Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Remaja Perlu Pengetahuan dan Pemahaman yang Benar terhadap Kesehatan Reproduksi

Ketegasan pada remaja untuk menentukan pilihannya dirasakan sangat penting dalam pencegahan penularan HIV di kalangan remaja.  Ketegasan tersebut harus disertai pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik pada mereka, karena dengan pengetahuan tersebut remaja bisa memilih untuk menentukan sikap terhadap ancaman kemungkinan penularan HIV.

Sampai saat ini dirasakan masih kurang penyebaran informasi kesehatan reproduksi yang benar kepada remaja kalangan sekolah menengah pertama dan atas.  Hal inilah yang membawa mereka kepada pengertian yang salah terhadap kesehatan reproduksi.

Beranjak dari permasalahan tersebut, Yayasan Mitra INTI ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan skill building yang bertajuk Being Asertive: One Strategy for HIV Prevention among Others.  Skill Building ini diikuti oleh sebagian peserta International Conference on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke-9 di Nusa Dua Bali tanggal 10 Agustus 2009.  Walau rata-rata peserta telah berkecimpung dalam program pencegahan HIV di kalangan muda, tapi mereka masih belum memahami sepenuhnya masalah kesehatan reproduksi.

Peserta kegiatan skill building yang di dominasi kaum muda dari berbagai negara ini sangat antusias untuk mengetahui lebih banyak masalah kesehatan reproduksi, karena dalam kegiatan ini mereka sadar kesehatan reproduksi adalah salah satu jalan utama untuk mencegah penyebaran HIV dan AIDS.

Skill Building dimulai dengan penjelasan tentang arti kesehatan reproduksi dan masalahnya yang dibawakan oleh Laily Hanifah, direktur Yayasan Mitra INTI.  Peserta diarahkan untuk lebih mengerti dasar-dasar pemahaman kesehatan reproduksi.  Dilanjutkan dengan materi seksualitas dan pengertian ketegasan untuk membantu remaja mencegah terinfeksi HIV melalui sejumlah permainan dan diskusi interaktif oleh Julie Rostina, salah satu program manager Yayasan Mitra INTI.

Remaja sangat rentan oleh ajakan dari lingkungan dan teman sebayanya ke risiko yang dapat mengakibatkan mereka terinfeksi HIV, seperti contoh ajakan untuk menggunakan narkoba.

Jika remaja telah diberikan pengetahuan yang cukup dan mereka mengerti pentingnya ketegasan dalam menolak ajakan yang bisa membahayakan mereka, maka sangat diharapkan angka penularan HIV dikalangan remaja bisa berkurang atau bahkan hilang.

Seharusnya pendidikan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi ini telah menjadi bagian dalam kurikulum sekolah agar dapat membantu remaja dalam pemenuhan informasi yang benar, juga keterampilan menentukan sikap yang tegas agar mereka bisa menghindar dari risiko terinfeksi HIV.

 

Laporan dari 9th ICAAP, Nusa Dua, Bali.
Oleh: Ahmad Fauzi