Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Kehamilan dan HIV

Bagaimana bayi tertular HIV?

HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada janin/bayi yang dilahirkannya. Tanpa perawatan sekitar 20% bayi dari ibu yang mengidap HIV akan tertular.  Ibu yang memiliki jumlah virus (viral loads) lebih banyak, dapat menularkan kepada bayinya.  Meskipun tidak ada batasan aman untuk jumlah virus, infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, tapi biasanya terjadi sebelum atau selama persalinan.  Bayi dapat mudah tertular virus apabila proses persalinan berlangsung lama, karena selama proses tersebut bayi akan terus kontak dengan darah ibunya.  

Menyusui ASI dari ibu yang terinfeksi virus HIV juga dapat menularkan HIV kepada bayinya.  Karena itu ibu yang HIV positif jangan menyusui bayinya!.


Bagaimana kita mencegah infeksi HIV pada bayi?

Ibu yang HIV positif dapat mengurangi risiko penularan pada bayinya, dengan:

  • Menggunakan obat Antiretroviral (ARV),
  • Berusaha untuk memperpendek proses persalinan. dan
  • Jangan menyusui bayi dengan ASI

Menggunakan obat ARV: Risiko penularan HIV akan turun dari 20% ke 8% bahkan kurang jika digunakan. Rata-rata penularan akan lebih kurang lagi jika ibu yang HIV positif menggunakan AZT selama 6 bulan terakhir dari kehamilannya, dan bayi yang baru lahir juga menggunakan AZT 6 minggu setelah lahir.

Even if the mother does not take antiviral medications until she is in labor, the transmission rate can be cut by almost half. Two methods have been studied:

  • AZT and 3TC during labor, and for both mother and child for one week after the birth.
  • One dose of nevirapine during labor, and one dose for the newborn, 2 to 3 days after birth.

Although these shorter treatments do not work as well, they are less expensive and might be helpful in developing countries.

Berusaha untuk memperpendek proses persalinan: Risiko penularan akan besar dengan lamanya waktu proses persalinan. Jika ibu yang HIV positif menggunakan AZT dan melahirkan bayinya dengan proses sesar (C-section), dapat mengurangi risiko penularan sebesar 2%.

Jangan menyusui bayi dengan ASI: Sekitar 14% kemungkinan bayi tertular HIV dari ASI ibu yang HIV positif. Risiko ini dapat dihilangkan jika ibu yang HIV positif tidak memberikan ASI kepada bayinya namun memberikan susu formula.

Di negara berkembang dan miskin, banyak masalah timbul terhadap penggunaan susu formula, selain mahal penyajian susu yang menggunakan air yang tidak bersih sering terjadi.  Menurut World Health Organization (WHO) risiko penularan HIV bahkan lebih sedikit ketimbang risiko kesehatan terhadap penggunaan air yang tidak bersih.


Bagaimana kita mengetahui bayi yang baru lahir terinfeksi?

Sebagian besar bayi yang baru lahir dari ibu yang HIV positif akan menunjukan positif pada hasil test HIV. Hasil tes positif berarti orang tersebut memiliki HIV antibody dalam tubuhnya. Bayi mendapat HIV antibody dari ibu yang HIV positif walaupun mereka tidak tertular HIV.

Jika bayi tertular HIV, maka sistem kekebalan tubuhnya akan mulai membentuk antibody. Jika bayi tidak tertular, maka antibody ibunya akan secara gradual akan menghilang dan bayi akan memberikan hasil negatif pada test HIV setelah 6 sampai 12 bulan. 


Bagaimana dengan kesehatan si ibu?

Banyak penelitian menunjukan bahwa ibu hamil yang HIV positif tidak mengalami masalah kesehatan yang melebihi ibu yang tidak hamil. Karena itu, kehamilan tidak menunjukan bahaya bagi kesehatan bagi ibu yang HIV positif.

Jika anda HIV positif dan anda hamil, atau anda ingin hamil, konsultasikanlah dengan dokter tentang pilihan anda untuk ditangani dan mengurangi risiko inveksi HIV atau efek kehamilan tersebut terhadap bayi anda.


Kesimpulan

  • Ibu hamil yang HIV positif harus memikirkan tentang kesehatannya dan kesehatan calon bayinya.
  • Risiko penularan HIV ke janin/bayi dapat dipotong sampai 2% jika ibu hamil yang HIV positif menggunakan AZT selama 6 bulan kehamilannya, melahirkan bayinya dengan proses sesar, dan bayi diberikan AZT selama 6 minggu
  • Kehamilan tidak akan membuat kesehatan ibu yang HIV positif lebih buruk. Bagaimanapun, beberapa obat digunakan untuk mengurangi penularan HIV atau infeksi lainya yang disebabkan oleh proses persalinan. Terutama selama 3 bulan pertama kehamilan, jika ibu yang HIV positif memilih tidak perduli dengan pengobatan selama kehamilan, penyakit yang disebabkan HIV akan bertamabah buruk. 
  • Perempuan yang HIV positif yang akan hamil/ingin hamil harus memperhatikan juga mendiskusikan pilihannya dengan dokter.

 

sumber; New Mexico AIDS InfoNet.