persen yang menyatakan bahwa semua tindakan sunat perempuan merupakan praktik berbahaya. Selain itu, sebanyak 66,2 persen bidan menyatakan akan terus melakukan praktik sunat perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh alasan sosial di kalangan perempuan Sudan.
Kesimpulannya adalah hampir semua responden memiliki pengetahuan dan tingkat kesadaran yang rendah akan praktik sunat perempuan dan memandang praktik sunat pada perempuan tidak berbahaya dan akan terus dilakukan atas alasan sosial dan budaya. Dengan demikian upaya yang subtansial harus dilakukan untuk memutus tindakan praktik sunat perempuan dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran diantara bidan dan masyarakat Sudan Timur.

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu terhadap Sunat Perempuan di Kampung Melayu, Jakarta

Sunat perempuan di Indonesia masih belum banyak diketahui, sehingga mengakibatkan kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai bahaya dan dampak negatif dari tindakan sunat perempuan.

Sunat perempuan saat ini dianggap suatu tindakan diskriminasi dan telah dinyatakan melanggar Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women (CEDAW). Pada praktiknya di Indonesia, sunat pada anak perempuan masih dilakukan karena masih banyak mitos mengenai sunat perempuan yang belum teruji kebenarannya. Mitos tersebut antara lain karena sunat perempuan dapat menekan nafsu seksual perempuan dan merupakan ajaran di dalam agama, khususnya agama Islam.

Dalam survey ”Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Terhadap Sirkumsisi pada Anak Perempuan” oleh Dian Milasari dkk. yang dilakukan di Kampung Melayu, Jakarta, sebanyak 92,7 persen responden melakukan sunat pada anak perempuannya. Dari responden yang melakukan sunat pada anak perempuannya, sebanyak 61,2 persen menyatakan melakukan tindakan tersebut karena alasan agama dan 33 persen menyatakan atas alasan kesehatan, dan sisanya 5,8 persen melakukan karena alasan budaya atau adat istiadat. Responden yang memiliki pengetahuan kurang mengenai sunat perempuan sebanyak 87,7 persen, 11,3 persen memiliki pengetahuan sedang dan hanya 0,9 persen yang memiliki pengetahuan baik.

Secara umum, responden memiliki pengetahuan yang kurang mengenai sunat perempuan, hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, pengalaman dan pengaruh lingkungan sekitar responden. Pengetahuan yang rendah mempengaruhi sikap dan perilaku responden terhadap praktik sunat pada anak perempuan. Hal ini menunjukkan kurangnya sosialisasi mengenai tindakan praktik sunat perempuan dan dampak yang diakibatkannya. Untuk itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat termasuk tenaga kesehatan, medis maupun no medis mengenai bahaya praktik sunat pada perempuan untuk dapat mengurangi tindakan yang dapat membahayakan dan merugikan perempuan tersebut.

Ditulis oleh: Levina Ardiati, SKM