Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Kaum Muda Rentan Terinfeksi HIV

Partisipasi kaum muda dalam menanggulangi HIV dan menghapus diskriminasi harus ditingkatkan. Sebab, mereka adalah kelompok yang rentan terinfeksi virus itu dan akan memengaruhi kualitas hidup di masa mendatang, terutama pada masa usia produktif.

Badan Dunia Penanggulangan AIDS (UNAIDS) tahun 2008 melaporkan, sekitar 6.000 orang muda terinfeksi HIV setiap hari. Mereka yang terinfeksi virus itu kerap mengalami stigma dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari serta kesulitan mengakses terapi antiretroviral.

Atas dasar itu, partisipasi orang muda dalam proses pengambilan keputusan yang secara langsung memengaruhi kehidupan mereka perlu ditingkatkan. Sejumlah studi menyebutkan, pelayanan terintegrasi antara HIV dan kesehatan reproduksi dapat berkontribusi dalam menurunkan tingkat prevalensi HIV maupun memperbaiki kondisi kesehatan reproduksi di kalangan kaum muda.

Hal ini terungkap dalam Forum Komunitas yang diselenggarakan pada Jumat (7/8), di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Bali. Acara yang dihadiri para anggota komunitas orang muda dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) itu merupakan rangkaian acara Kongres Internasional Asia Pasifik (ICAAP) ke-9.  

Kelompok usia muda mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan stigmatisasi, kata Igor G Mocorro dari Youth AIDS Filipinas Alliance (YAFA). Stigma terkait dengan HIV sering berdasarkan hubungan HIV dan A IDS dengan kelompok marjinal dan perilaku yang mendapat stigmatisasi misalnya pekerja seks, penggunaan narkoba, perilaku seksual transgender dan homoseksual.

Hal ini memengaruhi mereka yang hidup dengan HIV, pasangan seksual mereka, maupun anak-anak dan anggota keluarga mereka, kata Igor. Beberapa diskriminasi yang dialami kaum muda antara lain kekerasan terhadap perempuan, perdagangan perempuan, dan berbagai bentuk diskriminasi lain yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak terpenuhinya hak kesehatan reproduksi dan seksual pada kaum muda disebabkan beberapa faktor antara lain, kurang informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual, hambatan kultural dalam mempromosikan normal sosial, agama dan nilai budaya. Partisipasi kaum muda dalam pengambilan keputusan di lembaga pemerintahan juga sangat minim, kata Yulius Wijaya dari Independent Youth Alliance. (Evy Rachmawati)

sumber: Kompas.com