Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Talkshow “Trauma dan Pemberitaan Media”

Bertempat di Galery Saddha FX Sudirman lantai 7, Jum’at 07 September 2012, Yayasan Pulih mengadakan acara talkshow dengan tema “Trauma dan Pemberitaan Media.”. sebagai narasumber dari Yayasan Pulih, dihadirkan Ibu Jacky dan Ibu Irma, dari Komisi Penyiaran Indonesia hadir Ibu Nina.

Kedua narasumber dari Yayasan Pulih memaparkan bahwa bencana alam merupakan peristiwa traumatis yang bisa berdampak negatif bagi kondisi mental. Seringkali korban ataupun orang yang menyaksikan bencana kemudian memiliki gangguan mental seperti stres, trauma ataupun depresi. Tak hanya itu, masyarakat juga akan merasakan tekanan akibat pemberitaan media. Peristiwa seperti bencana tsunami sangat berdampak terhadap masyarakat. Masyarakat di Aceh lebih mempersepsikan stress ke arah “gila” dan trauma ke arah konflik.
Salah satu penelitian yang telah dilakukan oleh Yayasan Pulih tentang jurnalisme dan trauma, disebutkan bahwa dari hasil penelitian 168 responden, 40% jurnalis TV mengalami trauma dalam meliput peristiwa traumatis seperti bencana alam, kriminalitas, dan lain-lain. Lebih dari 30% mengatakan masih terbayang-bayang, 6% merasa waspada (post traumatic stress) dan ada yang menjadi lebih emosional. Di Indonesia batasan antara jurnalis dan petugas kemanusiaan sudah tumpang tindih apalagi terkait bencana. Contoh: pada bencana pesawat sukhoi, para jurnalis selama 9 hari melakukan pekerjaan kemanusiaan membantu SAR mengevakuasi jenazah.

Fokus yang muncul adalah bagaimana pihak media memberikan dukungan dan mengantisipasi permasalahan ini? Para jurnalis ini sebenarnya mengakui merasa rentan dan memerlukan dukungan dari para pimpinan media. Lewat mata dan kata-kata jurnalis, masyarakat pemirsa/pembaca merasakan betapa menyakitkannya suatu peristiwa. Dengan kata lain video/foto/tulisan yang dibuat jurnalis dapat menimbulkan dampak psikologis negatif bagi masyarakat pembaca dan pemirsa. Untuk menghindari efek negatif dari peliputan dan pemberitaan peristiwa traumatik, jurnalis dan media perlu membekali diri mereka dengan pemahaman tentang trauma, dampak dan respon. Di sisi lain, jurnalis dan media yang peka terhadap dampak dari peristiwa traumatik juga bisa berperan menjadi bagian bagi pemulihan komunitas melalu melalui media mereka. Di satu sisi informasi di TV dapat membantu dalam penyebaran informasi tetapi pemberitaan secara berulang-ulang dan didramatisir dapat menimbulkan stress dan trauma (ketidaknyamanan).

Narasumber dari KPI memaparkan pemberitaan media (kasus sukhoi, bom buku dan bencana-bencana lainnya) yang berulang-ulang dan ditampilkan dengan cara yang tidak pantas akan berdampak tidak baik bagi kehidupan mental para korban, keluarga korban dan masyarakat. Kasus yang terjadi: kekerasan seksual dijadikan “joke” dalam acara komedi. Joke terhadap orang dengan orientasi tertentu terkait gender sering menjadi bahan olokan / dilecehkan oleh media. Aturan KPI tidak memperbolehkan melecehkan orang dalam kelompok-kelompok tertentu dan tidak menjadikan bencana-bencana ini dan para korban menjadi sarana eksploitasi pemberitaan oleh media. Batasan-batasan harus ditumbuhkan di kalangan jurnalis dan tidak melanggar etika jurnalistik.

Kompetisi antar media menyebabkan pemberitaan media berlomba-lomba menayangkan berita bencana yang tidak pantas demi kepentingan gambar yang eksklusif. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memiliki aturan (standar program siaran) yang dapat dilihat pada website: www.kpi.go.id. Aturan-aturan yang dikeluarkan KPI sering mendapat protes keras dari kalangan media, mereka keberatan dan mereka menyampaikan justru ini adalah kesempatan untuk memberikan informasi yang akurat.

Fungsi utama pemberitaan adalah menyajikan informasi. Berita yang baik selayaknya memuat gambar atau foto yang relevan dengan tujuan menambah kejelasan atas informasi yang disajikan. Selain itu fungsi penggunaan gambar untuk memperjelas penyajian informasi seringkali diabaikan, gambar dan foto acapkali digunakan sebagai ilustrasi maupun sebagai sarana membangkitkan atau mempermainkan emosi pembaca/penonton dan masyarakat. Tidaklah salah untuk mempergunakan foto atau gambar sebagai ilustrasi dalam suatu pemberitaan, namun selayaknya dilihat sejauh mana fungsi informatif tetap lebih dominan dibandingkan fungsi ilustratif.

Sebagai tambahan, dari hasil diskusi yang disampaikan adalah ketidakakuratan dan ketidaksensitifnya media dapat menimbulkan persoalan dan trauma bagi orang lain. Sehingga diharapkan pihak media berpihak kepada orang-orang yang trauma, stress dan dirugikan karena pemberitaan media.