Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Perkiraan Hari Lahir Tidak Selalu Tepat Deadline

Disadur dari Majalah Ayahbunda No. 21, 15-28 Oktober 2012, halaman 42-44.

Bagi para calon orang tua, kelahiran si buah hati adalah hal yang paling ditunggu-tunggu sejak awal kehamilan. Perkiraan Hari Lahir (PHL) atau due date adalah usia kehamilan 40 minggu, dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Menurut statistik, rata-rata lama kehamilan adalah 40 minggu atau 280 hari.

Cara menghitung perkiraan hari lahir

Cara menghitung perkiraan hari lahir bisa menggunakan dua cara, yaitu menggunakan rumus Naegle dan menggunakan hasil gambar USG. Dengan rumus Naegle, perhitungan dilakukan dengan menjumlahkan tanggal hari pertama menstruasi terakhir dengan 7 untuk mendapatkan hari, dan mengurangi 3 pada bulan menstruasi terakhir untuk mendapatkan bulan. Contohnya bila hari pertama menstruasi terakhir adalah 17 April 2012, maka perkiraan hari lahir 7+17 = 24, pada bulan 4-3= 1 atau Januari. Jadi PHL adalah 24 Januari 2013. Rumus ini kurang akurat, karena hanya bisa digunakan pada wanita yang memiliki siklus haid teratur.

Cara kedua perhitungan dilakukan melihat hasil gambar USG. Perhitungan dengan cara ini lebih akurat dibandingkan dengan cara pertama. Berdasarkan gambar janin, dokter dapat menentukan usia kehamilan dengan mengukur panjang janin dari kepala sampai ke bokong (crown rump length). Tingkat akurasi cara ini menggunakan USG 4D mencapai 95% jika dilakukan pada trimester pertama dan menggunakan USG transvaginal.

Persalinan datang lebih cepat

Persalinan bisa terjadi lebih cepat atau lebih lambat dari perkiraan hari lahir. Pada persalinan yang lebih cepat dari perkiraan hari lahir, dikhawatirkan bayi dalam kondisi prematur, yaitu usia kehamilan belum genap 37 minggu atau 259 hari. Kondisi ini menyebabkan janin belum cukup umur yang dapat berisiko belum matangnya sistem organ tubuh janin. Organ yang belum tumbuh sempurna dapat mengakibatkan kelainan pada bayi.

Bila gejala persalinan terjadi pada usia kehamilan kurang dari 35 minggu, maka perlu untuk menunda persalinan. Dokter akan mempertahankan kehamilan dengan memberikan obat untuk menghentikan kontraksi dan mematangkan paru-paru janin. Jika ada indikasi lain untuk menghentikan kehamilan maka persalinan dapat segera dilakukan dengan pertolongan perawatan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) bagi bayi.

Bayi tak kunjung lahir
Ada kalanya persalinan terasa lebih lama dari perkiraan hari lahir. Apabila tak kunjung ada indikasi persalinan sementara perkiraan hari lahir sudah lewat, maka dokter akan memantau kesejahteraan janin di dalam kandungan. Dengan memastikan adanya gerakan janin normal, yaitu minimal 10 kali dalam 12 jam, memantau kondisi ketuban dan plasenta untuk melacak apakah ada tanda-tanda penurunan fungsi plasenta yang ditandai dengan berkurangnya jumlah cairan ketuban, atau tanda hipoksia (kondisi kekurangan oksigen) dengan melakukan pemeriksaan USG. Jika kondisi baik, maka masih bisa ditunggu sampai timbul persalinan secara alami. Namun, jika cairan ketuban berkurang, dokter bisa mempercepat persalinan, seperti melakukan induksi persalinan.

Ada beberapa penyebab mengapa usia kehamilan dapat melebihi 42 minggu (post term) yaitu indeks massa tubuh ibu yang lebih dari 25 sebelum kehamilan, riwayat kehamilan sebelumnya, faktor keturunan, dan faktor kelainan pada pertumbuhan janin dan plasenta. Untuk itu memeriksakan kandungan penting untuk mengetahui perkembangan janin dan kehamilan dan menjaga agar si buah hati tetap sehat di dalam kandungan maupun setelah ia lahir.