Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Membangun Benang Merah Program Kesehatan Reproduksi dan HIV/IMS: Studi Kasus di Pacific Islands

Adakah kaitan kesehatan reproduksi dengan HIV serta IMS? Bukankah keduanya punya fokus yang berbeda? Mungkin bagi sebagian orang yang awam HIV dan kesehatan reproduksi tidak terlihat ada kaitan erat. Sehingga mereka memisahkan antara program kesehatan reproduksi dan HIV.

Tim Sladden dari UNFPA - Pacific Sub-Regional Office pada sesi satelit ICAAP memaparkan pengalamannya dalam mengembangkan program integrasi kesehatan dan reproduksi dan HIV/IMS. Menurutnya ada beberapa alasan yang melatarbelakangi program tersebut, yakni:

  • Pelayanan kesehatan reproduksi (KB, ANC, KIA serta kesehatan reproduksi remaja/KRR) menjangkau banyak target namun tidak untuk program IMS & HIV
  • Penanganan HIV/IMS yang baik akan berarti juga meningkatkan dampak baik bagi kesehatan reperoduksi
  • Dengan mengintegrasikan maka kebutuhan kespro odha dapat sekaligus dipenuhi.

Ada 2 metode penginterasian kedua bidang tersebut Pacific Islands, yaitu:  Koordinasi dalam Departemen kesehatan dan memperluas integrasi multisektor pelayanan seksual dan kesehatan reproduksi.

Mengintegrasikan program memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada beberapa tantangan yang dihadapi saat proses implementasi. Tatangan tersebut diantaranya  struktur vertikal seperti dana dan kebijakan yang masih terpisah-pisah, belum terindetifikasinya peran/wilayah masing-masing; minimnya waktu untuk VCT; belum lagi kurangnya kapasitas tenaga kesehatan; beberapa pengabaian program karena isu yang masih dianggap sensitif.

Diakhir presentasinya, Tom mensarikan bahwa dengan mengintegrasikan dan mengkaitkan program maka akan meningkatkan jangkauan pelayanan khususnya bagi remaja dan perempuan,  turut meningkatkan dampak pada kualitas seksual dan kespro, lebih memfokuskan pada pelayanan yang menyeluruh beberapa keuntungan dari program yang dikembangkanya, serta dibutuhkan dana dan peningkatkan kapasitas tenaga kesehatan bagi program tersebut.

Laporan dari 9th ICAAP, Nusa Dua, Bali. Oleh: Julie Rostina