Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Artikel Terbaru tentang Aborsi dan Kehamilan Tidak Diinginkan

Sampai dengan tahun 2008 diperkirakan sebanyak 44 juta aborsi terjadi di seluruh dunia yang empat dari lima diantaranya terjadi di negara berkembang. Sayangnya di hampir seluruh negara berkembang aborsi adalah illegal untuk alasan apapun sehingga prosedur aborsi banyak dilakukan secara tidak aman. Bahkan di negara dimana aborsi tidak secara ketat dilarang, akses perempuan ke prosedur aborsi yang aman masih terbatas dikarenakan penyedia layanan yang tidak terlatih atau faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, perempuan yang melakukan aborsi tidak aman berisiko atas berbagai komplikasi yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan kematian. Pada dasarnya risiko komplikasi dapat dikurangi jika menggunakan teknik aborsi pada bulan-bulan awal kehamilan, tersedianya tenaga kesehatan yang terlatih, mendidik teknik aborsi kepada mahasiswa kedokteran, serta melakukan berbagai intervensi untuk mengurangi kehamilan tidak diinginkan.

Artikel-artikel pada isu khusus International Perspective on Sexual and Reproductive Health kali ini akan membahas tentang bukti-bukti cara mengurangi insidens aborsi dan kerugian kesehatan dari aborsi tidak aman.

_________________________________________________________________
Aborsi tidak aman masih banyak terjadi di Banglades meski adanya layanan regulasi menstruasi

Di Banglades aborsi merupakan tindakan illegal kecuali untuk alasan menyelamatkan hidup perempuan, namun regulasi menstruasi dapat dilakukan secara legal sampai usia kehamilan 10 minggu sejak periode menstruasi terakhir. Tahun 2010, berdasarkan "The Incidence of Menstrual Regulation Procedures and Abortion in Bangladesh, 2010,"oleh Susheela Singh dari Guttmacher Institute sebanyak 647.000 aborsi disengaja terjadi di Banglades, dan sebanyak 231.400 perempuan mendapatkan perawatan komplikasi aborsi. Penulis melakukan analisis data dari sampel yang mewakili fasilitas kesehatan nasional dan informan kunci, serta statistik layanan regulasi menstruasi yang didapatkan dari lembaga non pemerintah, menemukan bahwa diperkirakan terjadi 653.000 tindakan regulasi menstruasi, serta satu dari 10 perempuan yang melakukan regulasi menstruasi mendapatkan perawatan komplikasi. Rate aborsi dan regulasi menstruasi tidak berbeda, yakni 18,2 dan 18,3 per 1.000 perempuan usia 15-44 tahun). Hasil analisis ini membuat penulis sampai pada kesimpulan adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi terhadap layanan regulasi menstruasi dan perlunya peningkatan kualitas layanan regulasi menstruasi.

___________________________________________________________________
Di India, penelitian terbaru menunjukkan aborsi medikal (dengan obat) yang dilakukan oleh dokter umum tidak lebih aman atau lebih efektif dibandingkan dengan yang dilakukan tenaga kesehatan terlatih lainnya.

Aborsi merupakan tindakan legal di India, namun karena keterbatasan penyedia layanan operatif, banyak dari tindakan aborsi ini tidak aman, berdasarkan "Feasibility of Expanding the Medication Abortion Provider Base in India to Include Ayurvedic Physicians and Nurses." Shireen Jejeebhoy dari Population Council dan koleganya mencari tahu kemampulaksanaan perluasan penyedia layanan aborsi medikal (dengan obat) termasuk oleh perawat dan dokter tradisional traditional ayurvedic, yang membutuhkan adanya amandemen peraturan yang ada. Saat ini hanya ginekologi dan dokter allopathic yang diperbolehkan mengikuti pelatihan dan tersertifikasi menyediakan tindakan aborsi. Untuk itu, sebanyak 10 dokter allopathic, 10 perawat, dan 10 dokter ayuverdic yang semuanya tidak berpengalaman melakukan aborsi, dilatih dan selanjutnya menyediakan layanan aborsi untuk 1.225 perempuan di lima klinik di Bihar dan Jharkhand, dua negara bagian yang miskin dan terbatas layanan kesehatannya di India. Penilaian mereka tentang kelayakan perempuan untuk mendapatkan tindakan aborsi berdasarkan usia kehamilan dan kelengkapan aborsi, bervariasi sebanyak 5% dibandingkan dokter yang berpengalaman. Tingkat kegagalan rendah dan secara statistik sama untuk ketiga tipe penyedia layanan. Tidak ada komplikasi serius yang terjadi, dan penulis menemukan bahwa tingkat kepuasan pasien dan kesediaan untuk melakukan aborsi oleh perawat atau dokter ayuverdic sangat tinggi. Untuk itu, berdasarkan temuan ini penulis mendukung perubahan undang-undang yang ada agar memungkinkan perawat dan dokter ayuverdic memberikan layanan aborsi medikal (dengan obat).
___________________________________________________________________
Penelitian memperlihatkan sikap dan kepercayaan mahasiswa kedokteran di Afrika Selatan tentang aborsi

Di Afrika Selatan, meskipun sebagian besar mahasiswa kedokteran memiliki sikap mendukung hak perempuan untuk mengakses layanan aborsi, namun tiga dari empat mahasiswa menolak untuk memberikan layanan aborsi jika suatu saat mereka sudah menjadi dokter, berdasarkan "Attitudes and Intentions Regarding Abortion Provision Among Medical School Students in South Africa," oleh Stephanie Wheeler dari University of North Carolina at Chapel Hill, dan koleganya. Berdasarkan peraturan perundang-undangan Afrika Selatan, aborsi merupakan tindakan legal namun kenyataannya akses ke layanan aborsi masih terbatas yang dikarenakan rendahnya jumlah tenaga terlatih. Meskipun terjadi peningkatan aborsi medikal (dengan obat) dan adanya pergeseran penyedia layanan aborsi untuk trimester pertama kehamilan dari dokter di rumah sakit ke dokter di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), namun permintaan untuk layanan aborsi tetap tinggi dibandingan jumlah tenaga terlatih. Penulis melakukan survei kepada mahasiswa kedokteran Universitas Cape Town dan Univesitas Walter Sisulu tentang sikap dan niat mereka untuk memberikan layanan aborsi. Penulis menemukan bahwa dua pertiga mahasiswa tahun pertama enggan untuk melakukan tindakan aborsi jika mereka sudah menjadi dokter. Bahkan diantara mahasiswa tingkat lebih tinggi hanya 45-60% yang berniat memberikan layanan aborsi. Lebih lanjut, penulis menemukan perbedaan proporsi diantara mahasiswa beragam tingkatan tentang keinginan untuk mencegah pasien atau tenaga kesehatan lain untuk melakukan aborsi. Untuk itu, penulis merekomendasikan pentingnya kurikulum kesehatan reproduksi untuk mahasiswa kedokteran.

___________________________________________________________________
Bukti baru menunjukkan bahwa sebagian besar aborsi di negara maju terjadi pada usia 20-an.

Di negara maju, aborsi lebih banyak dilakukan perempuan pada saat usia 20-an, berdasarkan"Legal Abortion Levels and Trends by Woman's Age at Termination," oleh Gilda Sedgh dkk. dari the Guttmacher Institute. Di negara-negara industri, dewasa muda menjadi periode dimana risiko kehamilan tidak diinginkan dan konsekuensinya terjadi. Meningkatnya jumlah perempuan yang ingin menunda memiliki anak untuk alasan pendidikan ataupun karier. Untuk mengurangi kerugian kesehatan dari komplikasi aborsi dan mengurangi aborsi maka penting untuk membantu perempuan mencegah kehamilan tidak direncanakan. Menggunakan data dari lebih 40 negara yang melegalkan aborsi, penulis menghitung rate aborsi berdasarkan umur tertentu dan persentasi distribusi berdasarkan umur, dengan memperhatikan estimasi kelengkapan laporan. Berdasarkan informasi penggunaan kontrasepsi dan kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi (unmeet need) di negara-negara yang diteliti, penulis berspekulasi bahwa rate aborsi lebih tinggi pada penduduk usia tertentu mencerminkan tingkat unmeet need kontrasepsi yang lebih tinggi dari rata-rata atau kesulitan dalam menggunakan metode kontrasepsi secara efektif, serta adanya keinginan kuat untuk tidak memiliki anak.