Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Perempuan Meruntuhkan Stigma, Melanjutkan Hidup

Mairinda (26) tidak ingin mengungkapkan kenapa ia terjangkit human immunodeficiency virus. Tetapi ia mengingatkan kepada perempuan lain agar menjaga alat reproduksinya, juga pergaulannya. "Saya berasal dari keluarga baik-baik. Semua terjadi di lingkungan pergaulan," ujar Mairinda.

Mairinda mengetahui dirinya terjangkit human immunodeficiency virus (HIV) sekitar setahun lalu. Mungkin, duganya, awal infeksi terjadi sekitar delapan tahun sebelumnya. Ketika pertama mengetahui dirinya mengidap HIV, ia berusaha menolak kenyataan. Tubuhnya yang dulu berbobot 63 kilogram dan tinggi sekitar 167 cm, sempat menyusut hingga 48 kilogram. Rambutnya rontok, nyaris botak.

Keluarganya sempat tidak mengerti. Semua barang yang dipakai dipisahkan. Namun, setelah mendapat banyak informasi, Mairinda diperlakukan sama seperti saat belum terkena HIV. Sekarang dia merasa keadaan keluarganya jauh lebih baik dari sebelum terkena HIV. Mairinda sekarang sudah mampu berdamai dengan HIV di dalam tubuhnya, perdamaian yang menyulut semangatnya untuk lebih sehat.

Sosok Mairinda kini sama sekali di luar bayangan orang banyak tentang profil orang dengan HIV/acquired immune deficiency syndrome (AIDS) yang kurus, kuyu, dan layu.

Tubuh Mairinda berisi. "Sepertinya (bobot saya) sudah lebih dari 65 kg," ujarnya tersenyum. Rambutnya memang masih tipis, tetapi sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya yang sempat nyaris botak. Kulitnya yang putih sudah tidak mudah luka lagi, meskipun bekas luka masih tampak.

Ia rajin minum obat antiretroviral, diet, dan menjadi vegetarian. "Hanya merokok yang belum bisa saya hentikan," ujarnya. Soal pilihannya untuk menjadi vegetarian, "Ternyata betul kata ibu di zaman dahulu, kalau mau gemuk harus mau makan sayur," ucapnya.

Wajah segar dengan penampilan modis, Mairinda berupaya menunjukkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak selalu sedang menunggu lonceng kematian. Selama hidupnya masih berjalan, ia masih manusia dan berhak menikmati hidup sama seperti orang yang tidak hidup dengan HIV/AIDS.

Mairinda kini menjabat manajer kasus di Bandung Plus Support (BPS), organisasi beranggotakan ODHA. Dari 75 orang yang tercatat di BPS, 12 orang adalah perempuan dan hampir setengahnya ibu rumah tangga. Lima anggota BPS sudah meninggal, satu di antaranya perempuan.

BERSAMA para perempuan dengan HIV/AIDS lainnya, Mairinda meluangkan waktu bersama-sama memecahkan masalah mereka. Berbicara dari hati ke hati, hanya dengan sesama perempuan. Kenapa?

"Banyak hal sulit dibicarakan oleh perempuan bersama lelaki. Misalnya masalah alat reproduksi," kata Mairinda. Dalam pertemuan tertutup itu, salah satu topik bahasan adalah bagaimana melakukan hubungan seksual, bagaimana perempuan dengan HIV/AIDS bisa punya anak, apa yang harus mereka lakukan jika hamil dan menyusui, dokter mana yang bisa mereka datangi untuk membantu mereka mengatasi keluhan.

Namun, pertemuan itu tidak hanya membahas hal sulit yang mereka hadapi. "Kami juga bicara soal fashion terbaru," kata Mairinda. Obrolan semacam itu menguatkan mereka bahwa mereka berhak merasakan segala hal yang menyenangkan, tidak melulu berkutat dengan kekhawatiran hidup bersama virus yang belum ditemukan obatnya.

Meski demikian, Mairinda tidak memungkiri bahwa pertanyaan tentang hidup seorang perempuan terus mengisi benaknya. "Apakah saya bisa pacaran? Kalaupun bisa, apakah bisa menikah? Lalu, apa bisa saya memiliki anak?"

Kegelisahan ini dipertanyakan Mairinda di hadapan hadirin Malam Renungan AIDS yang diselenggarakan Institut Perempuan dan United Nations Children’s Fund (Unicef) Jawa Barat di Aula Centre Culturel Français (CCF), Rabu (1/12/4).

Tidak hanya itu, perempuan dengan HIV/AIDS pun harus meruntuhkan stigma masyarakat yang masih memandang perempuan dengan HIV/AIDS bukan perempuan baik-baik. Padahal, makin banyak perempuan tertular HIV/AIDS dari suami mereka yang pengguna narkoba dengan jarum suntik atau sering berganti pasangan.

"Perempuan dan anak perempuan tidak memiliki posisi tawar dengan pasangannya dan orang dewasa. Terbukti tidak sedikit ODHA adalah istri yang setia dengan satu pasangan," ujar Valentina Sagala, Direktur Eksekutif Institut Perempuan.

PADA tahun 2005, pengidap HIV/AIDS di Indonesia diperkirakan akan mencapai satu juta orang dengan prevalensi 0,53 kasus per 100.000 penduduk. Rasio antara laki-laki dan perempuan adalah 7 : 2. Meski demikian, perempuan adalah kelompok yang rentan terinfeksi HIV/AIDS. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah penderita baru HIV/AIDS dan terbanyak di dunia adalah perempuan.

"Perempuan yang mengalami kekerasan lebih rentan menderita HIV/AIDS," ujar Valentina. Penyebabnya, hubungan seksual diikuti kekerasan bisa menimbulkan luka pada alat reproduksi perempuan. Jika perempuan tersebut melakukan hubungan dengan lelaki pengidap HIV/AIDS, kemungkinan terinfeksi akan makin tinggi.

Penyebab penularan HIV/AIDS di Indonesia antara lain hubungan seksual dengan pasangan heteroseksual, jarum suntik, hubungan homoseksual, dan perinatal.

Kasus HIV/AIDS terbanyak terdapat di Jakarta, Papua, Jawa Timur, Riau, dan Jawa Barat (Jabar). Menurut data Dinas Kesehatan Jabar, dari 1989 hingga September 2004, jumlah penderita HIV/AIDS di Jabar berjumlah 967 orang. Pengidap AIDS 92 orang dan HIV positif 875 orang.

Kasus terbanyak terdapat di Kota Bandung. Jumlah pengidap HIV positif sebanyak 297 orang dan AIDS sebanyak 56 orang. Di Jabar, hingga September 2004, kasus AIDS dialami 13 persen perempuan dan HIV positif oleh 12,5 persen perempuan.

Menurut faktor risiko di Jabar, penularan didapat dari penggunaan jarum suntik bersama-sama para pengguna obat-obatan (60 persen), sisanya antara lain karena hubungan heteroseksual dan hubungan homoseksual.

Menurut Fatima Resmiati, Kepala Subdinas Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, Pemerintah Provinsi Jabar telah mengupayakan pengobatan HIV/AIDS dengan pemberian ARV pada 100 ODHA pada tahun 2004. Tahun ini, targetnya ditingkatkan menjadi 200 orang.

Menurut Mairinda, kini cukup banyak dokter di Bandung yang bisa membantu ODHA yang mengalami keluhan. Namun, tampaknya keinginan memiliki anak masih jauh dari angan-angan jika pemerintah tidak ikut terlibat menyediakan fasilitas kesehatan yang murah untuk penanganan kehamilan hingga kelahiran perempuan dengan HIV/AIDS.

"Penanganan kelahiran bagi penderita HIV/AIDS yang teraman adalah dengan bedah caesar. Namun, peralatannya harus sekali pakai. Pasti biayanya sangat mahal. Padahal, ada juga perempuan dengan HIV/AIDS yang berasal dari golongan masyarakat marjinal," ujar Mairinda.

Ketika bayi lahir, tidak bisa disusui ibunya sehingga harus menggunakan susu formula. Kasus ini terjadi pada pasien di puskesmas Jalan Salam, Bandung. Sepasang suami-istri pengidap HIV/AIDS dari golongan marjinal berhasil memiliki anak.

"Pihak puskesmas berusaha mencari bantuan susu formula dari institusi swasta. Beruntung kami mendapatkan, tetapi hanya untuk enam bulan. Setelah itu, kami belum tahu lagi dari mana akan mendapat sponsor," kata dr Sonny Sondari, kepala puskesmas. (Y09)

sumber: Harian Kompas, Senin, 30 Mei 2005