Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Terapi Tepat Sesuai Masalah

Bukan tak mungkin, kehamilan yang tak kunjung terjadi selama ini semata-mata disebabkan posisi bercinta yang salah. Frekuensi berintim-intim yang 3-4 kali seminggu juga tak disarankan dan harus dijarangkan menjadi 2-3 kali seminggu agar sperma lebih berkualitas (matang) dan volumenya lebih banyak.

Pada beberapa kasus, terapi memang harus dilakukan dengan pemberian obat-obatan atau bahkan dilakukan koreksi dengan operasi. Semakin sederhana permasalahannya, semakin sedikit jenis terapi yang perlu dilakukan. Sebaliknya, semakin berat masalahnya, semakin banyak jenis terapi yang ditawarkan. Soal lama terapinya sangat bergantung pada respon masing-masing individu dan pasangannya. Ada yang dalam 3-6 bulan menjalani terapi sudah membuahkan kehamilan. Namun, ada yang lebih dari itu atau tidak berhasil sama sekali. Kasus infertilitas biasanya disiasati dengan cara inseminasi, bayi tabung, hingga adopsi anak.

PERHATIKAN DOKTER

Satu hal yang tak boleh luput dari perhatian adalah pilihlah dokter yang menangani Anda dan pasangan secara tepat. Selain itu, siapkan diri untuk menghadapi kejenuhan, mengingat upaya pemeriksaan dan terapi bisa berlangsung tidak hanya satu kali, melainkan berkali-kali dan menuntut banyak waktu. Solusi untuk memecahkan kebosanan ini hanyalah tekad yang kuat.

Hindari “belanja” dokter alias gonta ganti dokter. Hal ini tidak akan mengatasi kejenuhan yang terjadi. Siapapun dokternya, toh Anda tetap akan menjalani langkah-langkah yang memang perlu dijalani. Malah gonta ganti dokter hanya akan membuang waktu banyak karena pemeriksaan harus diulang.

Lantaran itulah, keterbukaan antarpasien dengan dokter amat dibutuhkan di sini. Sejak awal tanyakan pada dokter pemeriksaan apa saja yang akan dilakukan. Dokter pun harus menjelaskan permasalahan yang dihadapi pasiennya, serta memberikan target-target yang akan dicapai dengan pemeriksaan maupun terapi yang dilakukannya.

 

TERAPI BERDASARKAN MASALAH

A.MASALAH HORMON

* Hormon Reproduksi

Terapi hormon dilakukan untuk mengatasi gangguan ketidaksuburan dengan cara penambahan hormon dari luar, bila hormon yang mengatur fungsi reproduksi dalam tubuh manusia mengalami  gangguan. Terapi hormon dilakukan pada pria bila spermanya abnormal dan pada perempuan bila tak ada ovulasi.

Biasanya penambahan hormon dilakukan bila hormon FSH (follicle-stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone) di dalam tubuh kurang. Pada perempuan, FSH dan LH akan merangsang ovarium atau indung telur hingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel diikuti ovulasi atau keluarnya sel telur. Pada pria, FSH merangsang sel sertoli yang terdapat dalam buah zakar. Sel sertoli inilah yang memberikan makanan pada bakal sperma supaya sperma berkembang normal. Sementara LH merangsang sel leydig untuk menghasilkan hormon testosterone yang berguna bagi perkembangan seks sekunder dan mematangkan sperma.

- Terapi hormon pada perempuan.

Diawali dengan pemberian obat antihormon estrogen atau obat pemicu kesuburan untuk memicu pengeluaran FSH. Obat ini dimakan pada hari ke-3, 4, 5 siklus haid, karena hormon baru meningkat setelah hari ke-3. Saat inilah hormon FSH dipicu. Cara ini dicoba selama 6 kali siklus. Bila tidak berhasil, dosisnya akan ditingkatkan. Jika 6 bulan belum terbentuk ovulasi, baru diputuskan untuk memberikan hormon dari luar suntikan pada hari ke-6 dan 10 siklus haid, yaitu berupa suntikan hormon FSH atau gabungan FSH dan LH.

- Terapi hormon pada pria.

Hormon diberikan melalui suntikan dan tergantung kebutuhan. Namun, umumnya diberikan kombinasi FSH dan LH. Suntikan hormon pada pria bisa dilakukan kapan saja. Umumnya suntikan diberikan 2 hari sekali, tergantung konsentrasi kerja hormon yang diberikan. Selanjutnya 1-1,5 bulan akan dievaluasi, apakah ada perkembangan atau tidak. Bila setelah 3 bulan masih minimal juga, akan diteruskan untuk satu siklus lagi ( 1 siklus pembentukan sperma adalah 3 bulan ). Untuk mengetahui sudah bagus atau tidak, bisa melalui pemeriksaan sperma atau ditambah pemeriksaan hormon. Pemeriksaan sperma dilakukan 2 kali selang 2 minggu untuk menyiapkan buah zakar agar berproduksi kembali. Syarat pemeriksaan sperma, tak boleh berhubungan intim selama minimal 3 hari dan maksimal 7 hari.

* Hormon Tiroid

Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dapat menghambat proses kehamilan. Kekurangan hormon tiroid pada perempuan dapat mengganggu metabolisme tubuh sehingga menyebabkan sel telur tidak matang. Akibatnya pembuahan tidak pernah berhasil. Untuk menormalkan produksi hormon tiroid, dokter biasanya memberikan pil, tablet atau suntikan hormon tiroid. Tujuannya untuk membantu tubuh pasien mendapatkan jumlah hormon tiroid yang diperlukan. Kemungkinan pasien akan selamanya tergantung pada pil tiroid ini untuk menstabilkan produksi hormon tiroid.

 

B. MASALAH FISIK

* Sumbatan Vagina

Ada dua jenis sumbatan yang kerap terjadi yakni sumbatan anatomic dan vaginismus. Untuk sumbatan anatomic karena bawaan, sedangkan vaginismus karena pengerutan liang vagina akibat faktor psikologis. Selain itu, sumbatan pada vagina juga dapat disebabkan oleh adanya peradangan. Peradangan ini dapat muncul lantaran bakteri yang mengakibatkan kadar keasaman pada liang vagina terlalu berlebihan, sehingga sperma dapat gagal memasuki rahim. Penyakit yang dapat menyebabkan bakteri pada liang vagina ini antara lain penyakit gonore, sifilis, trikomoniasis, kandidiasis, amubiasis atau kista vagina.

Sumbatan pada vagina diatasi dengan pengobatan. Bila pengobatan tidak memungkinkan akan dilakukan pembedahan agar vagina dapat berfungsi normal. Terakhir, bila cara ini tidak dapat membantu maka agar mendapatkan kehamilan dapat dilakukan program inseminasi atau bayi tabung.

* Gangguan pada Leher, Mulut, dan Bentuk Mulut Rahim

Penyebab gangguan pada mulut rahim dapat brupa (1) sumbatan pada leher rahim, (2) lender pada mulut rahim yang tidak normal sehingga lender menjadi terlalu kental atau cair yang mengakibatkan sprema terhambat menuju rahim, atau (3) bentuk mulut rahim yang tidak normal sehingga dapat mengganggu penyampaian sperma ke rahim.

Untuk mengatasi permasalahan di mulut rahim ini dapat dilakukan pengobatan bila berkaitan dengan kondisi lender yang bertugas mengantarkan sperma ke rahim. Tapi, kalau berkaitan dengan bentuk mulut rahim yang memang sudah tidak sempurna maka harus dilakukan pembedahan agar mulut rahim dapat berfungsi normal sebagai jalur sperma menuju rahim. Bila cara ini tidak dapat mengatasi masalah maka harus dilakukan inseminasi atau bayi tabung.

* Gangguan pada Rahim

Masalah lain yang dapat mengganggu transportasi sperma menuju rahim adalah kelainan rongga rahim yang disebabkan sinekia, mioma atau polip, peradangan endometrium, dan gangguan kontraksi uterus. Sperma tidak mungkin melakukan migrasi karena gerakannya sendiri. Gerakan sperma dibantu oleh kontraksi yang terjadi antara vagina dan uterus. Kontraksi ini memegang peranan penting dalam transportasi sperma ke dalam rahim hingga ke saluran telur. Prostaglandin (senyawa asam) dalam cairan sperma dapat membuat rahim berkontraksi secara ritmik. Kurangnya prostaglandin dalam sperma akan mempengaruhi perjalanan sperma.

Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu implantasi, pertumbuhan intrauterin dan nutrisi serta oksigenisasi janin. Untuk mengatasi ini diperlukan beragam cara, mulai pengobatan hingga pembedahan.

Permasalahan lain yang mungkin terjadi pada rahim adalah kelainan bawaan sejak lahir berupa kelainan bentuk rahim. Kelainan bawaan ini seperti tidak memiliki rahim, rahimnya kecil, terdapat dua rahim, rahim berbentuk hati, rahim bersekat dan rahim bertanduk. Kecuali kelainan tidak memiliki rahim, semua kelainan itu dapat diusahakan memiliki anak. Tentunya dengan pengobatan yang berbeda berdasarkan kelainan yang dimiliki. Untuk rahim yang kecil dapat dilakukan terapi hormonal agar rahimnya dapat membesar hingga ukuran normal. Sedangkan untuk yang terdapat dua rahim, rahim bersekat, rahim bertanduk dan rahim berbentuk hati, harus dilakukan operasi untuk mengoreksi bentuk rahim.

* Masalah di Saluran Telur

Kelainan telur yang dimaksud adalah hidrosalping, yaitu tuba yang membesar seluruhnya atau tuba yang menebal. Penyebab kerusakan di dinding tuba adalah infeksi atau adanya endometriosis. Selain hidrosalping, terdapat juga tuba yang pendek, yang disebabkan tekukan pada beberapa tempat dan perlekatan tuba. Perlekatan dapat mengganggu pergerakan fimbriae dan menahan ovarium.

Kelainan pada saluran telur dapat diatasi dengan operasi untuk memperbaiki dan mengembalikan anatomi tuba dan indung telur seperti semula. Sedangkan endometriosis pada saluran telur dapat diusahakan kesembuhannya melalui pengobatan berupa obat-obatan hormonal. Bila sudah tidak memungkinkan dengan pengobatan, perlu dilakukan pembedahan. Bisa dengan bedah mikro, bedah konvensional, atau laparoskopi.

Masalah tidak terjadinya kehamilan bisa juga disebabkan gangguan pada indung telur, seperti adanya tumor atau kista, yang tersering berupa kista endometriosis. Untuk mengatasi gangguan kista endometriosis dapat dengan pengobatan atau pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut.

 

C. ALERGI SPERMA

Alergi sperma terjadi bila tubuh istri membentuk antibodi terhadap sperma suaminya. Semua perempuan akan membentuk antibodi ini, tapi tidak semua perempuan akan membentuk sistem imun hingga sperma bisa mencapai sel telur. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan mengurangi kuantitas hubungan atau menggunakan alat bantu kondom. Dengan demikian, vagina tak terpapar sperma setiap kali melakukan hubungan intim, sehingga rangsangan untuk terbentuknya andibodi dapat dihindari. Terapi ini minimal dilakukan 6 bulan. Melalui terapi ini diharapkan ada penurunan antibodi, sehingga ada kemungkinan sperma yang berhasil lolos dan memungkinkan terjadinya kehamilan.

Bila cara ini tidak berhasil dapat dilakukan terapi steroid, yaitu menggunakan menekan antibodi dengan obat-obatan atau suntikan tertentu. Terakhir, melalui inseminasi atau bayi tabung.

 

D. PENGENTALAN DARAH

Dalam keadaan normal, antibodi sebetulnya merupakan kumpulan protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk memerangi substansi yang dianggap asing oleh tubuh (di antaranya bakteri, virus). Pada penderita pengentalan darah atau ACA (anticardiolipin), tubuhnya malah mengeluarkan antibodi yang digunakan untuk menyerang anticardiolipin yang dianggap musuh, meski sebetulnya itu merupakan bagian dari membran. Kemunculan antibodi anticardiolipin inilah yang membuat darah individu jadi lebih kental. Antibodi ACA juga mendorong terjadinya trombosis atau pembekuan darah dalam pembuluh darah.

Bekuan darah di plasenta akan mengganggu pasokan zat gizi dan oksigen bagi janin. Janin jadi tidak bisa berkembang atau meninggal dalam kandungan pada usia kehamilan 3-4 bulan.

Bila antibodi anticardiolipin masih dalam batas aman, pengobatan cukup dengan tablet sejenis aspirin (yang kemampuannya mempertahankan bayi hanya 40%). Pada pemeriksaan berikutnya, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Bila kadar antibodi anticardiolipin tetap atau meningkat, pemberian obat akan dibarengi dengan suntikan heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap hari. Obat yang disuntikkan bukan bertujuan menurunkan antibodi anticardiolipin, melainkan menjaga agar antibodi tak menyebabkan trombosis alias pengentalan darah, sehingga janin dapat memperoleh makanan yang mencukupi untuk pertumbuhannya.

 

PEMBUAHAN BUATAN

A. INSEMINASI

Inseminasi intrauterin adalah memasukkan sperma ke dalam dinding rahim dengan menggunakan kateter khusus. Pelaksanaan inseminasi dilakukan bila pengobatan atau terapi tidak membuahkan hasil. Pelaksanaan inseminasi umumnya tidak sekali dua kali, sebab kemungkinan keberhasilan baru meningkat pada pelaksanaan yang ke-3 sampai  ke-7 dalam waktu 6-7 bulan.

Pelaksanaan inseminasi dilakukan sebelum sampai pada tawaran ikut program bayi tabung. Bila terbukti tidak berhasil, baru dokter menawarkan program bayi tabung.

Langkah awalnya dengan menyiapkan sperma yang dikeluarkan melalui masturbasi. Dari jumlah sperma yang telah disiapkan dipilih yang kualitasnya paling baik. Sebelum sel sperma dimasukkan, sang istri sudah diberi obat agar sel telur yang dihasilkan baik. Selanjutnya para ahli memasukkan sel sperma yang telah disiapkan ke dinding rahim dengan alat tertentu. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ini bergantung pada kesuburan istri maupun suami.

 

B. BAYI TABUNG

Program bayi tabung ditawarkan pada pasangan yang mengalami kebuntuan pada kedua saluran sel telur, jumlah sperma sangat sedikit, mengalami endometriosis, folikel tidak pecah, dan berbagai pengobatan atau terapi yang dilakukan tidak kunjung membuahkan hasil. Program bayi tabung dilakukan dengan memasukkan sel telur yang telah dibuahi oleh sperma ke dalam rahim.

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pertama, memberikan obat pemicu ovulasi pada istri. Proses pematangan sel telur dipantau setiap hari melalui pemeriksaan darah istri dan pemeriksaan ultrasonografi. Selanjutnya, dikeluarkan beberapa sel telur, kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudian dan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel.

Selanjutnya, embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini dimasukkan ke dalam rahim istri. Pada periode ini hasilnya ditunggu hingga kurang lebih 14 hari. Jika tidak terjadi menstruasi, akan dilakukan pemeriksaan air kemih untuk memastikan terjadinya kehamilan. Seminggu kemudian kehamilan akan dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi.

Sumber:  Tabloid Nakita edisi 8-14 Maret 2010