Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Peran Komunitas Sebagai Kunci Penanggulangan HIV/AIDS

Dalam Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik (ICAAP) ke-9 yang akan berlangsung pada 9-13 Agustus 2009 di Bali, Indonesia, delapan komunitas akan hadir. Sebab, pelibatan pelbagai komunitas merupakan kunci dalam penanggulangan penyebaran HIV.

Kedelapan komunitas itu adalah orang yang hidup dengan HIV, pengguna napza suntik (penasun), komunitas antar iman, laki-laki yang berhubungan seks dengan pria dan waria, penduduk migran, pekerja seks, perempuan termasuk lesbian, dan remaja.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara ICAAP ke-9 Prof Zubairi Djoerban yang juga Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia, dalam jumpa pers, Selasa (21/7), di Jakarta, di berbagai tempat telah terbukti masyarakat sipil, termasuk lembaga swadaya masyarakat, bisa membantu pemerintah mewujudkan akses universal.

Akses universal jadi bagian penting dalam tujuan pembangunan milenium (MDGs) yang dicanangkan PBB. Salah satu tujuan MDGs adalah menghentikan epidemi HIV pada 2015. Ini berarti semua negara disyaratkan bisa menghentikan dan memutarbalikkan penyebaran HIV pada 2015, termasuk target mencapai akses universal pada 2010.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi menjelaskan, akses universal adalah sebuah kondisi bahwa semua orang yang memerlukan pengobatan HIV dapat memperolehnya. Ini berarti ada urgensi bagi tiap negara untuk memperkuat sistem layanan kesehatan dan memberi layanan lebih efektif.

Sebelum ICAAP ke-9, Forum Komunitas akan diselenggarakan pada 7-8 Agustus. Forum ini merangkul 8 komunitas agar bisa bertukar pikiran tentang sejumlah isu penting dalam komunitas itu. "Pentingnya keterlibatan komunitas dalam mengatasi HIV dan AIDS akan terlihat," kata Wakil Ketua II Panitia Penyelenggara Prof Dewa N Wirawan.

Menurut Dewa, lembaga yang peduli pada orang dengan HIV dan populasi kunci perlu terlibat aktif pada semua tahap penanggulangan AIDS. "Melalui berbagai upaya kolektif, kita dapat bekerja sama menyempurnakan strategi kita untuk membantu mereka yang rentan ataupun yang sudah terdampak oleh epidemi HIV," ujarnya.

Bila cakupan program (terapi ARV, informasi infeksi menular seksual, dukungan pekerjaan) bagi pengguna napza suntik, pekerja seks dan pelanggan, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki bisa mencapai 80 persen, maka ini akan membantu menghentikan epidemi HIV. Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari Komisi Independen AIDS Asia. (Evy Rachmawati)

sumber: Kompas.com