Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak: Perlu Perhatian Khusus

Salah satu penularan HIV yang cukup penting adalah penularan dari ibu ke bayi/janin, sedikitnya 90% kasus HIV pada anak (usia di bawah 15 tahun) di dunia adalah karena penularan dari ibu ke janin/bayi.  Sejak ditemukannya kasus HIV/AIDS, diperkirakan sekitar 2,7 juta anak telah terinfeksi HIV di dunia pada akhir bulan Desember 2001, 580 ribu diantaranya telah meninggal, dan 800 ribu infeksi baru terjadi sepanjang tahun 2001.  Di negara-negara berkembang tingkat risiko penularan janin dari ibu hamil yang mengidap HIV diperkirakan sekitar 25-40%.  Dengan adanya perkembangan obat antiretroviral (ARV) saat ini, bila ibu janin terinfeksi HIV, maka melalui terapi ARV tingkat risiko penularan HIV ke janin bisa berkurang menjadi hanya 8%.  Jika si ibu memilih persalinan sesar maka risiko akan semakin rendah, yakni di bawah 1%.

Di Indonesia, dari 2.876 kasus nasional HIV/AIDS yang dilaporkan pada bulan Maret 2002 diketahui 11 diantaranya adala bayi dan balita yang tertular dari orang tuanya.  Di sisi lain, saat ini mayoritas ibu hamil di Indonesia sedikit sekali mendapatkan kesempatan untuk memperoleh informasi HIV/AIDS, layanan konseling, dan tes HIV.  Hal tersebut menyebabkan para ibu hamil mengabaikan perlunya tindakan sedini mungkin dalam pencegahan penularan HIV dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayinya.

Atas dasar tersebut Yayasan Pelita Ilmu (YPI)-Jakarta, melakukan Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak yang didukung oleh Becton Dickinson, dimana pada program tersebut YPI telah memberikan layanan konseling dan tes HIV suka rela serta cuma-cuma terhadap 559 ibu hamil di Jakarta, Karawang dan Indramayu dari bulan Juni 1999 hingga Mei 2002.  Dari program ini diketahui 16 ibu hamil positif HIV (persentase=2,86%) dan 12 di antaranya mendapatkan terapi ARV (Zidovudine atau Nevirapine).  Program ini telah menjangkau daerah pemukiman padat di Jakarta dan sekitarnya.  Dari 18 bayi yang telah lahir, 7 diantaranya memperoleh bantuan susu formula cuma-cuma.

Jumlah ibu hamil yang bersedia dalam kegiatan konseling dan tes HIV dalam program ini cukup tinggi.  Hal ini disebabkan program ini dipadukan dengan layanan antenatal care yang memperhatikan keselamatan ibu dan bayinya.  Keterlibatan pasangan/suami dan keluarga dari para peserta program yang HIV positif dapat membatu dalam mengurangi depresi yang timbul.

Program ini diharapkan tidak akan berhenti, walaupun masih kurangnya perhatian dari masyarakat, pemerintah dan tenaga profesional lainnya dalam isu yang berkaitan dengan penularan HIV dari ibu ke anak, juga kurangnya sumber daya manusia dan dana yang dapat disalurkan untuk kelangsungan program ini.  (zy)