Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Peran Ulama dalam Penguatan Respon terhadap HIV/AIDS: Strategi, Keberhasilan dan Pembelajaran

”HIV dan AIDS tidak hanya menyentuh tataran kesehatan namun juga masuk ke segala bidang termasuk masalah keyakinan atau agama . Banyaknya orang yang memiliki pemahaman yang minim serta pemahaman yang salah akan HIV/AIDS menyebabkan penyakit tersebut menjadi sumber stigma dan diskriminasi. Belum lagi adanya anggapan bahwa HIV/AIDS dianggap penyakit kutukan dan hukuman Tuhan serta dikaitkan dengan moral seseorang.

Melihat kenyataan di atas, maka kiranya peran pemuka agama menjadi sangat penting dengan memberikan pemahaman yang benar pada masyarakat sebagai bentuk upaya penguatan respon terhadap HIV. Tema Peran Ulama dan HIV/AIDS dalam Sesi satelit ICAAP hari kedua menjadi sangat menarik karena mempresentasikan pengalaman-pengalaman di lima negara di Asia.

Sesi ini dimaksudkan untuk menggali peran pemuka agama Islam dalam merespon penanggulangan HIV/AIDS di berbagai negara. Syafiq Mughni (Indonesia) membuka sesi ini dengan menyampaikan pengalamannya dalam memperluas penjangkauan terhadap beberapa organisasi agama di provinsi Jawa Timur dalam merespon masalah HIV/AIDS. Program yang ia lakukan berkolaborasi dengan Health Policy Initiative (HPI) USAID. Dalam penuturannya disampaikan bahwa pada dasarnya Islam diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi sekalian alam termasuk manusia. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan kualitas hidup seseorang, bagaimana manusia satu sama lain bisa menyayangi serta manusia bekerja untuk kebaikan (mashlahah).

Hasil THE 3rd IMLC tentang HIV & AIDS di Addis Ababa Juli 2007 menghasikan perlunya komitemen terhadap Islam serta rencana aksi di level mesjid dan madrasah. Syafiq menyoroti minimnya pengetahuan dan komitmen serta adanya stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. Melihat pentingnya masalah yang ada, organisasi Islam yang berbasis kemasyarakatan dapat berperan besar di komunitas dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dia melihat organisasi seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyyah sangat berpotensi melakukan peran itu disebabkan memiliki pendukung yang banyak serta cakupan programnya hingga ke akar rumput. Selain itu kedua organisasi telah berkecimpung di bidang kesehatan dan pendidikan sejak lama.

Program yang dilakukan Syafiq yang juga Ketua Muhammadiyya Jawa Timur meliputi pendidikan HIV terhadap ulama setempat, ustadz dan tokoh agama lainnya, serta pada guru-guru di SMA, mengembangkan kurikulum dan manual yang mengintegrasikan dengan HIV/AIDS yang kemudian pengimplementasian kurikulum tersebut.

Pembicara kedua, menampilkan Mohammed Shahid berbicara mengenai Program pencegahan, dukungan serta perawatan HIV/AIDS di Myanmar. Mohammed yang menjabat sebagai Presiden sebuah organisasi Pemuda Keagamaan, melakukan program melalui strategi yang menyentuh sisi spiritual dan manusiawi. Programnya menekankan pada pendidikan kesehatan yang mengadopsi sisi spirititual serta aspek kesehatan. Dalam konteks AIDS, dilakukan pula adopsi bagaimana menghilangkan stigma dengan cara lebih ilmiah dan dipahami masyarakat. Dijelaskan pula bahwa penderita HIV (ODHA) bukanlah pendosa justru peran pemuka agama untuk dapat memberikan pencerahan bagi mereka untuk hidup lebih baik.

Selanjutnya Muhammad Iqbal Khalil, menyoroti mengenai pentingnya ”Peran Tokoh Agama dalam Mengurangi dan Diskriminasi terhadap penyakit HIV di Pakistan”. Menurutnya HIV/AIDS telah menyentuh tataran kemanusiaan.

Ada beberapa bentuk stigma dan diskriminasi terhadap penyakit ini, diantaranya: 1. HIV merupakan bentuk hukuman dari Tuhan, ODHA tidak boleh tinggal dengan masyarakat, 2. Odha tidak dibolehkan untuk pergi ke sekolah dan bekerja karena dikhawatirkan menularkan kepada yang lain, 3. Hanya orang-orang seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, orang miskin jarum serta buruh saja yang dapat tertular HIV, 4. Perempuan seringkali disalahkan, 5. Petugas kesehatan membedakan dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Melihat besarnya peran pemuka dan tokoh agama dalam mempengaruhi masyarakat maka mereka perlu untuk dibekali dengan informasi tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) serta HIV/AIDS dengan benar.

Menurut pendapatnya, Islam datang untuk memberikan pencerahan dan kedamaian. Islam memandang bahwa penyakit yang diderita oleh seseorang justru bila diterima dengan ikhlas dapat menggugurkan dosa-dosanya. Islam pula melarang hubungan seks lelaki dengan lelaki (Gay) serta perzinahan.

Pemberian informasi HIV/AIDS dilakukan pada saat khutbah Jum’at. Selain dapat menjangkau jumlah peserta yang banyak dalam menggulirkan isu HIV. Selanjutnya jika sudah terbentuk isu, maka perlahan masyarakat yang tertarik akan segera merespon, berdiskusi selanjutnya mendukung program penghilangan stigma HIV. Lebih dari ratusan tema HIV/AIDS disampaikan melalui khutbah Jum’at.

Khalil yang juga sebagai Presiden dari Inter Religious Council for Health NWFP-Pakistan, menyebutkan melalui program yang organisasinya lakukan telah 3.000 pemuka agama Islam melalui lebih dari 40 training di 4 provinsi (32 kabupaten).

Untuk memudahkan dalam penyampaian informasi ke masyarakat, maka dikembangkan pula buku panduan HIV/AIDS atas dasar Qur’an dan Sunnah untuk para pemuka agama, Model Materi Khutbah Jum’at yang telah digunakan lebih dari ratusan khatib, pembuatan kalender dengan pesan-pesan HIV/AIDS, serta brosur dan leaflet yang didistribusikan setelah sholat Jum’at.

Sesi satelit ini ditutup dengan presentasi dari AMAN (the Asian Muslim Action Network) yang dibawakan oleh Mohammad Abdus Sabur. AMAN yang didirikan sejak 1990 memiliki 15 negara anggota. Sejak awal pendidiriannya, AMAN bertujuan untuk membanguna kesepahaman dan solidaritas antara umat Islam dan ummat agama lainnya serta mengembangkan program yang mampu memberadayakan masyarakat, meningkatkan Hak Asasi manusia (HAM), menciptkan keadilan dan kedamaian dengan metode pengajaran qur’an.

Keterlibatan AMAN dalam HIV/AIDS diawali tahun 2001 dimana sebagaian besar pemuka agama masih belum menyadari bahaya dari HIV/AIDS bahkan untuk mendiskusikannya. Melihat kondisi prihatin tersebut, AMAN melakukan beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk memberikan penyadaran di masyarakat melalui pendidikan, pembentukan kesepakatan serta pembuatan materi-materi HIV/AIDS dengan beberapa versi bahasa. AMAN bekerja sama dan berkonsultasi dengan para ulama, tenaga medis dan aktivis LSM di tingkat regional dan nasional.

Dalam berjejaring, AMAN juga membina hubunngan dengan organisasi muslim dan organasisi ODHA yang ada negara anggotanya. Tahun 2004 dan 2006, AMAN menjadi ”host” pre-ICAAP di Bangkok dan Colombo, serta Konferensi Dunia HIV/AIDS di Afrika Selatan 2007.

Dari materi-materi di atas, nampak bahwa pemuka agama di komunitas memegang peran yang sangat penting. Tidak ada dikotomi antara kesehatan dan agama. Bahkan justru sebaliknya, agama bisa mendorong masyarakat agar lebih berdaya dengan pemahaman yang benar. Pemahaman tersebut bukan saja dari sisi spiritual namun juga bagaimana mampu membangun hubungan yang baik antara manusia sehingga meminimalisir stigma dan diskriminasi bagi odha dan penyakitnya.

Laporan dari 9th ICAAP, Nusa Dua, Bali. Oleh: Julie Rostina