Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Infeksi Saluran Reproduksi dan Keluarga Berencana

Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) sangat berhubungan dengan isu Keluarga berencana (KB). Gejala umum dari ISR, seperti keputihan, rasa sakit saat berhubungan seks, ataupun penyakit radang panggul (PRP), dapat disalahartikan sebagai efek samping penggunaan alat kontrasepsi yang dapat mengakibatkan klien KB mengganti metode kontrasepsi yang digunakan atau bahkan sama sekali menghentikan penggunaannya.

ISR dan Sikap Masyakarat terhadap Metode Kontrasepsi

¨ Gejala ISR mungkin berhubungan dengan metode kontrasepsi dan pada akhirnya dapat mengubah sikap seseorang terhadap penggunaan alat kontrasepsi.

¨ Metode KB tertentu dapat menimbulkan risiko ISR atau memperburuk ISR yang telah ada sebelumnya.

¨ Metode KB yang paling efektif mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, belum tentu merupakan metode pencegahan penyakit menular seksual (PMS) yang paling efektif.

¨ Semua ini mempengaruhi metode penyediaan pelayanan dan pemberian konseling untuk individu dan pasangan.

PMS dan Kontrasepsi

¨ Metode KB yang paling efektif belum tentu merupakan metode pencegahan penularan PMS yang efektif pula.

¨ Metode kontrasepsi yang paling efektif untuk mencegah kehamilan adalah: sterilisasi pria dan wanita, susuk KB, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)/IUD, suntik, dan pil. Namun, tidak satupun di antaranya yang dapat melindungi dari penularan PMS.

¨ Metode kontrasepsi yang paling efektif mencegah penularan PMS adalah kondom untuk laki-laki dan wanita. Diafragma dengan spermisida kemungkinan dapat juga digunakan untuk mencegah penularan PMS walaupun efektivitasnya masih dipertanyakan, terutama PMS yang disebabkan oleh virus dan parasit.

¨ Konselor dan petugas kesehatan harus membantu individu dan pasangannya dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk mencegah kehamilan dan melindungi diri dari PMS.

¨ Jalan keluar yang direkomendasikan adalah strategi "proteksi ganda" yaitu menggunakan sebuah metode kontrasepsi yang efektif membatasi kehamilan dan dalam waktu bersamaan juga menggunakan kondom (pria atau wanita) untuk melindungi dari PMS.

¨ Alternatif lainnya adalah menggunakan kondom sebagai metode kontrasepsi utama yang dilengkapi dengan kontrasepsi darurat (emergency contraception) bila terjadi kerusakan kondom.

Pelayanan yang Terpadu

Banyak sekali keuntungan yang akan didapatkan apabila pelayanan ISR dipadukan ke dalam pelayanan KB karena keterkaitan antara ISR dan KB.

¨ Umumnya klien KB adalah perempuan seksual aktif yang berusia 15-44 tahun (usia reproduktif). Mereka juga berisiko tertular PMS. Namun, mengintegrasikan pelayanan ISR yang terintegrasi dengan klinik KB kemungkinan tidak dapat menjangkau kelompok risiko lainnya seperti remaja, perempuan yang belum menikah, pekerja seks, ibu yang mengalami komplikasi kehamilan, dan laki-laki.

¨ Pemasangan AKDR tidak boleh dilakukan pada perempuan yang telah terinfeksi ISR. Oleh karena itu, petugas kesehatan harus menyadari dan mewaspadainya.

¨ Apabila upaya skrining dan pengobatan tidak mungkin dilakukan, petugas KB dapat membimbing klien KB untuk melakukan self-assessment of risk atau upaya menilai sendiri risiko tertular PMS. Melalui konseling tentang perilaku dan riwayat seksual, perempuan dapat mengidentifikasi apakah mereka berada pada kelompok risiko tinggi untuk tertular PMS atau bukan. Berdasarkan informasi yang benar dan lengkap dari petugas KB, klien dapat memilih metode kontrasepsi yang tepat sekaligus melindungi dirinya dari PMS.

Referensi

Buzsa, Joanna. Reproductive Tract Infections: A Set of Factsheet. Bangkok: Population Council, 1999.