Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Pengadilan Perempuan di Asia Tenggara mengenai HIV, Perdagangan Manusia dan Migrasi: Dari Kerentanan Menuju Gerakan Keadilan

Sesi ini bertujuan untuk mengungkap penyebab kerentanan perempuan di Asia Tenggara yang berdampak pada migrasi yang tidak aman, perdagangan perempuan dan infeksi HIV. Sesi ini juga bertujuan untuk menggambarkan dampak kebijakan pembangunan yang mengukuhkan kemiskinan dan menciptakan bentuk baru kerentanan terhadap perempuan yang telah menjadi korban kekerasan berbasis gender dan memilih untuk migrasi atau dipaksa untuk migrasi dalam mencari kehidupan yang lebih baik. Buruh migran perempuan dalam rezim globalisasi terjebak untuk bekeja di sektor informal seperti pekerjaan rumah tangga, hiburan dan turisme yang tidak diatur dan dilindungi. Berikut ini beberapa contoh kasus nyata dari berbagai Negara di Asia Pasifik.

A dari Indonesia lahir tahun 1972 sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara di Jawa Barat dan tidak tamat SD karena orangtua tidak bisa membiayai. Pada usia 13 tahun dipaksa menikah karena orangtua tidak sanggup membiayai kehidupannya lagi. Setelah menikah 1 tahun lahirlah anak dan melamar kerja di luar negeri sebagai buruh migrant. Sewaktu di Kuwait dia tes HIV dari 1 jarum suntik yang sama dengan orang lainnya. Sewaktu tes kedua kali untuk ke Arab dia dinyatakan HIV positif tanpa konseling dan akhirnya tidak diterima bekerja. Saat ini hanya bekerja di sawah dan tetap miskin.

B dari Thailand berusia 33 tahun, saat masih remaja (17 tahun) diperkosa pacar, lalu putus hubungan dan pacaran lagi lalu diperkosa lagi sampai hamil dan kawin paksa. Setelah bercerai dia pacaran lagi dan menikah dengan laki-laki yang menurutnya baik tapi keluarga laki-laki tidak setuju karena dia sudah janda. Akhirnya dia pindah ke Bangkok, keguguran dan ovarium diambil. Dan setelah dites dia sempat kaget karena HIV positif yang ternyata didapat dari suami ke-2.

C dari Burma yang ditipu ibu temannya untuk bekerja di Ruili sebagai pelayan restoran ternyata menjadi pekerja seks secara terpaksa. Dia sempat harus melayani 15 orang tamu di bawah paksaan dan berulangkali ingin melarikan diri tapi tidak bisa kemanapun karena sudah positf HIV.

D dari Indonesia usia 24 tahun dan 5 tahun yang lalu menjadi buruh migran di Malaysia dan mendapatkan kekerasan fisik serta seksual dari orang Indonesia atau Malaysia yang ada di sana. Sampai akhirnya swaktu kesehatannya memburuk dia memeriksakan kesehatan dan ternyata positif HIV.

Pesan singkat: pemerintah harus meratifikasi konvensi buruh migran serta melindungi hak-hak mereka

Laporan dari 9th ICAAP, Nusa Dua, Bali. Oleh: Laily Hanifah