Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Penelitian Terkini Kesehatan Seksual dan Reproduksi Anak Muda

1. Penilaian pengetahuan, sikap dan perilaku berisiko terkena HIV dan AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya pada siswa sekolah persiapan di kota Gondar, Etiopia Tenggara

(Judul asli: Assessment of knowledge, attitude and risk behaviors towards HIV/AIDS and other sexual transmitted infection among preparatory students of Gondar town, northwest Ethiopia) Shiferaw Y, Alemu A, Girma A, et al. BMC Res Notes 2011;4:505.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai pengetahuan, sikap dan praktik terkait HIV dan AIDS dan IMS di Kota Gondar, Etiopia Tenggara. Para peneliti melakukan studi potong lintang pada 1 Februari sampai 1 Maret 2009 di sekolah persiapan untuk memasuki SMA. Mereka menggunakan kuesioner pra-diuji dan menemukan bahwa semua siswa telah mendengar tentang AIDS sebelum wawancara. Pengetahuan tentang beberapa aspek dari penyakit ini cukup rendah, namun setengah dari siswa tahu bahwa AIDS tidak dapat disembuhkan dan infeksi HIV dapat diperoleh melalui kontak seksual dengan orang yang dikenal/dekat. Pengetahuan tentang IMS juga cukup rendah, 39% tahu bahwa nanah dalam urin merupakan gejala IMS dan 45,4% tahu bahwa adanya IMS lain meningkatkan kemungkinan penularan HIV. Dua puluh lima persen dari kelompok studi melakukan hubungan seksual sebelumnya dan telah terkena setidaknya satu perilaku berisiko. Kesadaran tentang IMS dan metode pencegahan HIV dan IMS rendah. Perilaku berisiko lainnya lebih banyak terjadi pada pria dan mereka yang menggunakan alkohol atau obat-obatan.

 

2. Komplikasi pada remaja yang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim 

(Judul asli: Complications among adolescents using copper intrauterine contraceptive devices). Rasheed  SM, Abdelmonem AM. Int J Gynaecol Obstet 2011;115(3):269–72.

Para penulis mengevaluasi tingkat dan pola komplikasi yang terkait dengan penggunaan perangkat Copper T 380A intrauterine (IUD) di kalangan remaja. Mereka melakukan studi banding calon perempuan yang memenuhi syarat untuk dimasukkan IUD yang dating ke klinik keluarga berencana di University Hospital Sohag, Mesir, antara tanggal 1 Juli 2008 dan 31 Desember, 2010. Peserta dikategorikan sebagai remaja atau orang dewasa. Copper T 380A IUD dimasukkan dalam vagina semua peserta dan tindak lanjut kunjungan dijadwalkan pada 1, 3, dan 6 bulan. Dari 1.512 pasien yang memenuhi syarat untuk pemasangan IUD, 852 memenuhi kriteria inklusi: 281 remaja dan 571 orang dewasa. Tingkat nyeri, perdarahan, perpindahan, perpindahan dan pelepasan IUD  secara signifikan lebih tinggi pada remaja. Tingkat komplikasi yang tinggi pada remaja yang usianya dibawah  16 tahun; tingkat komplikasi kemudian menurun seiring dengan meningkatnya usia dan menjadi sebanding dengan tingkat dewasa di usia 18 tahun. Para penulis menyimpulkan bahwa remaja dibawah  18 tahun harus diberi konseling dengan hati-hati sebelum pemasangan IUD, dan harus sering diperiksa untuk mendeteksi perpindahan atau pelepasan IUD.

 

3. Penggunaan kondom sebelum menikah dan korelasinya: Bukti dari India

(Judul asli: Condom use before marriage and its correlates: evidence from India). Santhya KG, Acharya R, Jejeebhoy SJ. Int Perspect Sex Reprod Health 2011;37(4):170–80.

Para penulis menggunakan data dari studi perwakilan beberapa provinsi dari orang muda India yang dilakukan tahun 2006-2008 untuk menilai penggunaan kondom dalam hubungan seksual pranikah. Mereka menganalisis data survei dari 2.408 remaja usia 15-24 menikah atau belum yang telah berhubungan seks pranikah dan data kualitatif dari 271 pemuda yang diwawancara mendalam. Mereka melakukan regresi logistik untuk mengidentifikasi karakteristik yang terkait dengan empat ukuran penggunaan kondom (pernah menggunakan, menggunakan secara konsisten, menggunakan pada hubungan seksual pertama dan menggunakan pada hubungan seksual terakhir). Hanya 7% wanita muda dan 27% pria muda yang telah berhubungan seks pranikah yang pernah menggunakan kondom. Dari kedua jenis kelamin, rasa tidak nyaman untuk membeli kondom berbanding terbalik berkorelasi dengan sebagian besar indikator penggunaan kondom, sementara memiliki teman yang pernah melakukan hubungan seks pranikah pada umumnya berkorelasi positif. Wanita yang berhubungan seks pranikah hanya dengan pasangan selain pacar lebih sedikit kemungkinannya dibandingkan mereka yang berhubungan seksual dengan pacar untuk menggunakan kondom pada hubungan seksual. Sementara laki-laki umumnya lebih besar kemungkinannya untuk menggunakan kondom dengan pasangan selain pacar daripada pacar mereka. Di antara pria, tingkat pendidikan, usia saat hubungan seksual pertama dan status lingkungan ekonomi berhubungan positif dengan penggunaan kondom.

 

4. Pengaruh pengetahuan dan sosiodemografik pada persepsi tentang AIDS dan praktik seksual pada siswa sekolah menengah di Nigeria.

(Judul asli: The influence of knowledge and sociodemographics on AIDS perception and sexual practices among secondary school students in Nigeria). Oyeyemi YA, Abdulkarim A, Oyeyemi BO. Afr Health Sci 2011;11(Suppl 1):S67–76.

Penelitian ini menilai persepsi siswa sekolah menengah dari epidemi AIDS, dan pengaruh variabel sosiodemografi dan pengetahuan AIDS pada persepsi dan praktik seksual. Para peneliti melakukan survei pada 1.143 remaja Nigeria menggunakan kuesioner yang menggali informasi tentang demografi, pengetahuan AIDS, persepsi, pertemuan sebelumnya dengan para korban, dan praktik seksual. Meskipun epidemi AIDS bukan masalah serius yang menjadi perhatian sejumlah besar siswa, mereka memiliki cukup pengetahuan tentang AIDS, dan persepsi mereka tentang epidemi AIDS mempengaruhi praktik seksual mereka. Remaja putri lebih berpengetahuan dan peduli, serta kurang pengalaman dalam hubungan seksual dibandingkan dengan rekan-rekan pria mereka. Para penulis menyimpulkan bahwa pendidikan AIDS dan kampanye yang membantu orang muda menginternalisasi dan membangkitkan keprihatinan tentang AIDS dapat meningkatkan praktik seksual yang aman di kalangan pemuda.

 

5. Hubungan antara remaja perempuan dengan pasangan laki-laki yang lebih tua di Jamaika

(Judul asli:Jamaican adolescent girls with older male sexual partners). Wood EB, Hutchinson MK, Kahwa E, et al. J Nurs Scholarsh 2011;43(4):396–404.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan hubungan antara remaja perempuan dan pasangan seksual laki-laki yang lebih tua di kota Kingston, Jamaika, dan untuk mengidentifikasi risiko seksual terkait HIV yang terjadi dalam hubungan ini. Para penulis mengumpulkan data melalui kelompok diskusi terfokus dan wawancara individu pada 43 remaja perempuan usia 18-21 tahun. Hubungan usia yang senjang didefinisikan sebagai hubungan seksual antara remaja putri dan seorang pria yang berusia dua tahun lebih tua atau lebih. Data dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif. Hubungan usia senjang merupakan hal yang umum terjadi dan dimulai ketika anak perempuan mulai beranjak remaja. Gadis remaja dan pria yang lebih tua cenderung memiliki banyak pasangan, dan pemberian hadiah, uang, atau sumber daya dari pasangan yang lebih tua sudah biasa serta diharapkan. Pasangan yang lebih tua sangat berpengaruh dalam perilaku berisiko terkait HIV. Para penulis menyimpulkan bahwa perbedaan usia yang cukup jauh dalam hubungan harus secara eksplisit ditangani dalam program penurunan risiko HIV untuk remaja perempuan di Jamaika. Selanjutnya, implikasi dari pemberian hadiah, transaksi seksual informal, dan daya intradynamic (hubungan dua orang) harus dimasukkan ke dalam strategi untuk mengurangi risiko terkait HIV seksual dengan pasangan yang lebih tua. Di masa depan, studi harus meneliti perspektif pria Jamaika juga.

 

6. Faktor pencegah dan risiko dalam kesehatan seksual dan reproduksi remaja di Karibia: sebuah tinjauan pustaka

(Judul asli: Protective and risk factors associated with adolescent sexual and reproductive health in the English-speaking Caribbean: a literature review). Pilgrim NA, Blum RW. J Adolesc Health 2012;50(1):5–23.

Termasuk dalam tinjauan pustaka ini adalah artikel peer-review yang diterbitkan antara Januari 1998 sampai dengan Desember 2009 yang difokuskan pada kesehatan seksual dan reproduksi remaja 10-19 tahun usia di Karibia. Artikel ditulis menggunakan teori sistem ekologi Bronfenbrenner. Kesenjangan penelitian juga diidentifikasi. Sebanyak 30 studi menilai kesehatan seksual dan reproduksi remaja (KSRR). Di tingkat individu, jenis kelamin, psikososial kesejahteraan, dan kesehatan mental merupakan faktor kunci yang terkait dengan KSRR. Kualitas hubungan orangtua-remaja; hubungan peer, dan adanya kekerasan, penyalahgunaan zat, atau masalah kesehatan mental dalam keluarga adalah faktor penentu penting dari KSRR. Sikap budaya juga berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja, dan umumnya, praktik seks yang lebih aman tampaknya meningkat. Riwayat kekerasan fisik dan seksual adalah berhubungan dengan beberapa hasil ASRH.

 

7. Pertukaran sosial dan perilaku seksual pada perempuan muda dalam hubungan pranikah di Kenya

(Judul asli: Social exchange and sexual behavior in young women's premarital relationships in Kenya). Luke N, Goldberg RE, Mberu BU, et al. J Marriage Fam 2011;73(5):1048–64.

Penelitian ini menggunakan teori pertukaran sosial untuk hubungan pranikah dengan tujuan menyelidiki hubungan antara berbagai sumber daya pada perempuan muda, termasuk pekerjaan dan transfer materi dari pasangan laki-laki dan perilaku seksualnya. Data pada bulan pertama hubungan pranikah (N = 551 hubungan) dikumpulkan dari sampel acak pada wanita usia 18-24 tahun di Kisumu, Kenya, menggunakan kalender kehidupan masa lalu. Konsisten dengan hipotesis, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan perempuan muda meningkatkan kemungkinan kegiatan seksual yang lebih aman, termasuk menunda seks dan menggunakan kondom secara konsisten. Transfer materi dari pasangan pria menunjukkan efek sebaliknya, mendukung pandangan bahwa sumber daya yang diperoleh dari sebuah hubungan (dari pasangan laki-laki) dapat menurunkan kekuatan negosisasi perempuan tersebut dalam hubungan mereka.

 

8. Anak jalanan berisiko terkena HIV di Ukraina 

(Judul asli: Street-based adolescents at high risk of HIV in Ukraine). Busza JR, Balakireva OM, Teltschik A, et al. J Epidemiol Community Health 2011;65(12):1166–70.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur distribusi perilaku berisiko HIV pada remaja jalanan di empat kota Ukraina sebagai bagian dari program pencegahan HIV dari UNICEF untuk remaja paling berisiko. Sebuah survei potong lintang perilaku dilakukan pada 805 remaja (usia 10-19 tahun) di kota Kiev, Donetsk, Dnepropetrovsk dan Nikolaev. Peneliti mengambil sampel berbasis lokasi dan kemudahan untuk mencapai 200 remaja di setiap daerah dan menyebarkan kuesioner standar tentang penggunaan narkotika, perilaku seksual, penggunaan kondom, pengetahuan HIV, akses ke layanan pencegahan, pengalaman kekerasan, dan kontak dengan lembaga negara dan kepolisian. Perilaku berisiko HIV banyak ditemukan, termasuk penggunaan narkotika suntikan pada 15,5% dari sampel. Hampir tiga perempat remaja sudah melakukan hubungan seksual, sebagian besar sebelum berusia 15 tahun. Perilaku seksual antara laki-laki (LSL, lelaki seks dengan lelaki) dilaporkan kurang dari 10% dari semua anak laki-laki yang diteliti. Penggunaan kondom masih rendah meskipun bervariasi menurut jenis pasangan. Ditemukan juga tingginya kasus pemaksaan dalam hubungan seksual, dan 75,5% responden melaporkan pelecehan dilakukan oleh polisi. Anak jalanan di Ukraina berisiko besar tertular HIV karena keterlibatan dalam penggunaan narkotika suntikan dan hubungan seks tanpa kondom di ranah pribadi maupun komersial dan tidak memiliki akses yang baik untuk pencegahan dan layanan kesehatan lainnya.

 

9. Remaja dan HIV: keterkaitan antara tunawisma, yatim piatu, penggunaan narkotika suntikan dan risiko seksual

(Judul asli: Youth and HIV: the intersection of homelessness, orphaned status, injection drug use and sexual risk). Mastro TD, Cunningham J, Medrano T, et al. AIDS 2012;26(1):111–3.

Dengan prevalensi HIV pada orang dewasa sebesar 1,1%, Ukraina mengalami epidemi HIV paling parah di Eropa, dan, seperti negara lainnya, penggunaan narkotika suntikan memainkan peran penting dalam penularan HIV. Penggunaan narkotika menyumbang 65% infeksi HIV pada usia 15-19 tahun anak laki-laki di Ukraina. Transmisi seksual juga memainkan peranan penting, dan orang muda berisiko sangat tinggi. Pada remaja perempuan usia 15-19 tahun di Ukraina, 89% tertular HIV melalui seksual. Perjalanan epidemi HIV di banyak negara di Eropa Timur, serta beberapa negara lainnya di dunia, didorong oleh orang-orang muda yang menggunakan narkotika serta perilaku seksual berisiko. Kita harus berhasil dalam pencegahan HIV di kalangan pemuda untuk menyetop epidemi. Kesuksesan membutuhkan pergeseran pendekatan, tidak lagi menyalahkan dan mengisolasi melainkan memberikan dukungan luas berdasarkan hak-hak anak.