Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Mengurangi Prevalensi HIV dan AIDS Melalui Pendekatan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta

Program pencegahan infeksi HIV dilakukan disegala sektor, juga termasuk dalam kalangan pesantren tidak terlepas pesantren khusus waria Al-Fatah yang Dipimpin Drs.KH. Hamrolie Harun selaku ketua jama’ah Mujahadah Alfalah. Pesantren yang terletak di Yogyakarta ini juga diketuai oleh seorang waria bernama Mariani berumur 49 th, dengan jumlah santri waria 20 orang dari Yogyakarta dan sekitarnya

Program ini dilakukan karena ada prediksi tingginya angka prevalensi HIV dan AIDS di kalangan waria. Juga belum adanya pendekatan secara rohani yang memadai dikalangan waria. Faktor lain juga karena tingginya angka Diskriminasi secara sosial dan agama dikalangan waria

Kegiatan Internal Pondok Pesantren Waria Al-Fatah umumnya tidak berbeda dengan pesantren lainya yaitu pengajian rutin setiap hari Senin dan Kamis dipimpin oleh Ustad, sholat wajib dan sunah dalam melaksanakan ibadah. Pesantren menyerahkan kepada santrinya menggunakan pakaian ibadah sesuai hati nuraninya/kenyamanan tidak memaksakan harus sesuai yang sesungguhnya, juga kegiatan lain seperti ceramah bimbingan rohani, belajar membaca Al Quran, dan lain-lain.

Yang menjadi sorotan adalah kegiatan Eksternal Pondok Pesantren Waria Al-Fatah yaitu mencoba berjejaring dalam kegiatan –kegiatan  dengan LSM HIV/AIDS  di Yogyakarta, berjejaring dalam  kegiatan advokasi bersama denga LGBTQ Yogyakarta dan mengadakan diskusi dengan lembaga-lembaga dan universitas beragam maupun non agama

Hasil yang dicapai dalam program ini adalah terlaksananya kegiatan rutin pengajian setiap Senin - Kamis. Dirasakan adanya peningkatan kesadaran akan perilaku berisiko di kalangan waria muslim, juga meningkatnya pemahaman dan penerimaan masyarakat dan struktur terhadap eksistensi dan keberadaan pondok pesantren waria dengan segala kegiatannya.

Namun program ini juga memiliki kendala dan hambatan diantaranya adalah masalah biaya operasional untuk pondok pesantren yang sangat terbatas. Simpang siurnya berita yang tidak benar tentang kepengurusan pondok pesantren  membuat animo teman-teman waria menjadi berkurang juga dirasakan dalam menjalani program.  Juga munculnya kontroversi di kalangan waria dalam hal berpakaian pada saat beribadah. Masalh lain yang ada yaitu banyaknya kontroversi pro dan kontra dengan adanya pondok pesantren waria di kalangan ulama sehingga membuat berkurangnya semangat teman-teman waria untuk bergabung

dari permasalah yang ada menjadikan pembelajaran terpenting ke depan yaitu betapa sulit membangun pola pikir tentang agama di kalangan waria. Toleransi antar umat beragama sangat diperlukan untuk melakukan advokasi di kalangan LGBTiQ. Betapa sulit penerimaan waria oleh masyarakat dalam kondisi kehidupan keberagaman yang sangat ber-Bhinneka Tunggal Ika

Laporan dari 9th ICAAP, Nusa Dua, Bali. Oleh: Tuhfatun